
Enam bulan berlalu dan kini usia kandungan Vina sudah memasuki bulan ke sembilan, walaupun usia kandungan Vina sudah menginjak usia sembilan bulan, namun Vano tetap bekerja karena kini dia menangani dua perusahaan dan itu membuatnya semakin sibuk.
Kini Vina sedang berjalan menuju meja makan karena dia sudah sangat lapar sekali, sementara jam sudah menunjukkan pukul 19.45 namun Vano belum juga kembali dari kantor membuat Vina tidak bisa menunggunya lagi.
Setelah menyelesaikan makan malamnya Vina berniat akan kembali ke kamarnya, namun saat baru akan bangkit berdiri dari kursinya, Vina merasakan sakit luar biasa pada perutnya.
Vina pun memanggil asisten rumah tangganya dan tidak lama asisten tersebut menghampirinya.
"Ada apa bu, yaa Tuhan, apa ibu sudah mau melahirkan" tanya bibi dengan panik saat melihat Vina sedang menahan sakit.
"Iyaa bi, oyaa bi, minta tolong ambilin ponsel aku dulu dalam kamar" kata Vina menahan rasa sakit pada perutnya, sementara itu bibi langsung menuju kamar majikannya dan tidak lama kembali dengan ponsel di tangannya.
"Ini bu ponselnya" kata bibi lalu menyerahkan ponsel itu.
__ADS_1
"Minta tolong bi, tolong hubungi Vano, aku sudah tidak kuat bi" kata Vina sudah mulai mengerang kesakitan, dan bibi pun mulai mencari kontak Vano lalu menghubunginya.
"Maaf bu, nomor tuan sedang tidak aktif" kata bibi ini sudah mulai panik melihat air ketuban majikannya sudah mengalir di lantai.
"Bi, panggil satpam bi" kata Vina lagi, bibi pun segera berlari keluar dan memanggil satpam, satu menit kemudian bibi dan satpam sudah berada di depan Vina.
"Pak, tolong bawa saya ke rumah sakit, bi tolong ambil kunci mobil di kamar saya, sama sekalian tanya Mery supaya menjaga anak-anak, nanti bibi ikut saya ke rumah sakit" kata Vina memberi arahan, sedangkan satpam itu segera menggondong majikannya dan membawanya ke mobil, bertepatan dengan itu, bibi pun sudah berada di garasi, lalu mereka segera menuju rumah sakit.
Saat di perjalanan Vina kembali menyuruh bibi untuk menghubungi mama dan mertuanya.
"Pak lebih cepat yaa, saya sudah gak kuat" lanjut Vina lagi, dan di angguki oleh satpam tersebut.
Tidak lama kemudian, mereka telah sampai di rumah sakit, dan ternyata di lobi mama Ani sudah menunggu mereka dengan suster di sana, satpam itu pun menggendong Vina lalu membaringkannya di atas brangkar yang telah di sediakan.
__ADS_1
Mama dan para suster yang berjaga pun segera mendorong brangkar itu menuju ruang bersalin, namun belum memasuki ruang bersalin Vina tiba-tiba merasa perasaannya menjadi tidak enak, Vina pun menghentikan suster yang mendorongnya itu.
"Ma.. kalau ada apa-apa titip anak-anak aku yaa" kata Vina pada ibu mertuanya itu.
"Apa maksud kamu Vin, kamu gak boleh ngomong gitu, kamu harus semangat dan kuat demi anak-anak kamu" jawab mama Ani sedih.
"Tapi perasaan aku gaj enak ma" racau Vina.
"Kamu gak boleh gitu, kamu harus berjuang, ingat anak dan suami kamu" kata mama Ani lagi memberi semangat.
"Iyaa ma, oyaa ma, hubungi mama aku yaa" kata Vina yang tiba- tiba teringat mamanya.
"Iyaa sayang, tadi katanya mama kamu sudah di jalan, sekarang kamu masuk dan berjuang yang terbaik okee, mama di sini doain kamu"kata mama Ani lalu mengelus rambut basah Vina dengan lembut.
__ADS_1
Para suster pun segera mendorong Vina karena dokter yang akan menangani Vina kini sudah mengintruspi supaya pasien segera di bawa ke ruang bersalin.