
"Sayang.."
Gama masuk ke dalam kamar dan mendapati Karina duduk di sofa mengusap perutnya yang membuncit namun terlihat jika dirinya sedang memikirkan sesuatu.
"Iya Mas."
Karina tersenyum dan menatap ke arah Gama yang membawanya susu ibu hamil untuk dirinya.
"Minum dulu sayang."
Gama duduk disampingnya dan mengusap kepalanya.
Karina menganggukkan kepalanya sambil meraih gelas didepannya.
"Makasih Mas."
Karina menyandarkan badannya di sofa masih sambil memegang gelas yang belum dihabiskan olehnya.
"Sayang."
Gama merangkul Karina dan mencium keningnya.
Karina nampak wajahnya miring penuh dengan pikiran.
"Jangan sedih terus sayang, Risa nggak apa-apa sebentar lagi juga sembuh. Dia anak yang kuat, dan Risa itu orangnya selalu optimis pasti akan cepat sembuh."
"Karin, merasa tidak enak aja mas sama Mama Dina yang harus merawat Risa."
Gama tersenyum dan mengusap perut Karina.
"Mama nggak papa sayang, kan kamu sudah merawat Mas di sini jadi Risa nggak papa sama Mama."
Karina menatap Gama dengan datar.
"Mas, Karin dan Risa selalu merepotkan Mama, Papa dan Mas."
__ADS_1
"Kamu ngomong apa sih sayang."
Gama mencubit pipi Karina yang sekarang tambah gembul.
"Kamu itu istri Mas, anak Mama dan Papa juga. Risa juga adiknya Mas jadi juga anak dari Mama dan Papa."
"Mas, maaf ya."
Karina meletakkan kepalanya di dada Gama.
"Kenapa selalu minta maaf sih sayang."
"Karin belum bisa jadi istri yang baik untuk Mas Gama dan juga menantu yang baik untuk Mama dan Papa."
"Makasih sudah hadir dalam hidup Mas."
Gama mengecup pucuk kepala Karina.
Karina saat video call dan melihat keadaan adiknya, dia sangat sedih karena Risa jelas tidak akan bisa beraktivitas sendiri dengan keadaan tangannya yang seperti itu.
Dilema baginya, satu sisi ingin merawat adiknya tapi satu sisi lain dia juga harus mendampingi suaminya.
Gama sendiri juga lebih memilih Karina bersama dirinya di sana untuk menjalani kehamilannya dari pada ke Indonesia untuk merawat Risa.
Dia bisa pulang nanti saat Gama libur semester lagi sekitar 2 bulan lagi, sekalian saat itu kehamilannya sudah masuk 8 bulan kemungkinan dia baru akan tinggal di Indonesia saja.
Semua sudah di bahas dengan keluarga, nantinya Karina akan melahirkan di Indonesia saja dan Gama harus meneruskan beasiswanya sampai selesai.
Gama sendiri tidak keberatan karena memikirkan kondisi istri dan anaknya nanti siapa yang akan menjaga jika dirinya sedang beraktivitas padahal dia juga harus ada praktek di rumah sakit.
Akhirnya Karina memilih untuk pulang ke Indonesia sekitar 2 bulan lagi nanti bersama Gama saat liburan semesteran.
"Sayang, bangun.. Kita sholat subuh."
Gama membangunkan Karina yang nampak masih terlelap karena semalam dia sulit tidur.
__ADS_1
"Hmmm.... "
"Sayang."
Gama masih sabar mengusap lembut rambut Karina dan sesekali menciumi pipinya.
Karina mengerjapkan kedua matanya hingga terbuka sempurna.
"Mandi sayang, kita sholat subuh."
Karina menganggukkan kepalanya dan Gama membantunya untuk bangun.
"Mas Gendong ya."
Karina menggelengkan kepalanya, dia semenjak hamil dan perutnya semakin membesar dia takut kalau digendong oleh Gama.
"Ya udah yuk bangun sayang."
Gama membawa istrinya ke kamar mandi untuk mandi lalu setelah itu mereka salat subuh berjamaah.
"Sayang, Mas hari ini ke rumah sakit untuk menemui profesor."
Ucap Gama saat mereka sarapan bersama.
Karina tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Iya Mas, hati-hati ya."
"Iya sayang, kamu di rumah jangan capek-capek terus hati-hati kalau Makai pisau jangan terluka lagi."
"Iya Mas."
"Satu lagi, jangan suka melamun."
Gama mencolek hidung Karina dan membuatnya tersenyum.
__ADS_1
"Siap Bos..."
ππππ