
Kini sudah terhitung dua bulan Vano mendiamkan Vani, membuat perempuan itu uring-uringan sendiri, pasalnya dia sudah berusaha mengajak lelaki itu untuk bicara tapi hasilnya selalu nihil, setiap pagi lelaki itu selalu berangkat sebelum perempuan itu bangun dan pulang saat perempuan itu pun sudah tertidur di sofa karena menunggunya.
Seperti saat ini Vina terbangun dan mendapati dirinya tidur di sofa ruang tamu, saat baru akan merenggangkan otot-ototnya dia melihat Vano berjalan menuruni tangga dengan buru-buru.
"Van, kita harus bicara, ini sudah dua bulan loh kamu mendiamkan aku seperti ini" tanya Vani.
"Kalau mau bicara, bicara saja aku tidak punya banyak waktu" kata Vano dengan nada dingin, namun belum sempat Vina mengeluarkan isi hatinya ponsel Vano tiba-tiba berdering, Vano lalu menjawab panggilan tersebut di depan istrinya.
"Haloo sayang" kata Vano pada sang penelfon.
Deg,, jantung Vani tiba-tiba terasa sesak saat mendengar jawabab Vano.
"Iyaa aku juga kangen, ini aku sudah mau berangkat" lanjut Vano lagi.
"Iyaa, kamu tunggu aku yaa" kata Vano lagi lalu mematikan sambungan telfonnya.
__ADS_1
"Van, kamu..." kata Vani tidak mampu meneruskan ucapannya.
"Kenapa, ini bukan urusanmu"kata Vano dengan nada yang dingin lalu meninggalkan istrinya begitu saja, sedangkan Vina hanya menatap kepergian suaminya dengan tatapan sendu dan dia tidak menyadari setetes air bening mulai menetes dari matanya.
"Aku ini kenapa, kenapa aku menangisi lelaki itu, dan kenapa hati ini begitu sesak yaa Tuhan" kata Vani pada dirinya sendiri lalu menghapus air matanya.
***
Malam harinya Vina kembali menunggu Vano sambil menonton televisi, tidak lama terdengar suara pintu dibuka membuat Vina menolehkan kepalanya ke sumber suara dan mendapati Vano memasuki rumah, Vina pu bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati lelaki itu.
"Van, kamu baru pulang, ayok makan dulu" tanya Vina berusaha mengabaikan perempuan yang tadi datang bersama Vano.
"Dia siapa Van" tanya perempuan itu.
"Dia bukan siapa-siapa kok, kamu lapar yaa, ayo kita makan dulu" kata Vano pada Feni, dan mengabaikan pertanyaan Vina.
__ADS_1
"Van, aku ngajakin kamu makan, kenapa kamu malah ajak dia" kesal Vina berusaha menutupi rasa nyeri yang sudah mulai tumbuh di hatinya, namun Vano kembali meninggalkannya begitu saja membuat air mata kembali berhasil lolos dari mata indahnya itu.
***
Saat kedua orang itu telah selesai menikmati makan malamnya, kini mereka telah berada di ruang keluarga sambil berpegangan tangan membuat hati Vina sudah sangat nyeri dan jantungnya juga sangat sesak melihat pemandangan itu.
Vina yang sudah tidak tahan melihat kemesraan kedua orang itu akhirnya pergi menujuh kamarnya lalu mengambil tas salempangnya.
"Van aku mau ke rumah orang tua aku" kata Vina dengan pelan.
"Itu urusanmu, terserah kamu mau pergi kemana pun" jawab Vano dingin membuat hati Vina kembali nyeri.
Vina pun pergi dari rumah tanpa membalas perkatan Vano, namun di garasi Vina belum menjakankan mibilnya mekainkan kembali meneteskan air matanya di dalam mobil.
"Sebenarnya aku ini kenapa, bukannya aku membenci lelaki itu, tapi kenapa hatiku sakit melihat dia membawah perempuan lain ke rumah" tanya Vina pada dirinya sendiri, saat sudah berhasil memguasai dirinya Vina pun mulai menjalankan mobilnya menuruh ke rumah orang tuanya.
__ADS_1