
"Karin, tunggu Mas."
Gama menggigit bibirnya, sambil bicara sendiri dan fokus menyetir. Dia berusaha secepat mungkin untuk bisa sampai ke tempat kerjanya Karina.
Gama mengecek ponselnya dan terdapat beberapa panggilan tak terjawab dari Karina.
"Kok nggak nyambung."
Gama mencoba menghubungi Karina namun ponselnya tidak berdering.
Dia mencoba menghubunginya lagi namun, tak ada tanda-tanda terhubung ke ponselnya Karina.
"Kamu kemana Sayang."
Gama sudah panik takut terjadi apa-apa sama Karina sedangkan hari juga sudah semakin malam.
"Semoga kamu baik-baik saja sayang."
Gama menambah kecepatan mobilnya agar segera sampai di tempat kerja Karina, lalu sekitar 30 menit kemudian dia telah sampai di depan toko.
Keadaannya sudah sepi dan toko sudah tertutup rapat Dia turun dari mobil menengok kanan kiri mencari sosok Karina siapa tahu masih menunggu dirinya.
"Sepertinya karina sudah tidak ada, Dia naik apa."
Gama berbicara sendiri sambil mencoba lagi untuk menghubungi ponsel Karina.
"Nggak mungkin juga kan karina masih di dalam itu jelas sudah tertutup rapat."
Gama mendekat ke arah toko yang sudah terkunci mencoba melihat ke dalam namun sudah gelap semuanya dan tidak memungkinkan juga karina berada di sana.
"Aku ke rumahnya saja."
Gama kembali masuk ke dalam mobilnya lalu menyalakan mesin dan menginjak pedal gas melajukannya menuju ke rumah Karina.
Dia masih sesekali menghubungi ponsel Karina namun tidak ada tanda-tanda terhubung.
"Semoga dia baik-baik saja."
Gumamnya sendiri.
Lalu lintas di malam hari itu sudah cukup lengang tidak seperti sore tadi yang lumayan padat sehingga Gama bisa melajukan mobilnya dengan cepat.
Tak lama kemudian Gama sudah mematikan mobilnya di depan rumah Karina yang sudah terlihat gelap dan tertutup rapat.
"Apa Dia sudah di rumah, semoga saja."
Gama langsung turun dari mobilnya dan mengetuk pintu rumah.
Tok...tok....
"Assalamualaikum."
__ADS_1
Satu kali tak ada jawaban lalu dia mengucapkan salam sambil mengetuk pintu kembali.
"Assalamualaikum.. Karin ini Mas."
Sedangkan didalam Karina juga belum memejamkan matanya baru merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur setelah mengecas ponselnya yang kehabisan baterai.
"Siapa malam-malam gini bertamu."
Gumamnya mendengar ada orang mengucapkan salam.
"Karin... Assalamualaikum."
Terdengar suara itu lagi, lalu Karina mengambil jilbab instannya dan menuju ke kamar Risa.
"Dek.. Bangun."
Desa ternyata sudah terlelap setelah menjemput Kakaknya tadi dia sudah merasakan kantuk.
"Ehh... Napa sih Mbak."
"Bangun, itu ada orang mengetuk pintu siapa ya malam-malam gini."
Risa mengucap berikutnya dan mendengarkan suara.
"Nggak tau mbak, tapi manggil nama Mbak Karin itu."
"Ayo temenin Mbak keluar."
Karina meraih tangan Risa mengajaknya untuk melihat siapa yang datang di malam hari.
Tok...tok....
"Kayak suara Mas Gama Mbak."
Risa yang mendengar suara itu kembali.
"Ayo temenin."
"Iya."
Risa dengan malas mengambil jilbab instannya kemudian mengikuti Karina keluar.
Karina menyalakan lampu ruang tamu dan menuju ke pintu.
"Assalamualaikum.. Karin..."
"Waalaikumsalam."
Karina membuka kunci pintu lalu memegang handle dan mendapati Gama yang terlihat panik berada di depannya.
Gama reflek memegang kedua pundak Karina.
__ADS_1
"Karin... Alhamdulillah kamu sudah di rumah."
"Mas Gama, kenapa malam-malam ke sini."
Gama menatap Karina yang begitu polosnya menanyakan kenapa dirinya ada di situ dengan jantung yang masih berdebar kencang.
"Mas mencari kamu ke toko tapi sudah tutup ponsel kamu juga tidak aktif Mas khawatir sama kamu. Kamu pulang sama siapa."
Risa yang ada di belakang Karina jengah melihat adegan mesra mereka berdua lalu memilih duduk di ruang tamu.
"Karin di jemput Risa, Mas Gama Karin telepon nggak diangkat."
Ucapnya sambil menatap Gama yang baik menatapnya juga dengan sendu.
"Maaf.. Maaf Sayang, Mas ada operasi mendadak tadi ada korban kecelakaan."
Karina tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Hp Kamu kenapa, nggak bisa dihubungi."
"Baterainya habis."
"Ha ha ha..."
Risa malah tertawa sendiri seperti adegan di sinetron aja.
Gama dan Karina bergantian menatap ke arah Risa.
"kenapa nggak telepon Risa Mas."
"Oh iya, Mas terlalu panik jadi nggak kepikiran."
"Maaf ya Sayang, tadi Mas gak sempet untuk kasih kabar sama kamu."
"Iya, lain kali Karin mau bawa motor sendiri aja. Takut repotin Mas."
Gama memandanginya dengan wajah bersalah, baru sekali mengecewakan Karina sudah langsung tidak ada harapan lagi.
"Mas nggak merasa direpotkan sama kamu sayang."
Karina tersenyum.
"Karin bisa sendiri Mas, Maaf Mas ini sudah malam sebaiknya Mas Gama pulang."
Karina nggak mau terjadi sesuatu karena kehadiran Gama di malam hari.
"Iya Sayang, tapi kamu mau memaafkan Mas kan."
Karina tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Karin nggak mau lagi, kapok takut sendirian disana."
__ADS_1
Ucapnya membuat Gama kalang kabut pikirannya...
🤣🤣🤣🤣