
Karina menunduk saja dan tangannya masih di genggaman Gama dengan erat.
"Kita jalan kaki saja ya."
Ucap Gama sambil menatap Karina yang sekilas menatapnya balik sambil menganggukkan kepalanya.
"Mau makan apa."
Mereka berjalan menyusuri trotoar sambil menikmati malam untuk menghilangkan rasa takut Karina setelah kejadian barusan.
"Apa saja Mas."
"Nggak ada yang jual apa aja Karin. Adanya nasi goreng, mie goreng, kuah, atau angkringan itu."
Canda Gama, sengaja dia ingin membuat Karina tersenyum.
"Ikut Mas Gama aja."
Ucap Karina datar dan sedikit sudut bibirnya terangkat.
"Lebar lagi dong senyumnya, Sayang."
Gama tersenyum sambil menatap Karina dengan lekat dan menarik tangan Karina membuatnya berhenti melangkah.
Malu-malu Karina menampakkan senyumnya walaupun kembali menundukkan kepalanya.
"Gemes kamu Sayang, pingin Mas bawa pulang aja. Mau nggak.?"
Goda Gama membuat wajah Karina memerah.
"Nggak mau."
Ucap Karina dengan memajukan bibirnya.
"He he he... tapi nanti kalau sudah jadi istri harus ikut Mas."
Karina tersenyum pipinya memerah.
"Kita ke sini aja ya."
Gama membawa Karina ke tempat nasi goreng kemarin.
"Iya Mas."
"Kamu mau nasi atau mie."
Tanya Gama dengan memandang Karina.
"Mau mie goreng."
"Oke."
Gama memesan lalu mengajak Karina duduk.
"Duduk Karin."
Gama menarik kursi namun tangannya masih menggenggam erat tangan Karina.
"Lepas Mas, gimana duduknya."
__ADS_1
Karina menunjuk tangannya.
Gama malah tersenyum.
"Boleh nggak gini terus."
"Nggak boleh, lepasin Mas."
"Oke, bentar lagi ya. Duduk aja masih bisa kok sambil pegangan."
Gama malah duduk di kursi sampingnya Karina.
"Ayo duduk dulu Sayang "
Karina masih berdiri saja.
"Karina duduk lepasin ya Mas."
Gama tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Karina pun lalu duduk di kursi yang disiapkan oleh Gama.
"Mas..."
Karina memberi kode ke arah tangannya yang masih saja di genggaman Gama.
"He he he .. Iya Sayang."
Gama dengan berat melepaskan genggamannya di tangan Karina.
"Sayang..."
"Sayang, hadap sini dong."
Gama menyelami wajah Karina yang malu-malu dan akhirnya Karina menoleh.
"Kamu nggak papa kan Sayang?. Gak diapa-apakan sama si kupret tadi."
Karina menggelengkan kepalanya.
"Tadi dia ngapain."
"Mau minta nomer hp ku."
"kamu kasih.?"
Karina menggelengkan kepalanya dan Gama tersenyum.
"Bagus Sayang, nggak usah dikasih."
"Iya Mas."
"Kamu tenang aja, Mas nggak main-main sama ancaman tadi."
Karina menatap Gama.
"Kenapa lihatin gitu Sayang."
"Karin takut Mas, kalau dia datang lagi."
__ADS_1
"Kamu sendirian ya jaga toko, minta sama Mbak Desi untuk istirahat di dalam aja nemenin kamu."
"Iya Mas."
"Atau mungkin Sayang mau..."
Gama menghentikan ucapannya.
"Mau apa Mas."
Gama tersenyum.
"Kamu mau keluar kerja Mas siap membiayai kamu sama Risa."
Karina menggelengkan kepalanya, dia merasa tidak enak.
"Nggak Mas, Karin nggak mau merepotkan."
"Mas kan calon suami kamu, Mas siap menanggung semuanya."
"Maaf Mas bukan Karina tidak menghargai Mas Gama tetapi biar Karina berusaha sendiri menyelesaikan ini semuanya. Karina masih sanggup Mas berusaha, insyaallah ada jalan."
Gama menatapnya sayu lalu tersenyumlah dia sambil mengusap kepala Karina yang tertutup hijab.
"Mas bangga sama kamu. Kalau butuh apapun jangan sungkan bilang sama Mas ya."
Karina tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Makan dulu sayang."
Pesanan mereka datang dan siap disantap.
"Besok ikut Mas ya."
Pinta Gama selesai makan.
"Kemana Mas."
Gama tersenyum dan menunjukan layar ponselnya.
"Ketemu Mamanya Mas Gama."
Karina melihat isi pesan dari Mama Dina yang meminta Gama membawa Karin kepadanya.
Gama tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Sama Risa diajak."
"Karin takut Mas."
"Ini Mama lho yang minta, kamu nggak mau mengecewakan Mama kan.?"
Karina menganggukkan kepalanya.
"Oke, besok Mas jemput."
Karina tersenyum namun di dalam hatinya merasa khawatir bagaimana nanti tanggapan keluarga Gama.
π€©π€©π€©π€©π€©π€©
__ADS_1