
Entah saat ini Vano merasa bahagia atau merasa sedih, perasaannya kini bercampur aduk, Vano lalu mengambil bajunya asal tidak peduli jika nanti istri marah karena telah membuat lemari betantakan, dia kemudian memakainya, setelah itu dia turun ke lantai satu dan tidak lupa membawa kotak yang tadi di temukannya dan ternyata semua keluarganya sudah berkumpul di sana, Vano kemudian mendekati mereka lalu duduk pada satu sofa yang kosong.
"Van bagaimana ceritanya Vina di culik" tanya Devi sangat mencemaskan anaknya itu.
"Aku juga tidak tau ma, tapi penculik Vina meminta tebusan semua aset kita" jawab Vano dengan lesu lalu menghembuskan nafasnya kasar.
"Apa? ini tidak bisa di biarkan Van, kita harus lapor polisi" kata Angga sangat emosi.
"Tadi aku juga berfikir begitu pa, tapi aku terpaksa harus menyerahkan asetku, aku tidak mau Vina kenapa-napa, apa lagi saat ini ternyata dia sedang mengandung buah hati kami" kata Vano.
"Apa maksud kamu Van" tanya ketiga orang itu serempak.
"Aku menemukan ini di meja rias Vina" jawab Vano lalu meletakkan kotak yang tadi di temukannya di atas meja, kemudian Devi langsung mengambil kotak itu dan terkejut saat melihat tespeck dengan dua garis merah.
"Jadi Vina sedang hamil" tanya Devi sambil menutup mulutnya.
__ADS_1
"Iyaa ma, makanya sekarang aku tidak punya pilihan lain selain menyerahkan semua asetku, agar Vina dan calon anak kami selamat.
"Tapi kita masih bisa lapor polisi Van" timpal Ani.
"Tapi aku takut ma, kalau kita ke sana membawa polisi, penculik itu akan melukai Vina dan calon anak kami, dan aku tidak mau itu terjadi"
Setelah mengatakan itu Vano langsung bangkit dari duduknya kemudian menelfon nomor asing yang tadi menghubunginya.
"Haloo sayang, apa kamu sudah berubah pikiran" kata orang dari seberang sana.
"Aku tidak sebodoh itu sayang, kita akan bertemu di tempat lain" kata orang itu.
"Baiklah katakan dimana kita akan bertemu" tanya Vano tidak sabaran.
"Aku akan kirim lokasinya, tapi ingat jangan bawah polisi, atau istri kamu tidak akan selamat" kata orang itu lalu mematikan sambungan telfonnya secara sepihak.
__ADS_1
Setelah sambungan telfon terputus, Vano kemudian berlari ke atas tangga dan tidak lama kemudian di turun dengan beberapa berkas penting di tangannya.
"Van, papa harap kamu tidak gegaba dalam mengambil keputusan" kata Dimas menegur anaknya.
"Tapi pa, ini menyangkut Vina dan calon anak kami, aku tidak bisa diam saja, bagiku Vinda dan calon anak kami yang lebih penting" kata Vano yang sangat mencemaskan istrinya.
"Papa jadi teringat dengan cerita kamu waktu kamu koma di rumah sakit dulu, waktu itu kamu bilang ada orang yang berusaha mencelakai kamu, papa jadi berfikir apa orang itu juga yang menculik Vina karena dia tidak berhasil mencelakai kamu" kata Dimas membuat Vano mengingat akan kejadian waktu itu.
"Iyaa papa benar, kenapa aku begitu bodoh sekali, tidak ingat dengan itu" kata Vano lalu menjambak rambutnya.
"Sekarang kita lapor saja sama polisi, tapi kita susun rencana agak kita bisa menyelamat Vina tanpa membuat dia celaka" kata Dimas dan di angguki oleh semua orang.
"Baiklah pa, aku setuju sama papa, tapi apa rencana papa" kata Vano penasaran, dan Dimas pun mulai menjelaskan semua rencana.
"Baiklah pa, aku serahkan semuanya sama papa, kalau begitu aku akan pergi menemui perempuan itu dulu" kata Vano yang di angguki oleh orang tua dan mertuanya lalu menuju ke tempat yang telah di kirim oleh orang itu.
__ADS_1