
Sudah 40 hari Bapak Heri meninggalkan Karina dan Risa. Baru saja acara pengajian selesai yang di hadiri oleh saudara dan keluarga dan teman dekat.
Malam ini Dokter Gama menyempatkan diri untuk ikut hadir di rumah Karina ikut mengirimkan doa untuk Bapak Heri.
"Karin.."
Panggil Anggun yang selalu ada di dekat temannya itu.
"Iya, Gun kenapa."
"Mas Gama dari tadi lihat ke arah kamu deh."
Karin menoleh ke arah Gama yang sedang ngobrol dengan Lukman.
"Anggun, kamu itu sukanya begitu. Perasaan Mas Gama biasa aja deh."
"Karin, Kamu apa nggak bisa merasakan perhatian dia tuh sama kamu beda."
"Anggun.." Karina tersenyum saja.
"Iya aku tau, tapi kan nggak ada yang nggak mungkin. kalau beneran Mas Gama suka sama kamu gimana."
Karina sudah bercerita tentang dirinya dan Dokter Gama, dirinya tidak ingin menganggap perhatian dari Dokter Gama itu lebih karena takut sakit. Dunia mereka berbeda itu yang selalu dikatakan Karina bagaikan langit dan bumi.
"Aku nggak mau berharap sesuatu yang nggak memungkinkan Gun."
"Karin, nggak ada salahnya kamu sama Mas Gama."
"Udah Gun, Dia kesini itu."
Karina berhenti bicara saat melihat Gama berjalan menuju ke arahnya.
"Karin."
"Iya Mas, sebelumnya saya mengucapkan banyak terima kasih karena Mas Gama sudah menyempatkan waktunya untuk ikut mendoakan Bapak."
Gama tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Sama - sama Karina, aku boleh minta waktunya sebentar."
Anggun menyenggol lengan dari Karina.
"Ada apa ya Mas."
"Kita bicara di sana."
Karina menganggukkan kepalanya lalu menuju ke arah yang ditunjuk oleh Gama.
Mereka berdua duduk di kursi yang agak jauh dari orang.
"Maaf sebelumnya, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan sama Kamu."
"Iya Mas, soal apa."
"Soal pesan Bapak Heri sama Saya sebelum beliau menghembuskan nafas terakhirnya."
Karina sudah paham ke mana arah pembicaraan dari Gama tapi dia menunggu biar Dia bicara dulu.
"Bapak Heri sebelum meninggal pernah berpesan kepada saya dan mungkin Karin juga masih mengingatnya."
Karina menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Iya Saya masih mengingatnya Mas. Saya minta maaf Mas, jika pesan itu membuat beban pikiran buat Mas Gama. Sebenarnya pesan itu ditujukan untuk saya, supaya saya dan Risa berhati-hati setelah Bapak pergi. Bukan maksud dari Bapak juga untuk menjadi tanggung jawab Mas Gama menjaga saya dan Risa."
Karina langsung bicara apa yang ada di benak pikirannya.
"Bukan begitu maksud saya Karin. Saya ingin menjalankan pesan dari Bapak Heri."
Karina tercengang mendengar Gama bicara begitu.
"Maksudnya Mas Gama?."
"Saya mau menjaga kamu Karin dan juga Risa. Saya ingin melindungi kamu menggantikan Bapak Heri, walaupun saya nggak mungkin akan sebaik Bapak Heri menjaga kalian."
"Mas, kami bukan keluarga Mas Gama. Kita hanya dokter dan pasien tidak seharusnya ini menjadi tanggung jawab Dokter Gama terhadap saya dan Risa."
"Karin mungkin ini memang waktu yang kurang tepat untuk mengatakannya, tapi saya mau jujur sama kamu Saya jatuh cinta sama kamu. Mau kah kamu membangun keluarga bersama saya."
Karin terdiam tak tahu harus berkata apa. Dia memejamkan matanya lalu menghirup nafas sedalam-dalamnya dan mengeluarkannya.
"Maaf Mas, Saya belum bisa menjawabnya, dan bisa berpikir ke sana."
Gama memang agak kecewa mendapatkan respon begitu dari Karina.
