Musuhku Adalah Suamiku

Musuhku Adalah Suamiku
Pingsan


__ADS_3

Kini Vano sukses membuat dapur yang awalnya rapi kini sudah seperti kapal pecah, ditambah masakannya hancur tidak berbentuk, dia ingin memasaknya kembali namun ternyata Vina sudah menuruni tangga menuju dapur.


"Van sudah jadi belum kari ayam aku" tanya Vina dengan santai, membuat Vano takut karena dia telah membuat dapurnya berantakan.


"Sudah kok, tapi aku masak lagi yaa soalnya ini kayaknya tidak enak deh" jwab Vano memperlihatkan masakannya yang tidak menarik sama sekali.


"Tidak usah, dari tadi aku sudah lapar sekali" kata Vina lalu membawa kari ayam buatan Vano ke meja makan, dia pun mengambil piring dan mulai mencicinya membuat Vano was-was kalau istrinya itu kembali marah, namun Vani terkejut melihat Vina yang begitu menikmati masakannya.


"Vin, emang itu enak sampai kamu lahap gitu" tanya Vano heran.


"Ini enak kok Van, kamu coba deh" kata Vina lalu menyuami Vano, namun sedetik kemudian Vano membulatkan matanya lalu berlari menuju wastafel dan mengeluarkan makanan tersebut.

__ADS_1


"Vin, kenapa kamu bilang ini enak, ini asin bangat, rasanya juga tidak karuan, sini biar aku beli yang baru saja" kata Vano lalu mengambil piring Vina.


"Iihh Vano, ini itu enak, dan aku cuma mau makan ini" kata Vina lalu merebut kembali piringnya.


"Ini tidak enak sayang, nanti kamu sakit kalau makan ini" jawab Vano dengan lembut.


"Tapi aku maunya makan ini" kata Vina sambil meneteskan air matanya, Vano yang tidak tega pun membiarkan saja.


Saat ini Vano sedang berada di ruang kerjanya, sementara Vina kini sedang duduk bersandar di atas tempat tidurnya sambil memainkan ponselnya, namun saat sedang asyik bermain ponsel tiba-tiba perut perempuan itu kembali bergejolak, Vina pun segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya, sementara Vano yang mendengar muntahan seseorang segera berlari menuju kamarnya dan mendapati istrinya sedang berada di kamar mandi dengan muka yang pucat.


"Sayang" kata Vano lalu mendekati istrinya sambil memijat tengkuknya.

__ADS_1


"Tadi kan sudah aku bilang masakan aku tidak usah dimakan, sekarang kamu muntah lagi kan, kita ke rumah sakit aja yaa sayang, aku takut terjadi sesuatu sama kamu" lanjut Vano lagi namun Vina hanya menggeleng.


"Muka kamu pucat sayang, aku takut terjadi sesuatu sama ka..." namun belum sempat Vano meneruskan ucapannya Vina tiba-tiba jatuh pingsan membuat Vano sangat panik.


Lelaki itu pun segera menggendong istrinya, dan mengambil kunci mobilnya yang terletak di atas nakas, lalu segera menuruni tangga dan menuju ke garasi, Vano pun melektakkan istrinya dengan hati-hati atas mobil, saat di rasa istrinya sudah nyaman, dia memutari mobilnya lalu duduk di kursi kemudi, Vano segera menjalankan mobilnya di atas kecepatan rata-rata sambil melirik istrinya yang semakin pucat.


"Sabar yaa sayang kita sebentar lagi sampai" ucap Vano sambil memegang tangan istrinya yang terasa dingin, dan tidak lama pun mereka telah sampai di rumah sakit, Vano lalu memarkirkan mobilnya dengal asal dan menggendong istrinya ke UGD dan memanggil dokter yang berjaga, kemudian perawat pun membawakan brangkar dan Vano membaringkan istrinya, Dokter dan para perawat segera mendorong Vina, sementara Vano mengikutinya dari belakang, namun saat telah sampai di pintu UGD dokter melarangnya masuk.


"Maaf, bapak tunggu di luar saja, pasien biar kami yang tangani" kata Dokter tersebut.


"Kenapa saya tidak boleh masuk dok, dia istri saya" jawab Vano sangat panik.

__ADS_1


"Maaf pak, itu sudah prosedur rumah sakit" kata dokter tersebut dan menutup pintu, meninggalkan Vano sendirian yang sedang dilanda rasa cemas.


__ADS_2