Mukena Merah Muda

Mukena Merah Muda
MMM #34


__ADS_3

Setelah pembicaraan perihal perasaan Mereka, Karina masih menata hatinya untuk siap bertemu dengan kedua orang tua Gama dan itu bukan masalah yang besar Gama akan menunggu Karina siap.


"Karin.."


Panggil Anggun yang melihat Karina berjalan sendiri ke arah ruangan.


Karina berhenti dan menengok ke belakang.


"Kirain kamu udah di dalam."


"Kesiangan aku, oh ya.. Si Intan tadi malam dibawa ke rumah sakit ntar jenguk yuk di rumah sakit itu Mas Gama tugas."


"Hari ini.?"


"Iya, kan kuliahnya cuman satu mata kuliah aja terus nanti kita ke rumah sakit. Jadi kamu tenang aja nggak akan telat kerja."


"Oke."


Mereka berdua lalu menuju ke ruangan karena sebentar lagi dosen akan masuk.


"Kamu nggak ngabarin Mas Gama kalau mau ke rumah sakit."


Tanya Anggun saat Mereka sudah menyelesaikan mata kuliah dan bersiap untuk menjenguk temannya.


"Mas Gama hari ini sibuk, katanya ada seminar di rumah sakit lain."


Ucap Karina sambil tersenyum karena tadi pagi sudah dipamiti oleh Gama.


"Mas Lukman tadi masih di rumah, apa nggak ikut seminar ya."


"Mungkin saja, kan beda departemennya Mas Gama sama kak Lukman."


"Iya.. Ya.. Yuk Karin bawa sepeda motor kamu aja ya nanti pulangnya aku naik ojol aja kalau kamu mau jemput Karina."


"Gampang, nanti aku anterin dulu kamu pulang juga nggak apa-apa."


"Nggak usah repot-repot, bisa telat kerja nanti kamu siang."


Mereka berdua kejadian menuju ke parkiran untuk mengambil sepeda motor Karina lalu melajukannya ke arah rumah sakit.


"Beneran kamu nggak kasih kabar Mas Gama.?"


Karin tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Nanti malah kepikiran Mas Gama."


Mereka berdua menuju ke ruangan dimana temannya di rawat.


Sekitar setengah jam mengobrol Karina dan Anggun pun berpamitan karena hari juga sudah semakin siang dan Karina harus menjemput Risa.


"Kamu kenapa Karin.?"


Karina terdiam begitu melewati sebuah ruangan yang dulu untuk merawat Bapaknya.


"Karin jadi ingat Bapak."


Matanya nanar menatap ranjang yang dulu digunakan untuk Bapaknya.

__ADS_1


"Kirimkan doa untuk Bapak Karin."


Ucap Anggun sambil mengusap pundak Karina.


"Ayo Karin."


Anggun mengapit tangan Karina dan mereka berjalan menuju ke parkiran.


Melewati lorong rumah sakit Karina seperti bernostalgia mengenang almarhum Bapaknya.


"Karin.."


Anggun menarik lengan Karina yang membuatnya terkejut.


"Kenapa Gun."


"Lihat mobil siapa itu."


Anggun mengarahkan pandangannya ke arah mobil yang baru saja datang dan terparkir.


"Kalau jodoh memang begitu ya, nggak disengaja pun bertemu."


Karina tersenyum begitu melihat mobil itu.


"Cie.. Samperin sana."


"Tunggu sini aja Gun, nanti Mas Gama juga melihat."


Mobil itu telah berhenti sempurna, pintu mobil sebelah pengemudi pun terbuka.


"Karin..."


Gama pun langsung bisa melihat Karina yang berdiri tak jauh dari mobilnya yang baru saja turun dari tangga.


"Ngapain kesini, kok nggak ngabarin Mas."


Gama mendekati Karina dan Anggun yang diam berdiri menatapnya.


Karina dan Anggun malah melihat ke arah mobil Gama yang pintu depan sebelah yang terbuka kembali nampak seseorang turun dari sana.


"Siapa Mereka Dok.?"


Karina menatap perempuan yang terlihat seksi dan cantik itu turun dari mobilnya Gama lalu mendekati Gama yang sedang bicara dengan Karina dan Anggun.


"Ini..."


"Kita jenguk teman yang sakit di sini."


Jawab Karina dan raut mukanya sudah berubah semenjak melihat Susan turun dari mobil Gama.


Anggun bisa membaca raut wajah Karina yang cemburu dan tak suka ada perempuan berpakaian seksi turun dari mobil Gama.


"Kita permisi."


Karina menarik tangan Anggun untuk mengikutinya.


"Karin..."

__ADS_1


Gama mengikutinya, Susan hanya memandang Gama yang berlari mengejar Karina.


Gama berhasil menghentikan langkah Karina dan Anggun dengan menghadangnya didepan.


"Karin, tunggu dulu. Kita makan siang dulu yuk mumpung kamu kesini."


"Karin buru-buru mau jemput Risa."


Gama merasa Karina bicaranya tak seperti biasanya.


Karina menghindari Gama dan melangkah kembali sedangkan Anggun mengikutinya saja.


"Karin... Mas bisa jelasin, Mas cuma pergi seminar aja. Dokter Susan teman kerja Mas saja."


"Maaf Mas, Karin buru-buru."


Karina naik ke atas motornya diikuti Anggun.


"Karin, Mas nggak ada hubungan apa-apa sama Dokter Susan."


"Kita pulang dulu ya Mas, nanti Anggun yang bicara ya."


Karina menjalankan sepeda motornya meninggalkan Gama yang masih menatapnya.


"Karin, aku ikut ke sekolah Risa ya nanti aku cari ojol disana aja."


"Iya Gun."


Anggun tau Karina menahan tangisnya dan juga rasa kecewanya karena Gama tak jujur pergi sama perempuan.


Sesampainya di sekolahan Risa, Anggun turun dan mereka menunggu sebentar sebelum jam pulang sekolah tiba.


"Maaf ya Gun, sampai sini kamu."


"Nggak papa Karin tenang aja. Aku khawatir sama kamu bawa motor sendiri."


"Aku nggak papa Gun."


Karina menahan tangisnya.


"Kenapa kamu nggak dengerin penjelasan Mas Gama tadi."


Anggun pelan sekali bicaranya takut menyinggung Karina.


Karina diam saja dan menunduk.


"Bener kan Gun, aku nggak pantas buat Mas Gama. Mereka terlihat serasi Gun, cewek itu cantik sepadan sama Mas Gama."


"Karin cantikan kamu."


Karina hanya menunduk dan air matanya tak tertahan lagi.


Anggun mengusap pundak Karina.


"Sabar Karin..."


πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰

__ADS_1


__ADS_2