
Kini sudah satu bulan Vano berada di rumah sakit, namun Vano belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun dari tidur panjangnya, selama itu pula Vina selalu setia menemani dan merawat suami tercintanya di rumah sakit, seperti saat ini Vina selalu mengajak Vano untuk mengobrol walaupun tidak ada respon dari Vano, sementara itu seseorang kini tengah mengawasi interaksi mereka dengan senyum sinis yang tersungging di bibirnya.
"Sayang, kapan kamu bangun,kalau kamu tidak bangun secepatnya, aku jamin bakal cari ayah yang baru untuk Axel" bisik Vina pada suaminya itu, namun Vina tidak menyadari jari Vano yang sedikit bergerak merespon ucapan Vina.
Setelah itu ponsel Vina bergetar menandakan sebuah panggilan masuk, Vina pun mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas dan melihat ternyata mama mertuanya yang menelfonnya, namun belum sempat memberi salam, mertuanya sudah lebih dulu berbicara dengan panik.
"Halo Vin, Axel hari ini sangat rewel, dia nangis terus, mama sudah berusaha tenangin tapi dia masih nangis, sepertinya dia nyari kamu, kamu pulang sebentar yaa nak" kata Ani sedikit panik.
"Baiklah ma, aku segera pulang"kata Vina mematikan sambungan telfon lalu kembali meletakkan ponselnya di atas meja.
"Van, aku pulang dulu yaa, anak kita nyariin aku, kamu baik-baik yaa disini" kata Vina lalu mencium kening suaminya, setalah itu Vina berjalan menuju pintu ruang rawat Vano lalu meninggalkan Vano sendirian di sana.
__ADS_1
Sementara orang yang sedari tadi mengawasi mereka, saat melihat Vina sudah meninggalkan ruang rawat Vano, segera masuk ke dalam dan saat itu mata Vano perlahan terbuka dan seketika matanya menangkap seseorang yang kini tersenyum sinis kepadanya, Vano ingin berbicara tetapi tenaganya belum sepenuhnya terkumpul.
Sementara orang itu yang melihat mata Vano sudah terbuka, tersenyum sinis lalu mengambil sesuatu dari saku banjunya lalu menyuntikkannya pada selang infus Vano, melihat itu Vano berusaha berteriak meminta tolong namun orang itu mengambil bantal yang terletak pada sofa dan menutupi wajah Vano kemudian menekannya hingga Vano kesulitan untuk bernafas, lima menit kemudian Vano sudah tidak melakukan pergerakan membuat orang itu kembali tersenyum sinis, dia kemudian meletakkan kembali bantal tersebut dengan rapi agar tidak membuat orang curiga, lalu meninggalkan ruangan tersebut dengan buru-buru.
***
Saat ini Vina baru tiba di rumah mertuanya, saat dia mendengar suara tangisan Axel dia segera berlari memasuki rumah mertuanya itu.
"Ma, Axel kenapa" tanya Vina dengan panik.
"Apa Axel kangen sama papanya yaa Vin" tanya Ani.
__ADS_1
"Mungkin bu, tapi aku tidak mungkin membawa Axel ke rumah sakit ma" kata Vina Vina menatap sedih anaknya.
Saat Axel sudah tertidur nyenyak dalam gendongan Vina, suara ponsel Ani berdering, Ani lalu memgambil ponselnya lalu menjawab panggilan tersebut.
"Apa??, baiklah kami segera ke sana" kata Ani panik lalu mematikan sambungan telfonnya.
"Ada apa ma, kenapa muka mama terlihat sangat khawatir" tanya Vina yang juga sebenarnya merasa was-was.
"Vano..Vanoo.." kata Ani tidak mampu meneruskan kata-katanya.
"Vano kenapa ma" kata Vina berusaha tenang.
__ADS_1
"Vanoo.... dia kritis" jawab Ani tidak mampu membendung air matanya, sementara Vina yang panik mendengar keadaan suaminya, langsung mengambil ponsel mertuanya karena dia lupa meletakkan ponselnya entah dimana lalu menghubungi mamanya.
Tidak lama kemudian Devi datang, dan Vina menitipkan Axel dan mamanya lalu segera berangkat ke rumah sakit bersama mertuanya.