Mukena Merah Muda

Mukena Merah Muda
Draft


__ADS_3

"Karin, jawab dong. Kamu mau jadi menantu Mama." Tanya Mama Dina dengan memegang tangan Karina.


"Karin... "


Karina takut ingin melanjutkan ucapannya semua mata menuju ke arahnya.


"Karin, kamu ragu ya untuk menjadi istri Gama."


"Apa Karin pantas Tante menjadi istri Mas Gama."


"Kenapa kamu tanya begitu, Gama itu sudah cerita semuanya tentang kamu, keluarga kamu dan Dia sangat cinta sama kamu. Sampai Dia rela melepaskan..."


"Ma.."


Gama langsung memotong pembicaraan Mamanya soal beasiswa itu.


"Karin, minta maaf Tante."


Karin langsung tanggap maksud dari Mama Dina.


"Gama itu sayang banget sama kamu Karin, bahkan sekarang dia bisa berubah begitu mengenal kamu."


"Mas Gama galak Mbak "


Celetuk Tika.


"Tika, sekarang kan sudah berubah."


"Iya, aneh sekarang Mas Gama jadi sok manis." Ledek Tika dengan mencibirkan bibirnya.


"Gimana Karin, kamu mau kan jadi menantu Tante."


Karina memandang Mama Dina lalu bergantian ke arah Gama kemudian dia menunduk dan menganggukkan kepalanya, namun bisa dilihat oleh semuanya. Apalagi Gama yang langsung senang dan tersenyum lebar ke arah Karina.


"Kamu kenapa Gama." Tanya Mamanya.


"Gama seneng Ma, kapan ke rumah Budenya Karina Ma."


"Emang Karina mau jadi istri kamu, dia kan maunya jadi menantu Mama." Goda Mama Dina.


"Apalah Ma, yang penting Gama seneng. Yes...yes.. Makasih Sayang."


Karina langsung memerah mukanya, mendengar ucapan Sayang dari Gama.


"Sayang, sayang aja kamu. Lamar dulu anak orang."


Goda Papa Eko dan merengkuh pundak Gama.


"Ayo Pa, kapan."


"Sabar, kenapa kamu ngebet banget."


"Udah nggak sabar Pa mau halalin Karina takut khilaf kalau lama-lama." Ucapnya sambil tersenyum ke arah Karina.


"Awas kalau kamu macam-macam ya."

__ADS_1


"He he he.. Canda Pa."


"Karin, nanti kamu bicara dulu sama bude ya. Bilang kalau kita mau kesana."


Pinta Mama Dina.


"Iya Tante."


"Jangan Tante dong panggilnya, Mama kayak Gama kalau manggil."


Karina memandang ke arah Gama yang tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Mama ya."


Karina cengar-cengir sendiri.


"Iya panggil Mama, Risa juga ya."


Pinta Mama Dina kepada Risa.


"Siap Ma."


Ucap Risa semangat.


Hari makin larut Karina dan Risa berpamitan pulang dan diantar Gama.


"Hati-hati Gama bawa calon mantu Mama." Pesan Mama Dina.


"Tenang aja Ma, aman."


"Langsung pulang kamu jangan mampir sudah malam." Peringat Papanya.


"Iya Pa, khawatir banget deh."


"Kamu itu bahaya kalau dekat sama Karina."


"He he he.."


Gama malah cengengesan.


Karina sangat bersyukur sekali di dalam hati ternyata keluarga Gama bisa menerimanya dengan Risa juga.


"Mas.."


Gama yang sedang menyetir melirik ke samping.


"Kenapa Sayang."


Jawabnya dengan tersenyum, Risa yang ada di jok belakang hanya memperhatikan mereka berdua.


"Makasih, karena nggak menyangka mama sama papa baik banget sama Karin sama Risa juga."


Gama tersenyum sambil fokus menyetir sesekali melirik ke arah Karina.


"Mas sudah pernah bilang sama kamu, kalau Mama sama Papa itu mau ketemu sama kamu. Mereka sudah nggak sabar mau mengenal calon menantunya."

__ADS_1


Goda Gama sambil tersenyum.


"Karin merasa minder aja Mas, kalau ada di samping Mas Gama. Kayaknya masih banyak perempuan yang lebih pantas mendampingi Mas Gama."


Karina menatap ke depan.


"Mas mau nya kamu yang mendampingi hari-hari Mas sampai tua nanti. Memang menurut kamu siapa yang lebih pantas dari kamu."


Karin menatap ke sosok laki-laki yang ada di sampingnya.


"Seperti Dokter kemarin yang pergi sama Mas."


Gama menghembuskan nafasnya, dia baru teringat belum menjelaskan kejadian waktu itu.


"Maaf ya Sayang, Mas waktu itu memang tidak cerita sama kamu kalau perginya sama dokter Susan. Tapi, kamu percaya kan sama mas kita berdua itu cuman tekan kerja."


Karina mendengarkan penjelasan dari Gama.


"Waktu itu tidak ada rencana untuk pergi bareng apalagi satu mobil menggunakan mobil Mas. Susan waktu itu bilangnya mau bawa mobil sendiri tapi entah kenapa esok harinya katanya mobilnya di bengkel ya terpaksa kita harus berangkat bareng."


"Tapi dia senang banget lo Mas pergi sama Mas Gama."


Gama malah tersenyum.


"Kamu cemburu sayang, Mas janji lain kali mau ke manapun sama siapapun akan laporan sama calon istri ku. Takut kepergok lagi kayak kemarin pergi sama cewek malah bikin calon istriku marah."


"Hi hi hi..."


Terdengar tawa Risa yang ditahan mendengar kedua kakaknya berdebat.


"Kamu kenapa Dek."


"Pantesan berarti kemarin itu Mbak Karin cemburu tho. Ha ha ha.. pantesan mukanya ditekuk aja di rumah."


Risa membocorkannya kepada Gama membuat Karina melotot menatapnya.


"Kenapa cerita sih."


Sangkal Karina yang malah membuat Gama tersenyum senang.


"Jadi ada yang cemburu, berati cinta dong." Ledek Gama.


"Cinta Lah..., mana mungkin kalau nggak cinta sampai cemburu."


Tambah Risa, Karina makin tersudut saja karena ledekan mereka berdua.


"Mas seneng deh Sayang, makasih ya udah cinta sama Mas."


Gama bilang begitu dengan lembut sambil melirik ke arah Karina yang membuang mukanya ke samping.


"Nggak usah jual mahal kali, bilang aja cinta... aku nggak mau kehilanganmu."


Ledek Risa dengan nada menyindir.


Karina diam saja dia nggak berani menatap ke arah ke tersenyum-senyum senang..

__ADS_1


🀩🀩🀩🀩


__ADS_2