My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 11: Terjebak Permainan


__ADS_3

Di sisi lain, Rachel tercengang melihat sebuah bangunan kecil yang dia sendiri tidak ingin untuk sekedar menyewanya. Mulutnya membentuk bulatan O karena tidak menyangka masih ada tempat seperti ini di kota yang cukup besar tersebut.


“Kau yakin tinggal di sini?’ tanya Rachel sambil menepuk tubuh sebab merasakan seperti ada sebuah sengatan nyamuk yang menggigit lengan.


Richard mengangguk, mustahil wanita elite seperti Rachel mau hidup susah. Dia pasti akan membawanya ke tempat yang lebih baik nanti, dan Richard pun bisa ikut keluar dari tempat kumuh pilihan pamannya itu.


"Ayo masuk!"


“Kalau kau mau pergi dan tidur di hotel silakan! Aku tidak akan menghalangimu, tapi jika ayahmu menemukanmu dan membawamu pergi untuk menikahi pria tua itu. Jangan salahkan aku!” ucap Rich memperingatkan.


Mau tidak mau Rachel mengikuti langkah Rich. Dia mengedarkan pandangan ke segala arah dan menatap keadaan di dalam rumah tersebut, sangat tidak layak untuk ditempati, kotor dan juga banyak barang yang telah usang berserakan.


Tidak banyak barang yang tersedia di sana. Bahkan kamar pembantu di rumahnya lebih mewah dari tempat ini.


Richard berbalik dan berniat meninggalkan tempat itu. Akan tetapi, tangan Rachel segera menahannya. “Kau mau ke mana?"


"Aku ada urusan sebentar malam ini. Kau tunggulah di sini!"


"Haruskah kau pergi malam ini juga? Bagaimana jika terjadi sesuatu padaku nanti.”

__ADS_1


Dengan santai Richard melepaskan tangan Rachel di pergelangannya. “Mereka tidak akan menemukanmu jika kau tetap diam dan tidur di sini. Tapi jika kau keluar, Ayahmu bilang dia akan menikahkanmu pada pria tua itu malam ini juga.”


Rachel terdiam. Dia menelan ludahnya sendiri dengan susah payah membayangkan adegan pernikahan paksa itu.


Tanpa basa-basi, Richard melangkah keluar. Dia pergi dengan tanpa permisi menggunakan mobil milik Rachel.


Menyadari dirinya seperti kerbau yang tengah dipermainkan pemiliknya, Rachel sontak membelalak. “Kenapa jadi dia yang mengaturku?” gumamnya kesal.


Rachel berusaha meraba tubuhnya. Sial, dia tidak membawa ponsel untuk menghubungi asistennya, apalagi barang-barang lain, kecuali pakaian yang kini dia kenakan. Rachel menghela napas berat merutuki kebodohannya kali ini. Dia benar-benar frustrasi karena naasnya mobil pun dibawa pergi oleh Richard. “Apa aku bertemu penipu kali ini,” batinnya menggeleng kecil.


Di sisi lain, Richard bergerak menuju sebuah tempat lain. Seorang wanita langsung bergelayut manja menyambut kedatangannya. Hal yang selalu membuat kewalahan dengan sikap Richard adalah terlalu sering bermain di tempat pelacuran. Akan tetapi, apa yang terjadi sebenarnya siapa yang tahu.


Richard hanya mengangguk kecil, membiarkan sang wanita mencium pipi kanan dan kirinya. "Di mana dia?"


"Di kamarmu. Dia sangat senang mendengar kau datang malam ini."


"Baiklah. Aku ke atas dulu." Richard melangkah melewati beberapa wanita yang sudah bergelayut manja dengan pelanggan mereka. Sesekali para wanita tersebut mengangguk sekali mengenali siapa pria yang mereka lewati.


Seorang wanita lainnya menunggu Richard di sebuah kamar khusus. "Kau sudah pulang?" Tanyanya.

__ADS_1


Tanpa Richard mengucap sepatah kata pun, wanita itu lantas menyerahkan sebutir pil untuk diminum Rich dan membantu melepaskan setiap kancing yang masih menutup tubuh pria tersebut sekalian. "Bukankah kau masih terluka? Kenapa bukannya istirahat di sini malah nekat mengejar lintah darat itu? Sini aku lihat!"


"Sudah jangan membahasnya lagi. Lagi pula aku baik-baik saja. Luka itu juga tidak seberapa."


Sebuah pukulan keras mendarat di pundak Rich. "Apanya yang tidak apa-apa? Jelas-jelas ini belum juga sembuh. Berbaringlah, aku akan membantumu mengobatinya!"


Richard lantas tengkurap di atas ranjang sambil memejamkan mata, sedangkan sang wanita mulai menggerakkan tangan dengan beberapa alat medisnya.


"Apa rencanamu kali ini?" tanya wanita tersebut.


"Aku punya rencana sendiri."


“Apa rencanamu kali ini akan berhasil?”


Sebuah anggukan Richard berikan sebagai jawaban, sedangkan matanya masih terpejam merasakan sedikit perih karena luka yang di alami sebelumnya.


"Kau yakin tidak akan terjebak dengan permainanmu sendiri?"


Richard terdiam, pikirannya melayang jauh dari raga. Bukannya menjawab pertanyaan wanita itu, dia malah membayangkan betapa menderitanya Rachel malam ini karena harus tidur di tempat kumuh itu seorang diri dan tidak terlalu memikirkan pertanyaan wanita yang kini bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2