Musuhku Adalah Suamiku

Musuhku Adalah Suamiku
Mencoba berbaikan


__ADS_3

Hati Vina kembali terasa nyeri dan sesak saat dia tanpa sengaja melihat Vano makan berdua dengan gadis lain, tanpa sadar air mata pun lolos dari mata indahnya.


"Vin, kamu kenapa, kok tiba-tiba nangis gitu" tanya Rani heran.


"Aku tidak apa-apa kok, kita pulang aja yaa belanjanya lain kali aja" jawab Vina lalu manarik tangan sahabatnya menuju parkiran, Vinapun mengantar sahabatnya terlebih dahulu lalu kemudian kembali ke rumahnya.


Sesampainya di rumahnya, Vina langsung menuju kamarnya dan membuang tas salempangnya ke atas kasur king sizenya.


"Kenapa siih Van, kamu selalu jalan sama perempuan berbeda, apa kurangnya aku, kamu dulu bilangnya cinta sama aku, sekarang mana buktinya" kata Vina pada dirinya sendiri sambil menghapus air mata yang sudah membajiri pipinya.


"Walapun aku tidak cinta sama kamu tapi setidaknya kamu menghargai aku" lanjut Vina lagi sambil mengacak-ngacak rambutnya frustasi, dan tidak lama kemudian tangisnya berhenti karena dia sudah lelah menangis dan akhirnya tertidur dengan sendirinya.


Malam harinya Vina sudah menyiapkan makan malam untuk suaminya, selama pernikahan mereka, baru kali ini Vina menyentuh dapurnya, saat makanan sudah tertata rapi Vina duduk dimeja makan sambil menunggu Vano kembali bekerja, tidak lama kemudian terdengar suara pintu yang terbuka dan terlihat Vano sedang mamasuki rumah.


"Van kita harus bicara" panggil Vina membuat Vano menolehkan kepalanya ke sumber suara.

__ADS_1


"Emang apa yang harus kita bicarakan" kata Vano lalu melangkahkan kakinya menuju meja makan.


"Ini kamu masak" lanjut Vano lagi saat melihat banyaknya makanan yang tertata rapi di atas meja.


"Iyaa, sebaiknya kita makan dulu, baru setelah itu kita bicarakan semua masalah kita" kata Vina.


"Tumben kamu masak, tapi baiklah aku ingin mencicipi masakan kamu" jawab Vano lalu mengangkat piringnya, Vina yang langsung mengerti pun langsung menuangkan nasi beserta lauknya dan memberikannya pada Vano, mereka pun makan dalam diam.


***


"Masakanmu lumayan juga" kata Vano saat mereka telah menyelesaikan acara makannya.


"Yaa aku siih suka aja kalau di masakin tiap hari, jadi tidak perlu beli di luar lagi, masakan rumah juga lebih sehat" jawab Vano.


"Dan apa kamu juga bisa meninggalkan wanita-wanitamu itu" kata Vina takut-takut.

__ADS_1


"Itu semua tergantung dari kamu Vin, mereka bisa memberikan apa yang aku inginkan, sedangkan kamu tidak bisa kan" jawab Vano.


"Tapi aku belun siap Van, emang harus kita melakukannya" tanya Vina.


"Kita itu suami istri Vin, jadi itu hal yang wajar saja, dan jangan salahin aku kalau aku cari itu sama perempuan lain, karena kamu belum bisa memberikannya" kata Vano membuat Vina hanya terdiam di tempatnya.


"Aku mau mandi dulu, aku capek" lanjut Vano lalu meninggalkan Vina yang masih termenung di tempatnya.


Setelah memikirkan semuanya akhirnya Vina bangkit dari duduknya dan menuju kamar Vano, sesampainya di sana Vina langsung mengetuk pintu kamar pria itu dan munculnya Vano dari balik pintu.


"Ada apa lagi" kata Vano.


"Boleh aku masuk" jawab Vina, kemudian Vano membuka pintunya lalu Vina memasuki kamar pria itu dan duduk di atas ranjangnya.


"Apa kamu tidak akan meninggalkan aku kalau kita melakukan itu" tanya Vina.

__ADS_1


"Kita sudah jadi suami istri dan kita sudah berjanji dihapan Tuhan" jawab Vina.


"Baiklah mari kita lakukan itu" kata Vina lalu menghela nafasnya.


__ADS_2