
Saat ini keluarga Vano sedang makan malam di kediaman Birgantara untuk merayakan kerja sama kedua perusahaan mereka sekaligus untuk membicarakan rencana pernikahan kedua anak mereka.
"Jadi gimana jeng, untuk gedung tempat mereka resepsi nanti" tanya Devi.
"Aku tadi sudah cek, dan persiapannya sudah 50% jeng, nanti selebihnya WO yang urus" jawab Ani.
"Baguslah jeng, aku juga sudah koordinasi dengan chatring, kebutulan yang punya chatring sahabat aku, jadi sudah aman semuanya" kata Devi.
"Vin, besok kamu pergi sama Vano fiting baju pengantin yaa" tanya Ani pada Vina.
"Baik tante" jawab Vina sekenanya.
"Mulai sekarang kamu jangan panggil tante lagi dong kan sebentar lagi kamu jadi menantu mama" kata Ani.
"Baik tante,,, ee maksudnya mama" jawab Vina sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kamu juga Van, mulai sekarang kamu pangggil tante mama yaa" timpal Devi.
"Baiklah ma" jawab Vano dengan senyum manisnya.
"Jadi kalian semua yang urus yaa pernikahan anak kita, kami bagian cari duit aja, iyaa kan bro" timpal Dimas, sedangkan Angga hanya mengiyakan saja, lalu mereka pun melanjutkan makan malam mereka.
***
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Vano sudah menjemput Vina di rumahnya, namun ternyata gadis itu masih bersarang dalam dunia mimpinya.
"Tidak apa-apa ini ma" tanya Vano sedikit ragu.
"Tidak apa-apa nak, kan sebentar lagi kamu bakal jadi menantu mama" jawab Devi sambil tersenyum.
"Kamu naik aja, kamar Vina yang sebelah kira pintu warna coklat" lanjut Devi lagi, lalu Vano segera naik ke atas kamar Vina.
__ADS_1
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Vano langsung membuka pintu kamar Vina dan di lihatnya gadis itu masih terlelap.
"Kamu cantik kalau lagi tidur begini" batin Vano sambil membelai rambut gadis itu.
"Vin, bangun yuuk, kita kan harus pergi fiting baju pernikahan kita" kata Vano membangunkan Vina sambil mengusap kepala Vina dengan lembut.
"Bentar lagi ma, aku masih ngantuk" jawab Vina yang mengira kalau Vano adalah mamanya, namun belum sempat Vano menjawab, Vina tanpa sengaja manarik lengan Vano dan langsung memeluknya membuat jantung Vano berdetak sangat kencang, lalu Vina kembali terlelap, sementara Vano yang melihat Vina kembali terlelap menatap gadis itu.
"Kamu sudah berhasil mencuri hatiku Vin" batin Vano masih memandang wajah gadis itu, dan pandangannya berhenti di bibir gadis itu, Vano mengusap lembut bibir gadis itu dan dia tidak tahan untuk mengecupnya, sementara Vina tidak merasa terganggu sama sekali dengan kecupan Vano di bibirnya.
"Sial,, kenapa bibirnya sangat lembut dan manis" teriak batin Vano, dia masih ingin mengecup bibir gadis itu tapi dia takut tidur gadis itu akan terganggu dan marah besar saat tau Vano mencuri sebuah ciuman di bibirnya, jadi Vano hanya diam menikmati pelukan gadisnya itu.
Sudah 30 menit berlalu dan Vina baru terbangun dari tidurnya, dia mulai mengumpulkan nyawanya dan merenggankan otot-ototnya dengan mata yang masih tertutup, namun dia kembali memeluk guling kesayangannya.
"Kok guling aku jadi besar yaa, dan agak keras" kata Vina memencet-mencet tubuh Vano, dan membuka matanya.
__ADS_1
"Aahhh ngapain kamu di kamar aku" reflek Vina mendorong Vano dari atas tempat tidur, sementara Vano yang kesakitan segera bangkit berdiri.