
Kini Vina dan kelurganya sudah berada di rumah setelah tiga hari berada di rumah sakit.
"Van, anak kalian mau di kasih nama siapa" tanya Ani.
"Kamu mau kasih nama anak kita siapa sayang" lanjut Vano bertanya pada istrinya.
"Benaran Van aku boleh kasih nama" tanya Vina antusias.
"Iyaa sayang, kan kamu yang sudah mempertaruhkan nyawa demi anak kita" jawab Vano tersenyum lembut.
"Kalau begitu aku mau kasih anak kita dengan nama, Devandra Axel Bratawija, nama panggilannya Axel, gimana kalian setuju tidak" kata Vina meminta pendapat suami dan para orang tua mereka.
"Nama yang bagus sayang, aku setuju" kata Vano lalu membelai kepala anaknya yang berada dalam gendongan mamanya.
"Kami juga setuju sayang" kata Angga.
__ADS_1
"Baiklah, jadi mulai sekarang kita panggil cucu kita Axel" timpal Dimas dan di angguki oleh semua orang.
***
Lima bulan telah berlalu, dan selama itu pula Vano tidak pernah melewatkan perkembangan Axel, dia benar-benar menjadi papa yang siaga, bahkan saat Axel bangun di tengah malam, Vano selalu bangun untuk melihat anaknya.
Seperti saat ini, jam menunjukkan pukul 1.30 dini hari, samar-samar Vano mendengar suara tangisan Axel. Vano pun terbangun dari tidurnya dan melihat istrinya yang sedang tidur sangat nyenyak dan tidak terganggu sama sekali dengan tangisan Axel, Vano pun bangkit dari tidurnya dan menujuh box tidur Axel, Vano lalu menggendong anaknya, lalu kemudian memeriksan popok Axel.
"Pantas kamu nangisnya kencang sekali nak, ternyata popoknya sudah penuh yaa" kata Vano berbicara pada anaknya walaupun Axel tidak menjawabnya.
"Tunggu sebentar yaa, papa ambil popok sama celana kamu dulu" kata Vano lalu membaringkan Axel, sementara Axel yang mendengar perkataan papanya itu tersenyum seolah mengerti ucapan Vano.
"Cup..cup, kamu kenapa lagi sayang, kamu haus yaa" kata Vano sambil menggendong anaknya.
"Papa ambil Asi kamu dulu yaa" kata Vano lalu kembali membaringkan Axel dan segera menuju dapur mengambil asi yang selalu di stok oleh Vina. Vano lalu memanaskan asi tersebut dan setelah di rasa cukup dia memasukkannya ke dalam dot dan kembali menuju kamar.
__ADS_1
Saat Vano telah sampai di kamar dia melihat Vina sudah bangun dari tidurnya dan kini sedang menggendong Axel.
"Kenapa kamu bangun sayang" tanya Vano.
"Axel tadi menangis sangat kencang jadi aku bangun untuk melihaynya" jawab Vina.
"Kamu tidur lagi aja Vin, biar Axel aku yang jagaain, kamu pasti capek sudah seharian menjaga Axel" kata Vano lalu mendekati istrinya dan memberikan dot yang tadi sudah di isi asi.
"Tidak apa-apa Vin, mending kamu aja yang istrahat, kan besok kamu juga harus kerja" jawab Vina menerima dot tersebut dan memberikannya pada Axel, Axel pun langsung menyedot pusing dot tersebut lalu kembali tidur.
"Axel sudah tidur, ayo kita juga tidur, lagian sejak Axel lahir, kamu sudah tidak pernah memanjakan aku" kata Vano mengedipkan matanya menggoda Vina, membuat Vina hanya tersenyum malu.
"Kan aku sibuk ngurusin anak kamu, jadi perhatian aku masih sepenuhnya sama Axel" kata Vina berjalan menuju kasurnya dan di ikuti oleh Vano.
"Bagaimana kalau kita buat adiknya Axel, supaya nanti kalau Axel sudah besar dia tidak kesepian" goda Vano lagi.
__ADS_1
"Itu sih mau kamu aja, lagian kamu enak, tidak merasakan gimana sakitnya melahirkan" jawab Vina lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Kan aku juga sudah ngerasain sakitnya di cakar sama kamu sayang" kata Vano namun sudah tidak di respon istrinya, melihat itu Vano pun ikut berbaring dan memeluk istrinya dari belakang.