
“Kau mau berangkat?” Sebuah pertanyaan konyol terucap begitu saja dari bibir Rachel. Jelas-jelas Rich sudah rapi hari ini, apalagi yang bisa dia lakukan selain bekerja. “Kalau begitu kita berangkat bersama.”
Merasa sedikit salah tingkah dengan tatapan yang diberikan Richard tanpa jawaban, Rachel mengajaknya untuk pergi bersama. Meskipun seorang artis, nyatanya sejak awal dia bukanlah orang yang senang merendahkan profesi orang lain, asalkan semua itu bersifat halal.
Lagi pula selama tinggal bersama Richard , dia merasa cukup nyaman. Rich sendiri yang tidak terlalu banyak tingkah, secara tidak langsung berhasil membuat Rachel sedikit nyaman karenanya. Richard bersikap lebih baik dari yang dia bayangkan sebelumnya.
Sesekali Rachel melirik Rich yang tengah mengemudikan mobil. Entah apa yang kini bersarang di pikiran Rich, semenjak pulang dari kediaman sang kakek dia menjadi sosok yang sedikit pendiam.
“Apa kau ada masalah?” tanya Rachel penasaran.
“Tidak.”
Lagi-lagi jawaban singkat, padat, dan jelas yang Rachel terima. Entah itu sudah pertanyaan ke berapa. Akan tetapi, Rich tampak semakin dingin ketika berbicara padanya.
“Nanti kau parkirkan saja mobilnya sekalian! Tidak perlu berhenti di seberang jalan seperti sebelumnya. Aku juga ada urusan di perusahaanmu,” ucap Rachel sambil menambahkan perona merah muda di bibir tipisnya.
Hal itu sontak menyebabkan Rich menginjak pedal rem. Dia menoleh dan menatap tajam Rachel yang kini mengumpat kesal sebab terkejut akan tindakan Rich yang membuat lipstiknya jadi belepotan.
“Oh. Shiit. Kau sengaja melakukannya? Lihat ini!” bentak Rachel menunjuk sisi bibirnya yang ternoda.
“Untuk urusan apa kau datang ke perusahaan?” tanya Rich tanpa basa-basi dengan ekspresi heran.
“Tentu saja urusan pekerjaan. Apalagi yang bisa dilakukan di sana selain bekerja? Kau pikir aku datang dengan sia-sia hanya untuk melihatmu?” sinis Rachel mengusap bekas lipstik yang melekat tidak pada tempatnya.
“Benarkah?” tanya Rich tidak percaya.
Rachel menghela napas panjang. “Tentu saja. Kemarin Tuan Reymond menawarkan sebuah kerjasama padaku untuk menjadi brand ambassador produk kalian. Membayarmu untuk menjadi calon suamiku sangatlah mahal. Aku memerlukan kerja ekstra jika masih ingin berbelanja dan memenuhi kebutuhanku sendiri. Ya, setidaknya pekerjaanmu cukup memuaskan. Hidupku sedikit aman karena bandot tua itu tak lagi menggangguku, dan ayahku pun tidak lagi terlalu memaksakan kehendaknya. Tapi, kalau aku tidak menerima tawaran ini, bisa-bisa aku miskin dalam sekejap nanti.”
__ADS_1
“Kau bertemu dengan Pa— Tuan Reymond.” Hampir saja Richard salah menyebut panggilan, untungnya dengan segera dia menyadarinya.
Dengan cepat Rachel mengangguk. Dia seperti tengah diinterogasi suaminya karena ketahuan berselingkuh. Benar-benar menyebalkan, padahal hubungan mereka hanyalah kontrak.
“Apa kau tidak ingin melanjutkan perjalanan? Bisa-bisa kita terlambat nanti,” ucap Rachel menunjukkan jam di pergelangan tangannya, setelah selesai merapikan riasan.
“Sudah kuduga, kau sama saja.” gumam Rich lirih, tetapi masih bisa di dengar oleh Rachel.
Mana ada wanita yang tidak tergiur dengan pria kaya. Mustahil, meskipun Rachel mengatakan jika dia tidak tertarik, tampaknya semua itu hanya berlaku di bibir saja, sedangkan pada kenyataannya dia sama saja dengan wanita lain di luar sana. Menghalalkan segala cara untuk mendekati pamannya. Padahal Reymond sudah cukup tua jika di sandingkan dengan Rachel.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan dan berpisah di parkiran. Rachel melangkah menuju resepsionis. Sayangnya hal pertama yang menyapanya pagi ini adalah sosok artis yang dikenal, tengah berdebat dengan pegawai perusahaan tersebut.
“Hei! Apa kau tidak mengenalku? Aku kemari untuk tanda tangan kontrak yang tertunda kemarin. Kenapa kau malah melarangku masuk?” teriak Hanna pada seorang resepsionis yang bekerja di sana.
