
Vina dan Vano kini telah berada di rumah mereka, namun saat di perjalan Vina tidak berbicara sedikit pun membuat Vano heran dengan istrinya itu.
"Sayang kamu kenapa, kok dari tadi diam saja, aku ada salah sama kamu?" tanya Vano.
"Kamu itu bikin malu tau gak, ngapain kamu tanya begitu tadi sama dokter" jawab Vina dengan kesal.
"Yaa kan supaya kita tau sayang" kata Vano tersenyum menggoda membuat Vina semakin kesal.
"Aku lagi marah sama kamu, jadi hari ini kamu tidur diluar" kata Vina lalu menaiki tangga menuju kamarnya dan mengunci kamarnya.
Sementara Vano yang melihat kelakuan istrinya tersebut hanya menggelengkan kepalanya.
"Apa orang hamil memang begitu yaa, suka marah-marah" kata Vano pada dirinya sendiri lalu mendudukkan bokongnya di atas sofa dan mengecek email dari sektetarisnya.
Tiga puluh menit kemudian Vano melihat istrinya menuruni tangga namun Vano hanya mendiamkannya karena takut itrinya akan marah lagi, Vina lalu mendekati Vano dan duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Van, aku pengen es cendol, beliin yaa" kata Vina sambil memeluk suaminya.
"Bukannya kamu lagi marah sama aku, lagian dimana beli es cendol jam segini sayang" kata Vano frustasi dengan permintaan istrinya.
"Aku tidak akan marah lagi kalau kamu beliin, lagikan ini kan permintaan anak kamu juga, nanti kalau tidak di turutin anak kamu ileran, kamu mau begitu" jawab Vina sambil mencium pipi suaminya.
"Baiklah, tapi kasih aku ciuman dulu biar semangat nyarinya" kata Vano sambil menunjuk bibirnya dan sedetik kemudian sebuah benda kenyal dan lembut mendarat di bibirnya.
"Makasih, kamu tunggu sebentar yaa, aku cari dulu" kata Vano dan bangkit dari duduknya.
"Hati-hati yaa sayang" jawab Vina membuat Vano menolehkan kepalanya dan tersenyum karena baru kali ini Vina memanggilnya sayang, sementara Vina merona mehan malu.
Sudah satu jam Vano mencari es cendol namun Vano tidak melihat satu pun penjual es cendol yang buka.
"Vina ada-ada saja deh, lagian siapa yang menjual cendol tengah malam begini" kata Vano pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Apa aku buat sendiri saja yaa" lanjut Vano lagi lalu segera mengambil ponselnya dan mencari cara membuat es cendol, tidal lama kemudian Vano pun melajukan mobilnya ke mini market yang buka 24 jam dan mencari bahan yang di butuhkan.
***
Saat Vano membuka pintu utama rumahnya, dia bersyukur karena tidak mendapati istrinya menunggu di ruang tamu, dia pun lalu mengendap-ngendap menuju dapur dan mengeluarkan belanjaan yang tadi di belinya.
Vano kemudian kembali membuka ponselnya dan mulai membuat es cendol, saat sudah selesai berkutat di dapur, dia lalu membersihkan dapur yang sudah di buat berantakan karena takut istrinya akan marah.
Setelah selesai membersihkan dapur Vano lalu menyajikan cendolnya kedalam mangkuk dan menambahkan sedikit es batu, setelah itu dia lalu membersihkan diri di kamar mandi yang berada di dapur karena Vano takut jika istrinya tidak suka mencium bau keringatnya.
Setelah mandi Vano lalu menuju kamarnya dan mendapati istrinya tengah tertidur lelap.
"Sayang, es cendolnya sudah ada, bangun yuk" kata Vano sambil mengusap lembut kepala istrinya, namun istrinya itu hanya menggeliat pelan dan membalikkan badannya.
Melihat itu Vano hanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Padahal aku sudah capek bikinnya, kamu mala tidur" kata Vano sambil menatap tubuh istrinya yang terbungkus selimut.
Vano lalu kembali turun ke dapur untuk menyimpan cendolnya berharap besok pagi istrinya memakannya.