"Saya akan menunggu kamu Karin, dan saya serius dengan apa yang barusan saya ucapkan."
"Mas, terima kasih sebelumnya atas niat baik dari Mas Gama untuk menjalankan pesan Bapak tetapi jangan menjadi sebuah beban juga untuk Mas Gama tetap menjalankan pesan dari Bapak."
Kata Karina sambil menatap ke arah Gama.
"Saya berkata jujur Karin, saya sebenarnya sudah jatuh cinta sama kamu jauh sebelum mendapatkan pesan dari Bapak untuk menjaga kamu."
Karina nampak tak percaya Gama bicara begitu, kapan mereka bertemu selain di rumah sakit sebagai Dokter dan pasien.
"Saya sudah suka sama kamu sebelum saya tahu jika kamu itu anak dari pasien Saya."
Karina ingin bertanya namun diurungkannya mendengar Lukman memanggil.
"Bro... Pulang nggak."
Teriak Lukman yang sudah mau balik sama keluarganya.
Gama memberikan jempolnya.
"Karin, gak usah terlalu dipikirkan dulu. Kita jalani saja dan Saya buktikan jika saya benar jatuh cinta sama kamu dan bukan karena hanya ingin sekedar mewujudkan pesan dari Bapak Heri." Kata Gama sambil tersenyum dan Karina hanya terdiam.
"Saya pamit ya Karin, jaga diri di rumah jangan lupa mengunci rumah kalau tidur."
"Makasih Mas."
Ucap Karina membuat senyum Gama lebih lebar lagi.
"Terdengar merdu banget, makasih ya." ucap Gama.
Lalu Karina menghampiri Anggun bersama keluarganya yang ingin pamit pulang.
"Makasih banyak Tante, Om, Kak Lukman dan Anggun maaf Karina selalu merepotkan."
"Karina, kamu sama sekali tidak merepotkan kita. Kalau merasa sepi di rumah jangan sungkan ya nanti menginap di rumah Tante sama Risa."
"Iya Tante, makasih banyak."
Karina meraih tangan Mama dan Papanya Anggun kemudian mencium punggung tangannya.
__ADS_1
"Karin, hati-hati sama cowok itu."
Ledek Lukman dan Gama senyum saja yang menjadi sasaran.
"Ayo Bro kita pulang, kamu mau dinikahin sekarang sama warga kampung Kalau di sini terus." ledek Lukman.
"Mau aja." jawabnya santai.
"Kamu Gama, maunya kayak gitu. Ayo pulang." Papanya Anggun merangkulnya mengajaknya pulang.
"Iya Om, ini juga mau pulang."
"Hati-hati ya Karin di rumah jangan lupa pintunya dikunci."
Pesan Gama lagi.
"Iya Mas, makasih."
"Cie..... Mas.. Ha ha ha..."
Ledek Anggun dan Lukman kompak.
Karina memerah pipinya karena diledekin mereka berdua. Risa juga tak lupa berpamitan dengan mereka semua mengucapkan terima kasih.
Setelah mobil mereka semua pergi Karina dan Risa isa masuk ke dalam rumah.
"Mbak..."
Panggil Risa.
"Hmm... Kenapa."
Karina membersihkan gelas dan piring.
"Mas Gama, suka itu sama Mbak Karin."
"Tau darimana."
Karina tidak melihat ke arah Risa dia yang masih membereskan gelas.
"Aku denger sendiri saat kak Lukman ngobrol sama Mas Gama."
Karina berhenti mencuci gelas dan menatap Risa.
"Mereka bicara apa."
Penasaran juga Karina.
"Mas Gama disuruh jujur sama Kak Lukman untuk ngomong sama kamu mbak kalau dia udah jatuh cinta sama Mbak Karin."
Nampak Karin menyembunyikan senyumnya lalu melanjutkan mencuci gelas.
"Mas Gama udah nembak ya mbak, tadi pas ngobrol di bawah pohon.?"
Risa Kepo.
"Anak kecil mau tau aja."
"Itu senyum - senyum sendiri, wah.. Mbak jatuh cinta juga ya...."
🤣🤣🤣🤣
__ADS_1
Gimana nih lanjuttt....