My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 34: Rencana Richard


__ADS_3

Keesokan harinya, Rich yang masih penuh dengan luka lebam bergerak menuju tempat yang direncanakan. Dia adalah sosok orang yang sangat suka jika bertemu dengan orang jahat, karena tidak perlulah alasan untuk membalas kejahatan mereka. Dia hanya sedikit membantu Tuhan dalam memberikan karma pada manusia itu.


"Kalian sudah membawanya?" tanya Richard pada beberapa anak buah di sana.


"Sudah, King," jawab seorang anak buah pria.


"Bagus." Sebuah senyuman tersungging di wajah Richard.


Sesaat kemudian, seorang wanita berjalan ke arahnya. "Apa yang terjadi padamu, Rich?" tanyanya berusaha meraih wajah Rich, tetapi dengan segera pria itu malah berpaling.


Hanya dia satu-satunya wanita di sana yang dapat memanggil Richard dengan seakrab itu. Karena memang dialah orang yang paling lama mengikuti sosok Richard, sejak pria tersebut masih lagi remaja.


"Bukan masalah besar," jawab Rich santai.


Wanita itu memberikan sebuah pil, seperti biasanya. Karena inilah Richard tidak pernah lagi mengunjungi dokter pribadinya. Dia tidak ingin terus larut dalam konsultasi, dan memilih bergantung pada obat. Lagi pula, obat yang digunakan cukup efektif pada penyakit yang diderita selama ini, dibandingkan dengan konsultasi bersama dokter.


Richard melangkah menuju sebuah ruangan. Kali ini dia bukan hanya sudah menculik Hanna, melainkan semua orang yang bekerja sama dengan wanita itu. Termasuk seorang sutradara, dan wartawan yang hendak memuluskan rencana Hanna dalam menjebak Rachel semalam.


"Kalian masih mengingatku?" tanya Rich setelah memasuki ruangan sambil mengeluarkan sebatang rokok dari tempatnya.


"Kau? Bukankah kau pria semalam?" tanya pria yang tidak lain merupakan seorang sutradara film panas.


Richard tidak langsung menjawab. Dia menghisap dalam-dalam tembakau di bibirnya dan mengembuskan kemepul asap yang seketika membentuk awan dari mulutnya. "Aku suka gayamu. Meskipun usiamu bisa di bilang tidak lagi muda. Tapi kau memiliki ingatan yang kuat."


“Ap-apa maumu, hah?” tanya sang sutradara dengan terbata-bata.


Lagi-lagi Rich menghembuskan asap rokok dari mulutnya. Namun, kali ini dia mengarahkannya tepat di wajah pria di hadapannya saat ini. “Apa yang sudah kau rencanakan dengan Hanna?”

__ADS_1


Pria itu sontak membelalakkan mata, kedua bola matanya membulat dengan sempurna dan bisa saja keluar dari tempatnya. “Si-siapa Hanna?” Dia berpura-pura tidak mengenal Hanna.


Akan tetapi bukan Rich namanya jika tidak mengenal siapa lawannya. Dia menengadahkan tangan, salah satu anak buah di belakang lantas memberikan ponsel pada Rich. Tanpa ragu, Rich menyunggingkan senyum smirknya. Sungguh bak iblis berkepala hitam yang mempesona. Dia memutar video asli, hasil produksi dari sang sutradara film di depannya. “Apa kau masih lupa siapa Hanna?”


Seakan bertemu dengan sosok tidak kasat mata, pria itu semakin lebar membelalak. Tidak menyangka, jika pria muda di hadapannya bahkan bisa menemukan banyaknya video panas yang dia produksi selama ini, dengan tokoh pemeran yang sudah di samarkan tentunya. Padahal editan dari timnya sudah sangat sempurna, bagaimana bisa pria di hadapannya menemukan video asli mereka.


“Bagaimana bisa?’’ tanyanya tidak percaya.


Hanna memang mengawali karir dari menjadi model eksotis sebuah majalah dewasa. Tidak ingin karirnya hanya berdiam diri di sana, dia pun mencoba berbagai casting film. Namun sayangnya, semua berakhir dengan kegagalan, hingga akhirnya dia pun bertemu dengan sutradara yang menawarkan job besar dengan bayaran mahal tentunya. Dia mendapatkan peran pertama dengan menukar tubuhnya, bukan hanya bersedia menjual diri, juga harus bersedia di rekam di kala mereka tengah bermain. Hingga akhirnya Hanna pun setuju, tetapi meminta mereka untuk menyamarkan wajahnya.


