Musuhku Adalah Suamiku

Musuhku Adalah Suamiku
Kontraksi


__ADS_3

Tujuh bulan kini telah berlalu, dan kini kandungan Vina sudah menginjak usia sembilan bulan,sementara Vano sudah tidak ke kantor selama seminggu dan hanya menyuruh orang kepercayaannya membawakan berkas yang harus di kerjakannya ke rumah, karena dia takut meninggalkan istrinya sendirian, apa lagi semenjak kehamilan Vina memasuki bulan ke sembilan, istrinya itu sering mengeluh sakit pinggang dan kakinya sering pegal, membuat Vano tidak tenang jika harus meninggalkan istrinya untuk bekerja.


Seperti saat ini Vano sedang mengerjakan pekerjaannya di ruang kerja namun tiba-tiba dia mendengar suara teriakan istrinya membuat Vano segera berlari menuju kamar mereka.


"Kamu kenapa sayang" tanya Vano saat melihat istrinya memegang perutnya dengan muka yang terlihat menahan sakit.


"Perut aku sakit banget Van, kayaknya aku mau melahirkan deh" jawab Vina dengan keringat yang mulai bercucuran dari dahinya.


Mendengar jawaban istrinya, tanpa aba-aba Vano segera memggendong istrinya dan mengambil kunci mobil yang terletak di atas meja, juga tas yang berisi pakaian yang telah mereka siapkan dari jauh hari.


Saat sampai di garasi Vano lalu membuka pintu mobilnya dan mendudukkan istrinya di samping kemudi dengan sangat hati, lalu dia memutari mobilnya dan segera menjalankannya.


"Sabar yaa sayang, dikit lagi kita sampai" kata Vano sambil menggenggam tangan istrinya, namun Vina sudaj tidak meresponnya karena dia sudah tidak tahan dengan sakit pada perutnya.


Tidak lama kemudian mereka kini telah sampai di rumah sakit, Vano memarkirkan mobilnya secara asal lalu memberikan kunci mobilnya pada satpam yang bertugas.

__ADS_1


Vano pun segera menggendong istrinya dan berlari menuju IGD dan memanggil dokter di sana.


"Doktor tolong istri saya" teriak Vano membuat beberapa perawat datang belarian menghampiri mereka dan mendorong sebuah brangkar, Vano pun membaringkan istrinya di atas brangkar tersebut dan tidak datanglah seorang dokter menghampiri mereka.


"Langsung bawa ke ruang bersalin sus" kata dokter tersebut dan para suster itu segera mendorong brangkar tersebut ke ruang bersalin.


Sesampainya di ruang bersalin Vano ingin menemani istrinya tapi dilarang oleh dokter yang menangani Vina.


"Maaf pak, bapak tunggu diluar saja, istri anda biar kami yang tangani" kata dokter tersebut lalu menutup pintu.


"Istri anda baru pembukaan tujuh, kita masih perluh menunggu bebera saat lagi untuk kelahiran anak bapak,silahkan masuk untuk menemui istri anda terlebih dahulu" kata dokter tersebut.


"Baik dok, terima kasih" kata Vano lalu meninggalkan sang dokter dan menemui istrinya.


Saat Vano memasuki ruang bersalin, dia melihat istrinya sedang berbaring dengan keringat membanjiri wajahnya, Vano lalu menghampiri istrinya itu.

__ADS_1


"Sayang, sabar yaa, kamu harus kuat demi anak kita" kata Vano lalu menghapus keringat istrinya.


"Tapi ini sakit sekali Van, aku gak kuat" jawab Vina meneteskan air matanya.


"Sayang, jangan buat mama kesakitan yaa, kasian mama nak" kata Vano mengusap lembut perut istrinya, membuat Vina sedikit merasa tenang.


"Van, usap lagi perutnya, kayaknya anak kita mau di elus-elus sama kamu sebelum dia keluar" kata Vina.


"Anak kita sayang" jawab Vano kembali mengusap perut istrinya.


Tidak lama kemudian perut Vina kembali merasakan sakit luar biasa membuat Vano bingung harus berbuat apa.


"Van panggil dokter, cepatan" teriak Vina membuat Vano segera berlari memanggil dokter, tidak lama kemudian Vano kembali dengan dokter dan beberapa perawat.


"Maaf pak, bapak tunggu di luar saja yaa" kata dokter tersebut.

__ADS_1


Vano pun keluar dari ruang bersalin dengan frustasi karena dia tidak bisa menemani istrinya


__ADS_2