
"Apa kamu yakin, kalau kamu benar-benar kerja" kata Vina masih sengan cueknya.
"Iyaa sayang, aku selama ini keluar kota karena ada masalah di sana, dan juga ada karyawan aku yang korupsi, makanya aku lama keluar kotanya" jawab Vano berusaha menjelaskan.
"Aku tidak percaya sama kamu" kata Vina.
"Sayang, kamu harus percaya sama aku, aku serius pergi ke luar kota" jawab Vano masih berusaha menjelaskan.
"Bagaimana aku harus percaya sama kamu Van, selama kamu pergi saja kamu tidak perna menghubungi aku, bahkan menanyakan kabar kami saja kamu tidak perna, dan lagi kata pacar kamu, kalian sedang menantikan kelahiran anak kalian" Vina menangis sangat kencang karena dia tidak dapat menahan sesak di hatinya saat mengatakan semuanya, sementara Vano dia bingung dengan perkataan istrinya itu.
"Sayang, dengarkan aku, aku tidak tau pacar yang mana yang kamu maksud, terus waktu itu aku juga tiba-tiba berangkat keluar kota, pas aku di bandara aku ingin menghubungi kamu, tapi ponsel aku di copet sama orang, terus pas aku sampai di sana, aku membeli ponsel yang baru tapi lagi, ponsel itu di copet lagi, jadi aku tidak bisa menghubungi kamu" Vano menjelaskan dan menarik Vina yang masih sesugukan ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Tapi perempuan yang waktu itu kamu bawa ke rumah ini, dia bilang dia sedang mengandung anak kamu, dan juga saat aku berusa menghubungimu dia yang menjawab ponselmu" kata Vina masih sesuguhkan.
"Maafkan aku sayang, dulu aku memang pacaran sama dia supaya kamu menyadari perasaan kamu sama aku, tapi aku tidak perna menyentuhnya sedikit pun, tapi tunggu dulu, kamu bilang dia yang menjawab ponselku" tanya Vano yang membuat Vina mengangguk dalam pelukan Vano.
"Aku yakin, dia pasti sedang merencanakan sesuatu untuk menghancurkan rumah tangga kita sayang" lanjut Vano lagi.
"Aku benaran tidak bohong sama kamu Vin, kamu bisa tanya sama papa, karena aku keluar kota sama papa Angga" kata Vano membuat istrinya mendonggakkan kepalanya.
"Aku akan memaafkanmu, tapi dengan satu syarat" kata Vano menatap intens istrinya.
"Apa?" jawab Vina dengan polos membuat Vano membaringkan istrinya dengan perlahan.
__ADS_1
"Aku kangen sama kamu, sejak ada Axel kamu jarang sekali memanjakan aku, jadi mumpung Axel masih tidur boleh yaa" kata Vano mengecup kening istrinya, sementara Vina yang peka terhadap suaminya hanya mengangguk dan Vano pun mulai melaksanakan hal yang di inginkannya dan Vina hanya pasrah menerimanya.
Setelah kegiatan panas mereka, Axel menangis dengan kencang karena keributan yang di ciptakan oleh kedua orang tuanya, Vano pun bangun dari tidurnya dan melihat Vina kembali tisur dengan pulasnya.
"Anak papa, pintar bangat siih, bangun di waktu yang tepat" kata Vano berbicara pada Axel, namun anaknya masih saja menangis.
Vano pun membawa Axel ke ranjang mereka membuat Vina terbangun karena suara tangisan Axel.
"Kamu lapar nak yaa, maaf yaa mama tadi ketiduran" kata Vina mengambil Axel dari gendongan Vano dan mulai menyusuinya, melihat itu Vano kembali menelan ludahnya dengan susah payah, sementara Vina yang menyadari tatapan Axel kembali menegur pria itu.
"Ini jatah anak kamu, jangan macam-macam kamu" ancam Vina yang membuah Vano hanya tersenyum sambil menelan ludahnya.
__ADS_1