Entah bagaimana cara Richard menemukan sisi gelap dari seorang Hanna. Namun, inilah pembalasan yang sudah Richard persiapkan sejak awal untuk wanita itu. “Aku yakin, kalian berniat melakukan hal yang sama pada Rachel."


“Ti-tidak!” sanggah pria itu dengan cepat.


“Benarkah? Apa itu artinya aku salah menduga?” ucap Richard dengan senyum bak boneka Chukky yang bersiap membunuh mangsanya.


“Baiklah, karena aku sedang berbaik hati. Bagaimana kalau kita bekerja sama?” tawar Rich.


“Apa maumu?”


“Tidak banyak. Kau tahu ‘kan video yang sudah terlanjur kalian sebar.”


“Aku tidak tahu apa pun.” Pria itu masih berusaha menyanggah. Hanya saja, Richard bukanlah orang yang memiliki kesabaran lebih untuk menghadapi makhluk-makhluk seperti mereka.


“Benarkah?” Dengan santainya Richard meletakkan ujung rokoknya yang masih panas di punggung tangan pria itu.


Sang sutradara meringis kesakitan, tangannya bergetar seiring bara tembakau yang membakar kulitnya semakin dalam. Akan tetapi pria di depannya malah tersenyum senang. “Kau tahu apa yang bisa terjadi padamu jika membuatku kesal?”

__ADS_1


Perlahan Rich mendekatkan kepala ke samping telinga pria itu, dan berbisik cantik layaknya seorang penggoda profesional yang membuat tubuh seketika meremang. “Hanya ada kematian yang menunggumu di depan sana. Bahkan namamu pun tidak akan lagi diingat pernah berada di dunia ini.”


Mendengar ancaman Richard, jantung pria itu seakan bersiap terlepas dari tempatnya. Dia mulai berpikir ulang, apa yang kira-kira bisa menyelamatkannya kali ini. Hasilnya, nihil, semua itu tergantung pada pria di depannya. "Baiklah. Aku akan menuruti kemauanmu. Tapi aku mohon, lepaskan aku dan jangan bunuh aku!"


Rich sontak tertawa lebar, dia berdiri tegak dan berbalik memunggungi sutradara itu. "Emth, bagaimana ya? Kita lihat saja nanti! Itu tergantung dengan hasil kerjamu nanti."


Setelah mengatakan semua itu, Richard berbalik dan pergi begitu saja tanpa menoleh kembali pada sang sutradara.


Seorang anak buah pria mengikuti dari belakang, sedangkan Rich berhenti sejenak untuk memberikan perintah. "Persiapkan ruangan yang sama persis dengan apa yang ada dalam video itu. Aku tidak ingin terlewat, walau satu benda pun."


"Baik, King."


Setelah memberikan perintah pada anak buahnya. Rich melangkah keluar, dia berdiri di sebuah balkon bangunan miliknya, mengeluarkan lagi sebatang rokok baru dari bungkusnya dan menyalakan dengan korek api.


Begitulah dia ketika stress melanda dirinya. Jika hari-hari biasa dia bukanlah pecandu tembakau, tetapi berbeda dengan saat banyak masalah yang harus dia hadapi. Mungkin hanya dengan merokok, otaknya baru bisa berpikir kembali.


Baru sekali dia menghisap ujung lintingan tembakau itu dan mengepulkan asap putih ke udara. Suara seorang wanita sudah menyapanya dari belakang. "Kau mencemaskan wanita itu?"


Tidak ada sedikit pun jawaban yang keluar dari mulut Rich. Dia tetap melanjutkan aktivitas dan tidak mengindahkan kehadiran wanita tersebut.


Namun, bagi sang wanita ke acuhan Richard adalah hal biasa. Dia tetap berada di sampingnya dan ikut menikmati pemandangan malam yang begitu dingin, sedingin sikap Richard.


"Rich, jangan lagi melupakan tujuan utamamu hanya karena seorang wanita! Ingat, dia bukanlah apa-apa kecuali pion yang akan kau gunakan di masa depan. Jika kau mau bermain perasaan, maka kau tanggung sendiri akibatnya nanti." Setelah mengatakan semua itu, sang wanita menepuk punggung Rich perlahan. Dia lantas berbalik dan meninggalkan Rich seorang diri.


Kesal akan nasihat yang diberikan wanita itu. Rich malah meremas batang tembakau yang masih menyala itu di tangannya. Tidak peduli akan panas yang membakar kulitnya, tetapi hatinya saat ini lebih terbakar dari pada apa pun.


"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan rencanaku, termasuk Rachel, atau pun engkau," batin Rich dengan sorot tajam dan kilatan amarah.

__ADS_1


__ADS_2