
"Risa jangan merepotkan Mama sama Papa ya. Nurut sama Mereka terus jangan lupa sholat dan doakan Ibu sama Bapak." Karina memeluk erat Risa adik satu-satunya yang iya sayangi.
Gama membiarkan mereka saling berpelukan dan berpamitan.
Kini Gama dan Karina sudah berada di bandara penerbangan sebentar lagi akan take off.
"Mbak Karin jaga diri ya, nggak usah mikirin Risa terus. Risa udah besar bisa mandiri, Mbak harus bahagia sama Mas Gama."
Risa berusaha untuk tidak meneteskan air mata agar Karina tidak bersedih.
"Jangan lupa makam Bapak sama Ibu dikunjungi ya, maaf Mbak hanya bisa mendoakan dari sana."
"Mbak tenang aja, Karin akan sering mengunjungi makam Bapak sama Ibu. Mereka pasti di sana juga senang melihat Mbak Karin bahagia sekarang. Risa juga bahagia kalau Mbak Karin bahagia, jaga kesehatan ya Mbak dan cepat kasih ponakan."
Karina memerah pipinya diledekin adiknya sendiri membuat Mama Dina juga setuju akan hal itu.
"Tenang aja, doakan segera hadir Gama junior. Iya kan Sayang." Karin mencubit suaminya yang tak tau tempat dan waktu kalau bicara.
Lalu mereka berpamitan dengan kedua orang tua Gama serta Bude yang masih disana ikut mengantarkan keponakannya.
Anggun memeluk erat Karina, sekarang dia bahagia sahabatnya sudah menemukan seseorang yang akan selalu mencintainya.
"Titip Risa ya Gun, tegur dia kalau bandel."
"Kamu tenang aja Karin, bahagia selalu ya sama Mas Gama."
"Makasih atas semua bantuan kamu Gun, Aku nggak bisa balas apapun hanya doa saja."
"Kamu bahagia aku sudah ikut bahagia, Mas jaga Karin ya jangan buat dia nangis." pesan Anggun.
Gama tersenyum merangkul pundak istrinya.
Gama kemudian menggandeng tangan Karina dan masuk ke dalam untuk segera boarding karena sebentar lagi penerbangan akan tinggal landas.
Karina dan Gama melambaikan tangan ke arah keluarga tercinta yang selalu mendukungnya.
"Gama."
Sapa seorang wanita saat mereka sedang mengantri untuk boarding.
"Sovia."
Mereka saling tatap sedangkan Karina hanya menatap bergantian ke arah Gama dan perempuan itu.
"Hai.. apa kabar."
__ADS_1
Sovia mengulurkan tangannya dan disambut Gama namun saat Sovia seperti meminta untuk cipika cipiki Dia langsung menghindar.
"Sorry, Sovia. Ini istri ku."
Gama langsung memperkenalkan Karina yang berdiri disampingnya.
"What...! Kamu udah nikah."
Gama tersenyum dan menganggukkan kepalanya sambil merangkul pundak Karina.
"Iya, ini istri ku. Sayang kenalin ini Sovia teman kuliah Mas dulu."
Karina tersenyum dan mengulurkan tangannya walaupun didalam hatinya masih bertanya apa benar cuma teman kuliah sampai hampir aja cipika-cipiki.
"Karina."
"Sovia."
Dengan lagak nggak senang dan terpaksa bersalaman dengan Karina.
"Kamu mau kemana Gama."
Sovia berpaling ke Gama lagi dan cuek sama Karina.
"Kuliah S3."
Sovia lagi-lagi Mendekat ke Gama akan meraih tangannya.
"Sorry Sovia, kita harus masuk, duluan ya."
Gama memandang wajah Karina yang sudah tidak bersahabat.
"Yuk Sayang."
Tangan Karina ia genggam dengan erat dan mengajaknya menjauh dari Sovia.
"Aku masih boleh hubungi kamu lagi kan." teriak Sovia.
"Sorry."
Gama berlalu begitu saja.
"Sayang, Mas akan jelasin."
Karina hanya tersenyum saja dan mengikuti langkah Gama.
__ADS_1
Di dalam pesawat.
Karina tersenyum menatap ke arah luar jendela.
"Mas, kita kecil ya kalau di lihat dari atas. Sungguh Maha Besar Allah menciptakan Alam semesta ini."
Gama mencium kening Karina dan mencubit pipinya, gemas dengan istri kecilnya.
"Banyakin Syukur Sayang, Alhamdulillah."
"Iya Mas, Karina bersyukur dengan hidup Karina di kelilingi dengan orang - orang yang sayang sama Karin."
"Tidur Sayang, dari tadi apa kamu nggak capek Sayang."
Gama membawa Karina bersandar ke pundaknya dan membelai kepalanya yang tertutup hijab.
"Karin seneng Mas, makasih ya Mas."
Katanya menatap sayang ke arah Gama.
"Mas yang Makasih sama kamu Sayang, terimakasih sudah menjadi istri Mas temani Mas selalu ya kita menua bersama."
"Insyaallah Mas, bimbing Karina ya Mas jadi istri yang Sholehah."
Gama tersenyum sambil menciumi pucuk kepala istrinya.
"Sayang, maafin Mas ya banyak masa lalu Mas yang belum Mas ceritakan."
Gama tadi begitu naik pesawat sudah menceritakan semuanya siapa Sovia dan masa lalunya.
"Karin nggak berhak melarang Mas untuk berteman dengan siapa saja yang penting Mas itu cerita dan jujur sama Karin."
"Iya, maafin Mas Sayang."
"Entah berapa banyak perempuan diluar sana yang pernah dekat sama Mas, Karin akan berusaha selalu percaya sama Mas Gama kalau sekarang cuma ada Karin yang ada di hati Mas Gama."
Gama memeluk Karina, ada rasa bersalah dia belum bercerita tentang masa lalunya hingga Karina harus melihat sendiri wanita yang pernah dekat dengan suaminya itu.
"Mas sudah tobat sayang."
Karina menyembunyikan wajahnya di dada Gama sambil menganggukkan kepalanya.
"Karin percaya Mas, dan jaga kepercayaan Karin ya Mas."
"Iya Sayang."
__ADS_1
πππ
Di larang emosi ya ππ