My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 85


__ADS_3

Hampir tiga bulan lamanya, Richard selalu menunggu kembalinya sang istri. Namun, selama itu pula Rachel tampak tidak menunjukkan perubahan sedikit pun. Dia seolah memang enggan membuka matanya, sedangkan semangat Richard juga terkikis setiap harinya.


Kehilangan orang yang di cintai untuk selamanya, bukanlah keinginan setiap manusia. Akan tetapi, Tuhan selalu memberikan pelajaran untuk setiap peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan umat-umatnya. Richard benar-benar diajarkan makna kesabaran tanpa batas dan menunggu tak kenal waktu. Hanya bisa berharap takdir masih berpihak padanya, membawa cerita bahagia yang dapat dia lanjutkan hingga ujung usia.


“Mengapa dirimu betah sekali memejamkan mata, Sayang. Tidak inginkah kau melihat wajahku ini lagi, hmm,” ucap Richard sambil perlahan membersihkan tubuh sang istri menggunakan kain. Hati Rich terasa teriris setiap hari, melihat Rachel terbaring tidak berdaya. Rasa bersalah menghantui setiap embusan napas, tanpa tahu bagaimana cara untuk menebus semua kesalahannya. Andai semuanya bisa di tukar dengan nyawanya, Rich tentu akan sangat bersedia.


Baru sejenak Richard berangan bisa kembali merangkai memori bersama sang istri, bunyi tanda-tanda mengerikan yang tidak pernah di harapkan kembali terdengar setelah sekian lama diam. Suara mesin, yang terhubung dengan tubuh Rachel mulai menunjukkan reaksi, dan wanita tersebut pun tampak kejang-kejang, tidak seperti biasanya.


Richard yang panik segera memanggil dokter, lagi-lagi dia harus menunggu di luar ketika sang dokter dan tenaga medis lainnya tengah melakukan tindakan. Hal yang selalu membuat jantung Richard berpacu sepuluh kali lipat lebih cepat dari biasanya.

__ADS_1


“Rich, apa terjadi sesuatu?” Diana yang baru saja tiba segera menghampiri anaknya.


Wajah Rich tampak pucat dan rambutnya pun acak-acakan. Mulutnya seolah terkunci, dia tidak mampu menjawab sepatah kata pun. Namun, Diana sudah paham dan segera memeluk tubuh sang putra. “Kita berdoa ya,” ucap Diana sambil menusap punggung putranya.


Keduanya menunggu di luar sambil sesekali berdiri dan mengintip dari balik kaca pintu apa yang terjadi di dalam. Tindakan yang di lakukan tim medis lebih lama dari biasa, tentu saja menyebabkan rasa khawatir di hati Richard semakin terasa. Harap-harap dokter tidak ke luar membawa berita duka.


“Tuan Rich,” panggil seorang perawat ketika pintu ruangan itu terbuka.


Rich tidak ingin membayangkan pujaan hatinya pergi, atau jika dokter lagi-lagi menyarankan untuk menyerah saja. Akan tetapi, tampaknya kini Tuhan menjawab doa-doa yang dia panjatkan. Kedua bola mata Richard melebar sempurna, melihat sosok wanita yang dia dambakan selama ini, kini telah membuka mata.

__ADS_1


“Sayang, kau sudah sadar.” tanpa ragu Richard langsung berhambur memeluk tubuh sang istri. Saking harunya, sampai dia tidak merasakan buliran hangat sudah mengalir di ujung matanya. Kedua tangannya memeluk erat tubuh sang istri, dengan mata yang terpejam. “Tuhan, terima kasih sudah mengembalikan istriku,” ucapnya lembut, lalu menghujani kecupan di seluruh wajah Richard.


“Om ini siapa?” Kalimat lirih, serta tatapan bingung dari Rachel, tentu saja menyebabkan Richard menghentikan aktivitasnya.


Apa telinganya tidak salah mendengar tadi? Apa sebutan yang baru saja Rachel sematkan padanya.


Sejenak Richard terdiam, dia meletakkan kedua tangan di pipi sang istri dan mengamatinya dengan seksama. “Rachel.”


“Om mengenalku?” tanya Rachel dengan nada polos.

__ADS_1


Sontak tatapan Richard beralih tajam, dia menatap dokter dan tim medis lainnya guna meminta penjelasan. “Apa yang terjadi dengan istriku?”


__ADS_2