Mukena Merah Muda

Mukena Merah Muda
MMM #44


__ADS_3

"Karin, jadi pengajuan judul kamu."


Tanya Anggun setelah selesai mata kuliah pertama.


Karina menggelengkan kepalanya.


"Masih bingung aku Gun."


"Itu judul kamu sudah bagus lho, kurang apa lagi."


Anggun melihat hasil cetak usulan proposal milik Karina.


"Aku masih butuh beberapa referensi untuk menguatkan latar belakang nya."


Anggun membuka-buka kertas itu sambil menganggukkan kepalanya.


"Sempurna ini Karin, kurang bagaimana lagi sih."


"Kurang ngena aja, aku mau cari buku lagi mumpung besok libur nggak kerja."


"Boleh juga, lama ya nggak jalan. Kamu sama siapa pergi."


Tanya Anggun sambil menatap ke arah Karina.


"Sama kamu lah, mau sama siapa Risa juga sekolah."


"Nggak sama Si Bambang Tampan calon suami idaman kamu, ha ha ha..."


Ledek Anggun dan Karina memanyunkan bibirnya ke depan.


"Kamu kayak nggak hafal aja sama mas Gama, si....buk... Anggun."


Karina sebenarnya juga ingin jalan-jalan diantar sama Gama tapi gimana lagi calon suaminya itu sangat sibuk sekali.


"Ha ha ha.. Masa iya nggak ada waktu buat kalian berduaan."


"Aku nggak pernah minta untuk berduaan Gun, paling ya Mas Gama sering mampir ke tempat kerja."


"Jalan berdua.???"


"Ya kalau Mas Gama ada kesempatan ngajak makan aja."


"Kamu nggak protes sama kesibukannya Mas Gama."


Karina menggelengkan kepalanya.


"Buat apa, begitu malah jauh lebih baik Gun menghindarkan dosa."


"Kalian itu aneh yang satu sibuk banget yang satu lagi terima apa adanya."


Karina tersenyum saja sambil membereskan peralatan tulisnya.


"Udah aku pulang dulu ya, besok aku ke rumahmu setelah mengantar Risa sekolah." pesan Karina.


"Oke..."


Seperti biasa setelah menjemput Risa di sekolahan karina langsung pulang dan memasak setelah itu berangkat kerja.


"Mbak, nggak diantar lagi sama Mas Gama."


"Nggak, Mbak mau berangkat sendiri aja pakai motor."


Jawab Karina sambil bersiap-siap ingin berangkat kerja.


"Ha ha ha.. Trauma ya nggak dijemput lagi sama Mas Gama."

__ADS_1


"Ishh.. Udah Mbak berangkat ya."


"Hati-hati Mbak."


"Ya, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Karina menarik pedal gas sepeda motornya meninggalkan rumah menuju ke toko.


Sesampainya di sana dia langsung bersiap untuk menggantikan temannya yang sudah bekerja dari pagi.


"Semalam di jemput Dia nyusul kamu nggak Karin."


Tanya Desi yang semalam juga menemaninya sampai datangnya Risa.


Karina menganggukkan kepalanya.


"Nyusul ke sini."


"Katanya Mas Gama nyari aku ke sini Mbak, lalu karena udah sepi terus dia ke rumah untuk memastikan kalau aku udah di rumah."


Desi tersenyum saja.


"Katanya kenapa nggak jadi jemput kamu nggak bisa dihubungin juga."


"Ada operasi mendadak Mbak, jadi dia harus turun ke ruangan operasi dan nggak sempat mau ngabarin Karin."


Karina dan Desi melayani pembeli dengan sepenuh hati hingga Maghrib sebentar lagi menjelang.


"Karin, siapa itu yang datang."


Desi yang baru saja dari luar masuk ke dalam toko dan memberitahu ada seseorang yang datang kepada Karina.


Karina melihat ke arah luar ada sebuah mobil yang tidak asing bagi dirinya.


"Assalamualaikum."


Ucapnya dan di jawab Desi dan Karina bersamaan.


"Waalaikumsalam."


Karina tersenyum melihat Gama berjalan mendekat ke arahnya.


"Hai Mas Dokter, lama nggak ke sini."


Desi bisa aja menyindir Gama.


Gama hanya tersenyum saja ke arah Desi.


"Sayang, udah makan.?"


Tanyanya ke Karina.


"Belum Mas, Mas baru pulang dari rumah sakit."


Gama tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Iya Sayang."


Adzan Maghrib berkumandang dan Gama pergi ke masjid sendiri soalnya Karina lagi nggak sholat.


Selesai dari masjid Gama mengajak Karina makan sebentar di dekat toko Situ aja.


"Sayang besok ada acara."

__ADS_1


Tanya Gama setelah menghabiskan makanannya.


"Kenapa Mas.?"


"Mama mau ketemu sama kamu Sayang dan Risa, kamu liburkan besok kerjanya.?"


Karina menganggukkan kepalanya.


"Mama kenapa nggak sakit kan Mas.?"


"Nggak Sayang, katanya mau ngajak kamu masak Tika kan lagi nggak di rumah ada studi banding sepi sendirian di rumah."


"Hmmm.. Karin, besok mau cari buku sama Anggun."


Gama menatapnya, ada rasa bersalah di dalam dirinya yang selalu sibuk tidak meluangkan waktu untuk Karina.


"Jam berapa.?"


"Setelah mengantar Risa ke sekolah Karin ke rumah Anggun Mas."


"Pergi sama Mas aja ya, nanti Mas jemput pagi."


Karina menatap ke arah Gama, dia nggak salah dengarkan Gama bicara begitu.


"Nggak usah Mas."


Karin menundukkan kepalanya lagi sambil menghabiskan minumannya.


Gama menghela nafasnya.


"Sayang maaf."


Karina mengerutkan dahinya, kenapa Gama meminta maaf kepadanya.


"Kenapa Mas minta maaf."


"Mas merasa nggak pernah punya waktu untuk kamu, hanya sekedar mengantar kamu saja atau menemani kamu mencari sesuatu Mas aja nggak sempet."


"Karin nggak papa Mas, Karin sama Anggun aja bisa kok."


Karina memang bicara seperti itu tetapi dalam hatinya juga ada rasa ingin pergi ditemani sama Gama namun tak memaksakan juga.


"Sayang, besok cari buku sama Mas ya. Pagi Mas jemput sekalian antar Risa."


"Mas nggak ke rumah sakit.?"


Gama tersenyum.


"Ada sedikit kerjaan di rumah sakit, kamu nanti ikut Mas sebentar setelah itu Mas temani kamu nyari buku."


Karina melongo aja, masa iya dia harus ikut ke rumah sakit.


"Mas ke rumah sakit aja, Karin tunggu dirumah."


"Nggak Sayang, kamu pagi ikut Mas dulu. Mas takut kalau kamu nanti tunggu di rumah nggak jadi lagi. Mas merasa bersalah sama kamu."


"Karin nggak papa Mas, Karin sama Anggun aja juga nggak papa kalau Mas Gama sibuk."


"Sayang, please.. Mas mau menebus kesalahan Mas kemarin."


Mohon Gama dengan iba supaya iyakan sama Karina.


πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰


Kira-kira gimana nantinya....

__ADS_1


🀩🀩🀩


__ADS_2