
Saat Vano sedang menunggu perempuan itu di taman tempat mereka janjian, bukan melainkan perempuan itu yang menentukan, Vano duduk sendirian di salah satu bangku karena kondisi taman yang sangat sepi, tidak lama kemudian seseorang berdehem dan menyadarkan Vano dari lamunannya.
"Ehem" dehem orang itu membuat Vano mengalikan pandangannya pada sumber suara, dan dia tidak terkejut lagi melihat orang itu.
"Aku sudah menduga kalau itu pasti kamu" kata Vano dan bangkit dari duduknya.
"Baguslah kalau begitu, karena kamu sudah tidak terkejut melihatku, sebaiknya segera serahkan berkas-berkas itu dan istri bodohmu itu akan segera ku bebaskan" kata orang itu menatap pada berkas yang sedang di pegang oleh Vano.
"Tidak semudah itu, kau bawah aku menemui istriku dan lepaskan dia, maka semua berkas ini akan ku serahkan padamu" kata Vano.
"Baiklah, tapi kalau kau membawa polisi kesana aku jamin istrimu tidak akan selamat" jawab orang itu mengalah.
__ADS_1
Mereka pun kemudian beranjak dari sana, namun saat Vano akan memasuki mobilnya perempuan itu kembali mencegahnya.
"Tunggu dulu" kata perempuan itu menghentikan gerakan Vano saat ingin membuka pintu mobil.
"Ada apa lagi, aku tidak ingin membuang waktuku" jawab Vano
"Aku tidak sebodoh yang kau pikirkan, bisa saja saat di perjalanan kau menghubungi polisi, jadi serahkan ponselmu dulu baru kita akan kesana" kata perempuan itu membuat Vano menghembuskan nafasnya kasar, tapi tetap menyerahkan ponselnya itu.
"Apa perempuan gila itu tidak takut lewat di jalan ini" gumam Vano pada dirinya sendiri sambil mengangkat bahunya karena merinding.
Tiga puluh menit kemudian akhirnya sampai di tempat tujuan mereka, Vano kemudian turun dari mobilnya dan mengamati sekitar, di sana sangat gelap dan hanya terdapat satu gubuk kecil yang hanya di terangi satu obor yang menyala.
__ADS_1
Melihat gubuk itu Vano yakin di sanalah istrinya di sekap, Vano kemudian segera berlari ke sana tetapi teriakan seseorang menghentikan langkahnya.
"Jika kamu masuk sekarang, aku jamin istrimu tidak akan selamat, di dalam ada penjaga yang menjaga istrimu" kata perempuan itu menghentikan langkah Vano.
"Kenapa kamu menyekap istriku di tempat yang tidak layak seperti ini" desis Vano penuh emosi membayangkan istrinya yang sedang mengandung harus tinggal di tempat seperti ini.
"Kamu masih mau marah-marah di sini atau segera serahkan semua asetmu dan kita akan masuk menemui istri bodohmu itu" kata orang itu santai tidak menghiraukan kemarahan Vano.
"Aku akan menyerahkan semua berkas ini kalau aku sudah melihat keadaan istriku di dalam" kata Vano mengangkat berkas yang sedang di pegangnya, kemudian orang itu pun membuka pintu gubuk itu dan langsung terpampang pemandangan yang membuat mata dan hatinya sangat sakit, jantungnya berdegup kencang melihat kedaaan istrinya yang kini terikat di atas sebuah kursi kayu tua dengan mulut yang di tutup dengan kain, mukanya sangat pucut dan badannya sedikit kurus, Vano kemudian mendekati istrinya itu tapi langsung di tahan oleh dua pengawal perempuan itu.
"Kalau kamu ingin istrimu segera di lepaskan maka cepat serahkan berkas itu" kata perempaun itu masih dengan santainya, mendengar itu Vina berteriak tapi kata-katanya tidak jelas karena mulutnya tertutup dengan kain
__ADS_1
"Lepaskan dulu istriku, saat kau menyerahkannya padaku dokumen ini juga akan ku serahkan padamu" kata Vano membuat orang itu kesal.