Musuhku Adalah Suamiku

Musuhku Adalah Suamiku
Salak


__ADS_3

ke esokan paginya Vano merasakan ada pergerakan di sampingnya, Vano lalu membuka matanya dan mendapati istrinya yang sudah bangun.


"Selamat pagi sayang, kamu sudah bangun" tanya Vano dan hanya di angguki Vina, sementaran Vina yang merasa perutnya bergejolak segera berlari ke kamar mandi dia pun memuntahkan isi perutnya tapi hanya cairan bening yang keluar, sementara Vano yang melihat itu segera menyusul istrinya dan memijat tengkuknya.


Setelah Vina memuntuhkan isi perutnya Vano lalu mengendongnya dan membaringkannya diatas tempat tidur.


"Aku bikinkan teh yaa, supaya tidak terlalu mual" tanya Vano dan hanya di angguki oleh Vina.


Tidak lama kemudian Vano kembali dengan segelas teh hangan dan sebungkus biskuit.


"Ini tehnya, biskuitnya juga di makan supaya kamu ada tenaga" kata Vano lalu memberikan gelas yang berisi teh tersebut pada Vina.


"Makasih yaa Van, kamu sudah jadi suami siaga buat aku" kata Vina setelah meminum tehnya.


"Iyaa sayang, kamu begini juga kan karena aku" jawab Vano sambil tersenyum menggoda membuat Vina cemberut.


"Oyaa papa sama mama sudah tahu belum soal kehamilan aku" tanya Vina.


"Orang tua kita belum aku kasih tau, soalnya aku tidak sempat kan kita juga baru taunya kamarin" kata Vano sambil memijat lembut kaki istrinya.

__ADS_1


"Kamu jangan kasih tau mereka dulu yaa Van, bentar lagi mama mau ulang tahun, jadi aku mau kasih kejutan sama mama" kat Vina.


"Baiklah sayang" jawab Vano sambil tersenyum.


***


Saat ini Vano sedang berada di ruang kerjanya karena sudah dua hari dia tidak berangkat ke kantor. Saat sedang fokus memeriksa berkas yang dikirim oleh sekretarisnya tiba-tiba pintu terbuka dan ternyata itu adalah istrinya.


"Ada apa sayang" tanya Vano saat Vina melangkah mendekatinya.


"Aku mau makan buah salak" kata Vina lalu duduk menghadap di atas pangkuan suaminya sambil mengalungkan tangannya pada leher Vano.


"Aku sudah tidak ingin cendol Van, siapa suruh kemarin kamu kelamaan,sekarang itu aku maunya salak" kata Vina memberenggut kesal.


"Kalau kamu tidak mau, biar aku pergi sendiri saja" lanjut Vina lalu bangkit dari pangkuan Vano, namun Vano dengan cekatan memeluk pinggang istrinya.


"Kamu istrahat di kamar aja yaa, biar aku yang cari" kata Vano lalu mencium kening istrinya.


***

__ADS_1


Sudah hampir dua jam Vano mencari salak tapi dia tidak menemukannya, sudah beberapa penjual buah maupun mini market yang dia datangi tapi tidak ada yang menjualnya karena katanya bukan musimnya, Vano sudah pasrah jika nanti istrinya akan marah-marah jika dia tidak membawa pesanan istrinya, namun saat Vano akan berbelok masuk gerbang rumahnya, dia melihat seorang kakek tua yang berjalan memikul buah keliling, Vano pun menghentikan mobilnya dan menghampiri orang itu.


"Permisi pak, bapak jualan buah apa saja" tanya Vano.


"Saya jual buah macam-macam nak, mau buah apa nak" jawab kakek itu dengan suara khasnya.


"Saya cari buah salak pak, istri saya sedang ngidam tapi saya tidak dapat menemukannya" jawab Vano.


"Sekarang memang sedang bukan musimnya nak, untungnya saya ada" jawab penjual tersebut.


"Serius pak, kalau begitu saya borong semua pak" jawab Vano antusias, kemudian penjual tersebut memasukkan buah salaknya kedalam plastik.


"Ini salaknya nak" kata penjual tersebut menyerahkan sebuah kantongan penuh dengan salak.


"Ini semua berapa pak" tanya Vano sambil mengeluarkan isi dompetnya.


"Tidak usah nak, kan istrinya sedang ngidam jadi saya iklhas kok" kata penjual tersebut tersenyum tulus.


"Saya yang seharusnya berterima kasih pak, bapak ambil ini yaa, kasian keluarganya di rumah pak"kata Vano memberikan beberapa lembar uang merah dan meninggalkan penjual tersebut.

__ADS_1


__ADS_2