
Sudah satu bulan berlalu sejak makan malam di rumah Vina, perempuan itu masih saja belum mau di sentuh oleh Vano, seperti saat ini Vano bangun dengan tangan yang melingkar di perut ramping istrinya itu, membuat istrinya itu marah besar atas tindakan Vano yang tidak sadar tersebut.
"Iss Vano tangan kamu" teriak Vina.
"Kenapa siih, ini kan masih pagi dan hari ini itu hari libur" jawab Vano yang belum sadar dengan tangannya.
"Tangan kamu Vanooo" teriak Vani lagi namun tidak di dengarkan oleh Vano karena dia masih sangat mengantuk.
Namun, karena Vina sudah terlanjur kesal perempuan itu pun dengan refleks mendorong suaminya dari tempat tidur.
"Auuu,, kamu kenapa siih dorong aku, ini sakit tau" kata Vano yang sudah sedikit emosi.
"Harusnya aku yang marah, kenapa kamu meluk aku seenak jidat kamu" kata Vina yang juga menaikan nada suranya.
"Astaga Vina, aku itu suami kamu, dan hal itu wajar saja" kata Vano mulai frustasi.
__ADS_1
"Tapi aku yang tidak mau di sentuh sama kamu" teriak Vina.
"Baiklah kalau itu mau kamu, aku tidak akan pernah menyentuhmu lagi, aku juga sudah tidak tahan dengan semua ini, sudah cukup selama ini aku sabar menghadapi kamu" kata Vano dengan penuh emosi dan meninggalkan Vina begitu saja yang masih belum percaya dengan kata-kata Vano, karena baru kali ini dia melihat kemarahan laki-laki itu.
***
Sudah seminggu berlalu setelah pertengkaran Vina dan Vano, kini lelaki itu sudah tidak pernah menyapa istrinya, bahkan kini dia tidur di kamar tamu, namun hal itu membuat Vina dilema, antara senang karena Vano sudah tidak seranjang dengannya yang artinya lelaki itu sudah tidak bisa menyentuhnya sesuka hati, tapi di sisi lain dia juga merasa kehilangan karena sudah hampir setahun Vano menemani tidurnya.
"Van, kamu gak sarapan dulu" tanya Vina yang melihat Vano menuruni tangga dan sudah siap berangkat ke kantor, namun Vano melewatinya begitu saja tanpa menjawab pertanyaan istrinya itu membuat gadis itu hanya menghela nafasnya.
***
"Van, aku mau bicara sama kamu" kata Vina.
"Ada apa, bicara aja" jawab Vano sambil memperbaiki dasinya.
__ADS_1
"A..aku.. aku.." kat Vina gugup.
"Kalau tidak ada yang penting, saya permisi" jawab Vano membuat Vina tercengang karena kini suaminya menggunakan bahasa formal kepadanya, Vani pun hanya menatap kepergian Vano.
***
Malam harinya Vani kembali menunggu suaminya pulang kerja karena dia ingin menyelesaikan masalah mereka, namun kini sudah pukul 22.30 suaminya itu belum juga pulang, namun Vani masih harus menahan kantuknya.
Saat jam sudah menunjukkan pukul 22.50, Vina mendengar suara pintu terbuka dan menolehkan kepalanya ke sumber suara dan mendapati Vano yang baru pulang dari kantor dengan muka lelahnya, saat Vano akan menaiki tangga Vani segera memanggilnya.
"Van, kita harus bicara" kata Vani namun lelaki itu hanya diam saja.
"Ini sudah hampir dua bulan tapi kenapa kamu masih mendiamkanku" lanjutnya lagi.
"Bukannya ini yang kamu inginkan" kata lelaki itu dengan dingin.
__ADS_1
"Aku cuma melarangmu untuk tidak menyentuhku bukan mendiamkanku seperti ini" kata Vina dengan emosi.
"Bukannya kamu tidak menganggap saya ada?, sudahlah saya capek" kata Vano lalu meninggalkan perempuan itu.