
Enam bulan kini telah berlalu dan Vano sudah kembali pada aktivitasnya kembali ke kantor, jam di samping nakas sudah berbunyi dari tadi tapi lelaki itu masih enggan bangun dari tidurnya.
Sementara Vina yang sedang menyiapkan sarapan di dapur menunggu Vano untuk turun namun lelaki itu belum juga menampakkan batang hidungnya membuat Vina kesal di buatnya.
Dia pun lalu menuju kamar mereka dan terkejut saat melihat suaminya masih bergelung di bawah selimut, Vina lalu menghampiri suaminya itu.
"Vano, bangun, kamu tidak kerja, ini sudah jam 8 lewat dan kamu masih enakan tidur" kata Vina sedikit berteriak dan menyibakkan selimut Vano, namun lelaki itu tidak terganggu sama sekali.
"Iissdhh Vano bangun, ingat ada istri dan anak kamu yang harus kamu biayai, jangan malas kayak gini" lanjut Vina lagi berusaha menggoyangkan tubuh Vano, namun tangannya di cekal oleh Vano dan Vina pun jatuh di atas tubuh suaminya.
__ADS_1
"Kamu kenapa siih sayang jadi cerewet gini, aku kan CEO nya jadi siapa yang akan marah jika aku bolos sehari" kata Vano memeluk erat istrinya.
"Lepasin Van, aku mau menyiapkan air mandi Axel dan juga sarapan dia" kata Vina berusah lepas dari kukungan Vano.
"Axel masih tidur sayang, dan kali ini kamu tidak akan bisa lolos dari aku" kata Vano tersenyum penuh arti membuat Vina was-was, dan Vano mengeratkan pelukannya.
"Kamu tidak bisa lari dariku sayang" kata Vano lalu membalik posisi mereka.
"Lepasin Van, aku mau ngurusin Axel" kata Vina berusaha melepaskan diri dari pelukan Axel, namum usahanya itu hanya sia-sia karena tenaganya tidak sebanding dengan lelaki itu, membuat Vina hanya pasrah karena sudah kelelahan.
__ADS_1
"Apa kamu sudah lelah sayang" kata Vano tersenyum kemenangan tapi tidak di jawab oleh Vina, melihat istrinya hanya pasra di bawa kukungannya, membuat Vano gemas dengan istrinya itu dan langsung mengecup bibirnya sekilas.
Mendapat perlakuan seperti itu Vina memalingkan wajahnya sebagai tanda protesnya, namun lagi-lagi Vano tidak menghiraukannya dan justru kembali menempelkan bibirnya pada bibir istrinya yang sudah menjadi candu baginya, di lumatnya sedikit bibir itu namun Vina tidak memberikan reaksi apa pun, Vano yang gemas dengan istrinya kemudian menggigit bibir mungil istrinya membuat Vina langsung membuka mulutnya, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Vano langsung melakukan aksinya tanpa protes dari istrinya.
Tigu puluh menit berlalu, dan kini Vina dan Vano tengah berbaring di atas kasur king size mereka dengan selimut tebal yang menutupi badan mereka dengan posisi Vano yang memeluk istrinya, namun tiba-tiba Axel menangis dengan kencang menganggu keromantisn kedua orang itu.
"Dengarkan Axel nangis, sekarang kamu yang urusin, aku capek, siapa suruh kamu buat aku kelelahan" kata Vina lalu mengubah posisinya berbaring membelakangi suaminya, mendengar itu Vano tidak bisa protes karena dia takut Vina tidak akan memberikan jatah lagi kepadanya.
Vano lalu mendekati box Axel dimana anaknya itu masih menangis, Vano kemudian mengendong anaknya itu kemudian meletakkannya di atas ranjangnya, kemudian melepaskan baju dan popok anaknya, lalu berjalan ke kamar mandi dan membersihkan badan anak mungilnya itu, setelah memandikan Axel, Vano kembali meletakkannya ke dalam box bayi lalu turun ke dapur mengambilkan bubur dan membutkan susu untuk anaknya, setelah itu kembali ke kamar dan mulai menyiapi anaknya, setelah selesai menyuapi Axel, Vano kembali mengajak anaknya bermain sebentar kemudian membaringkannya kembali dan menidurkannya.
__ADS_1