
Mendengar perkataan Vano yang mengatakan itu adalah aset besarnya membuat Sara sangat geram, dan sekarang dia sudah mulai berfikir kalau kedua anak buahnya telah menghianatinya.
"Aku tidak percaya ini, sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan" kata Sara masih berusaha berfikir positif.
"Aku tidak punya rencana apa-apa, bahkan ponselku ada padamu" jawab Vano membuat Sara terdiam.
Mendengar itu Sara segera melepaskan tali yang mengikat Vina, lalu segera membawahnya keluar dari gubuk itu dan di ikuti oleh Vano di belakangnya.
Sesampainya mereka di luar, Sara melihat kondisi yang sepi dan mobil Vano juga dalam keadan yang terbuka membuat emosi perempuan itu memuncak.
"Sialan, beraninya mereka menghianatiku" desis Sara tertahan.
"Kalau begitu serahkan semuabberkas yang sisa itu kepadaku" lanjut Sara lagi.
__ADS_1
"Serahkan istriku dulu maka semuanya juga akan ku serahkan padamu" kata Vano membuat Sara tampak berfikir.
"Tapi kalau kau menipuku, aku tidak akan tinggal diam" jawab Sara memgeluarkan pisau lipat yang tadi di simpannya ke dalam saku celananya.
Mendengar itu Vano hanya bisa mengangguk karena dia tidak ingin membahayakan istri dan juga janin yang sedang berada dalam kandungan istrinya, melihat anggukan Vano, Sara kemudian mendorong Vina dengan kasar dan untungnya Vano dengan sigap langsung menahannya sehingga istrinya tidak terjatuh.
"Sekarang cepat serahkan berkas itu" kata Sara tidak sabaran, membuat Vano menoleh dan menatap pada istri tercintanya itu.
"Jangan Van" Vina memberikan gelengan kepala pada suaminya itu.
"Kalian terlalu banyak drama" kata Sara yang jengah melihat percakapan suami istri itu, kemudian mengambil semua berkas dari tangan Vano dan segera meninggalkan tempat itu.
"Kenapa kamu begitu jahat pada kami Sara" teriak Vina yang menghentikan langkah perempuan itu.
__ADS_1
"Jahat kamu bilang, seandainya suamimu tidak mencampakkanku begitu saja, ini semua tidak akan terjadi, kamu tau, bagaimana sakit hatinya aku waktu tau kalau aku hanya jadi pelampiasan suamimu, hatiku sangat sakit, aku begitu mencintainya dengan tulus tapi apa, dia membuangku seperti sampah, jadi siapa yang jahat di sini" teriak Sara marah dan setetes air bening mulai membsahi pipinya.
"Aku tau aku bersalah padamu Sara, tapi tidak dengan cara seperti ini kamu membalaskan sakit hatimu, kamu boleh membalaskan semuanya padaku, tapi tolong jangan pada istriku" mohon Vano.
"Asal kamu tau Van, hanya istrimu satu-satunya orang yang bisa membuatmu merasakan sakit hati, tapi kalian tenang aja, mulai sekarang aku tidak akan mengganggu lagi kehidupan kalian, karena aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan" kata perempuan itu lalu segera meninggalkan tempat itu dan juga suami istri itu.
"Maafkan aku Vin, ini semua salahku, seandainya aku tidak pernah bermain hati dengan Sara mungkin ini semua tidak akan terjadi" sesal Vano.
"Ini bukan sepenuhnya salahmu, aku juga bersalah atas semua kejadian ini, seandainya waktu itu aku lebih cepat menyadari perasaanku mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini" kata Vina meneteskan air matanya.
"Sudah sayang, kamu jangan menangis, kita ambil saja semua hikmanya, yang penting kamu dan calon anak kita baik-baik saja" kata Vano menarik Vina kedalam pelukannya, sementara Vina yang mendengarnya langsung menegang.
"Kamu tau dari mana kalau aku sedang mengandung" tanya Vina sambil mendongakkan kepalanya.
__ADS_1
"Dari kamu sayang, kan kamu sendiri yang menaruhnya kedalam kotak" kata Vano mengingatkan membuat Vina hanya tersenyum.
"Kalau begitu, ayo kita pulang, kasian calon anak kita ini sudah malam" kata Vano lalu mereka segera pergi dari tempat itu.