Musuhku Adalah Suamiku

Musuhku Adalah Suamiku
Rencana untuk Vano


__ADS_3

Tiga bulan berlalu dan kini kondisi Vina sudah semakin membaik dan dia juga sudah tidak mengalami mual lagi, di tambah dengan kepulangan orang tuanya dari luar negeri sebulan yang lalu membuat kondisi Vina semakin dangat baik, namun ngidamnya masih berlaku hingga hari ini membuat Vano semakin kewalahan dengan ngidam istrinya yang sangat aneh menurutnya di banding dengan ngidam kedua anaknya, kehamilan ke tiga ini membuat Vano sangat pusing.


Seperti pagi ini saat akan hendak ke kantor Vina sudah menyuruhnya berganti pakaian lebih dari sepuluh kali dengan alasan tidak menyukai warna yang di pilih suaminya, atau pun jika suaminya terlalu tampan menggunakan pakaian itu.


"Jangan yang itu, apa kamu mau godain cewek-cewek di kantor kamu" kesal Vina melihat penampilan Vano yang menurutnya sangat tampan saat dia menggunakan kemeja warna biru tua.


"Sayang, ini sudah hampir lima belas kali aku ganti baju, aku capek, kamu aja yang pilihin kalau begitu" putus Vano akhirnya menyerah.


Vina pun bangkit dari duduknya dan menuju lemari suaminya dengan kesal, namun senyum lebar kembali terbit di bibir mungilnya itu saat menemukan baju yang menurutnya pas untuk suaminya itu, membuat perasaan Vano seketika tidak enak saat melihat senyum istrinya itu.

__ADS_1


"Kamu pakai baju yang ini" kata Vina mengeluarkan satu set pakaian dari dalam lemari suaminya membuat mata mata hampir keluar dari tempatnya.


"Sayang, bukannya aku gak mau pake, tapi itu norak banget" protes Vano.


"Kamu lupa, kamu sendiri yang menyuruhku untuk memili pakain yang ku inginkan, dan ini yang aku suka" kata Vina membuat Vano bungkam.


"Tapi sayang....pake jasnya sama celananya yaa, dasi sama kemeja yang lain aja" kata Vano mencoba menawar.


"Nah kan gini bagus, aku yakin tidak akan ada yang berani godain kamu di kantor" kata Vina tersenyum puas, namun dalam hati Vano menggerutu kesal.

__ADS_1


"Kenapa pakain seperti ini ada dalam lemariku, siapa yang berani menaruhnya di sana" batin Vano kesal.


Mereka pun segera turun ke lantai satu, lebih tepatnya Vano yang menggiring istrinya karena dia sudah sangat terlambat mengingat hari ini ada meeting penting, sesampainya di truang makan semua mata menatap mereka heran, tidak, lebih tepatnya menatap Vano heran.


"Kenapa kamu pakaian serba warna pink, bukannya kamu gak suka pakaian seperti itu" tanya mama Ani heran.


"Iyaa ma, Vina yang memaksaku memakai ini" jawab Vano membuat kedua orang tua mereka terbahak-bahak.


"Dia terlalu tampan kalau menggunakan baju lain ma, aku tidak ingin dia menggoda perempuan lain di kantor, dia itu harus ingat kalau dia sudah mau punya tiga anak" ketus Vina membuat kedua orang tua mereka tertawa lagi.

__ADS_1


Vano kesal karena di tertawai oleh mereka pun berangkat ke kantor tanpa berbicara sedikit pun, membuat Vina sangat geram karena suami tercintanya itu tidak menciumnya sama sekali, seperti rutinitas mereka.


Melihat suaminya yang seperti itu, timbullah ide licik dalam otak cantiknya itu sehingga dia tersenyum sendiri, sementara semua mata di meja makan menatap herap kepadanya, Vina yang menyadari tatapan itu hanya cengengesan memperlihatkan gigi putihnya yang rapi.


__ADS_2