“Maaf, Nona. Tapi memang Tuan Reymond melarang Anda untuk datang ke perusahaan ini lagi. Jadi sebaiknya Anda pergi saja, Nona,” ucap sang resepsionis masih berusaha ramah.
“Maaf, tapi aku ingin bertemu dengan Tuan Reymond.”
“Apakah sudah membuat janji sebelumnya?” Rachel hanya mengangguk kecil, sedangkan Hanna di samping langsung menatap tajam ke arahnya.
Sang resepsionis menghubungi atasan untuk memberitahukan kabar. “Maaf dengan siapa, Nona?”
“Rachel, Rachel Sunday.”
Dengan ramah resepsionis itu melayani Rachel. Setelah panggilan terputus, karyawan itu langsung mengarahkan ke mana Rachel harus pergi. “Silakan lewat lift di sana, Nona. Tuan Reymond sudah menunggu di lantai 25.”
“Baiklah, terima kasih.” Rachel yang sopan tentu saja mendapatkan pelayanan yang berbeda.
__ADS_1
Mengetahui wanita di sampingnya hendak menemui Reymond, Hanna seketika menahan tangan Rachel yang hendak melangkah pergi. “Siapa kau?” tanyanya dengan nada tinggi.
“Haruskah aku memperkenalkan diri?” Dengan tegas Rachel melepaskan cekalan di tangannya. Dia merupakan sosok yang sangat tahu tempat, di mana orang yang menghargainya maka Rachel akan lebih menghargai, tetapi jika berlaku sebaliknya, apalagi terlihat begitu arogan. Rachel tidak akan segan-segan menunjukkan sisi buruknya. "Tapi, mohon maaf Nona, aku sudah terlambat dan hanya akan membuang waktu jika melayani orang sepertimu. Permisi.”
Tidak ingin lebih jauh meladeni seniornya di dunia keartisan yang nantinya hanya akan berakhir dengan keributan. Rachel memilih menghindar dan segera bergerak menuju lift sesuai dengan apa yang diarahkan karyawan sebelumnya. Dia menghela napas lega setelah berada di dalam lift. “Ternyata Hanna asli lebih mengerikan dari perannya di televisi,” gumam Rachel.
Di sisi lain, seorang wanita yang datang bahkan lebih awal dari Rachel tampak menurunkan kaca mata hitamnya. Dia yang tidak terima akan nasib baik yang menimpa sang kakak mengikuti Rachel sampai ke Dday Holdings. Sebuah seringai muncul di wajah Rose di kala melihat ternyata ada seorang artis yang memiliki nasib sama dengannya.
Mungkin inilah saat terbaik untuk menggaet relasi yang akan membantunya mempermalukan sang kakak tanpa harus turun tangan sendiri.
Rose perlahan keluar dari mobil ketika melihat wajah kesal Hanna yang keluar dari gedung itu semakin dekat dengan dirinya. “Bisa kita bicara sebentar?” tanya Rose tanpa basa-basi.
Hanna menghentikan langkah, dia menatap setiap inci barang branded yang melekat dalam diri wanita di hadapannya. Namun, bukan Hanna namanya jika tidak berbicara dengan sombong. “Siapa kau?” tanyanya.
“Tidak penting siapa diriku. Tapi aku punya sebuah kejutan yang bagus untukmu. Ada baiknya jika kita membicarakannya sambil minum kopi.” Rose yang memang memiliki maksud lain tidak segan untuk membukakan pintu mobilnya.
Dengan gayanya yang elegan tentu saja Hanna percaya dan langsung saja setuju. Meskipun baru saja bertemu, tetapi karakter keduanya yang sama-sama arogan tampak begitu cocok.
Keduanya pun bergerak menuju kafe yang tidak jauh dari Dday Holdings, sebagai bentuk basa-basi tentu saja mereka benar-benar memesan kopi. Akan tetapi, tidak ingin membuang waktu Rose pun mulai menjalankan aksi. “Kau tahu siapa wanita yang kau temui tadi?”
Dengan segera Hanna menggeleng. Bagaimana bisa dia mengetahui siapa wanita yang baru saja dia temui. Wanita di hadapannya saat ini saja dia sendiri tidak mengenalnya.
Sebagai seorang bintang senior, dia memang tidak peduli akan kehadiran figuran baru dunia keartisan. Lagi pula mereka belum pernah dihadapkan dengan sebuah proyek yang sama, dan Hanna hanya akan mengingat sosok-sosok penting yang membantu karirnya semakin menanjak.
“Dialah orang yang akan menjadi ikon brand ambassador baru Dday Holding.”
"Apa?"
__ADS_1