
Saat ini Vano sedang mondar mandir di luar ruangan karena mencemaskan keadaan istrinya, dan kini dia baru ingat kalau dia ternyata belum mengabari orang tuanya dan juga mertuanya.
Vano lalu mengambil ponselnya dan menghubungi mertua dan orang tuanya.
Saat Vano baru mengakhiri panggilannya seorang suster datang menghapirinya.
"Permisi pak, istri bapak mau anda menemaninya di dalam" kata suster tersebut.
Tanpa menjawab perkataan suster itu Vano segera berlari menemui istrinya di ikuti oleh suste dibelakangnya. Vano kemudian menghampiri istrinya lalu memegang tangan istrinya dan satu tangannya lagi mengusap kening istrinya yang sudah bermandikan keringat.
"Sayang kamu harus kuat demi anak kita" kata Vano lalu mencium kening istrinya.
"Bu, dengarkan aba-aba saya yaa supaya proses bersalinnya berjalan dengan lancar" kata dokter itu.
"Ayoo bu, tarik nafas dulu, lalu hembuskan secara perlahan" kata dokter mengarahkan dan di ikuti oleh Vina.
"Ayoo bu, mulai mengejan, dorong terus, ini kepalanya sudah mau kelihatan" kata dokter itu.
__ADS_1
"Ayoo sayang, kamu harus kuat demi anak kita" kata Vano sambil menggenggam erat tangan istrinya.
Vina pun mengejan dengan kuat sambil mencakar rambut dan tangan suaminya, membuat Vano mengeluh kesakitan.
"Sayang, rambut sama tangan aku jangan di cakar ini perih sayang" kata Vano sambil meringis.
"Diam kamu, ini semua juga gara-gara kamu, lagian sakit yang kamu rasakan tidak sebanding dengan yang ku alami sekarang" jawab Vina memarahi suaminya.
"Kan kita buatnya berdua sayang" kata Vano lagi.
"Baiklah sayang, aku pasrah, yang penting kamu lahirin anak kita dengan selamat dan kamu juga selamat" kata Vano mengala, lalu menghela nafasnya.
"Bu, dorong sedikit lagi, ini kepalanya sudah mulai keliatan" kata dokter menghentikan pertengkaran mereka.
Vina lalu mengejan dengan sekuat tenaga dengan tangan yang sibuk menjambak rambut dan mencakar tangan Vano, sementara lelaki itu hanya meringis kesakitan.
"Ayoo bu, sedikit lagi, ini kepalanya sudah kelihatan" kata dokter itu lagi, Vina lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya, kemudian menghembuskannya, setelah itu dia kembali mengejan sekuat tenaga dan tidak lama kemudian terdengar suara tangisan bayi yang menggema di ruangan itu.
__ADS_1
Menderangar suara tangis anaknya tersebut Vina dan Vano meneteskan air mata bahagianya.
"Terima kasih sayang, kamu sudah berjuang melahirkan anak kita" kata Vano lalu mencium kening istrinya, sementara Vina hanya mengangguk mendengar ucapan suaminya.
"Selamat pak,bu, anaknya sudah lahir dengan selamat, jenis kelaminnya laki-laki, silahkan bapak keluar dulu, soalnya ibunya mau kami bersihkan dan anaknya juga mau kami mandikan terlebih dahulu" kata dokter itu dan di angguki oleh Vano.
Vano pun keluar dari ruang bersalin dengan perasaan yang sangat bahagia dan senyum tidak pernah lepas dari bibirnya.
"Van, gimana keadaan istri kamu" tanya mertua Vano yang ternyata sudah duduk di kursi tunggu.
"Vina sudah melahirkan dengan selamat ma, dan sekarang aku sudah resmi jadi papa" jawab Vano antusian.
"Selamat yaa Van, dan terima kasih sudah memberi kamu cucu" timpat Ani membuat Vano hanya tersenyum.
"Selamat yaa Van, semoga kamu jadi papa yang bertanggung jawab" kata Dimas sambil memeluk anaknya.
"Maafkan Vano, kalau misalnya selama ini Vano suka nakal dan tidak mendengarkan kalian" jawab Vano membalas pelukan ayahnya, lalu kedua mertua dan mamanya juga ikut memeluknya.
__ADS_1