My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 21: Ayah Ramon


__ADS_3

Dengan panik Richard segera bergerak ke rumah sakit. Setibanya di sana, dia mendapati Ramon dan sang ayah yang belum sadarkan diri masih duduk di ruang tunggu rumah sakit itu.


"Apa yang terjadi?" tanya Richard dengan deru napas terengah-engah sambil menghampiri keduanya.


"Entahlah. Mereka terus saja menyuruhku menunggu sejak tadi. Tapi lihatlah, tangan ayahku semakin dingin Rich! Bagaimana jika sampai terjadi sesuatu padanya?" ucap Ramon panik. Dia memerlihatkan tangan sang ayah yang memang terasa dingin dan semakin memutih.


Buliran hangat bahkan berkumpul di pelupuk mata Ramon, dan bersiap pecah kapan saja karena khawatir akan kondisi ayahnya kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk nanti.


"Hei! Kenapa kalian tidak segera melayaninya dan memberikan perawatan, hah?" Dengan amarah yang menggebu, Richard berteriak pada petugas di rumah sakit itu.


Nyawa seseorang tengah dipertaruhkan, tetapi pelayanan rumah sakit terlihat sangat begitu tidak memuaskan.


Mereka hanya melirik sekilas penampilan Richard dan Ramon yang masih mengenakan seragam office boy. "Maaf, Tuan. Antrian hari ini memang cukup banyak. Dokter bukan hanya menangani satu pasien saja, silakan menunggu sebentar. Kami akan memanggil jika nanti sudah tiba giliran Anda!" ujar seorang petugas beralasan lalu pergi begitu saja.


"Hei!" Teriak Richard hendak menghampiri perawat itu, tetapi langkahnya dihentikan oleh suara Ramon di belakang.

__ADS_1


"Ayah sadarlah!" Ramon yang merasakan tubuh sang ayah semakin melemah, mencoba untuk mengguncangnya. Namun, tidak ada respons sama sekali.


Richard berbalik, melihat di mana Ramon tampak begitu terpuruk akan kondisi ayahnya. Tidak ingin sesuatu terjadi pada ayah rekannya, Rich mengambil ponsel di sakunya untuk menghubungi seseorang.


Tidak butuh waktu lama, setelah Richard menghubungi orang itu, rombongan dokter tampak tergopoh-gopoh berlari ke arah mereka. "Tuan."


"Cepat tangani dia!" Bentak Richard di saat mereka berusaha mendekatinya. Dia tidak peduli jika harus menjadi pusat perhatian. Hal terburuk bagi seorang manusia adalah kehilangan orang yang dicintai untuk selamanya. Richard hanya tidak ingin, Ramon mengalami nasib yang sama dan berakhir menyedihkan sepertinya.


Ayah Ramon segera di bawa ke ruang perawatan. Kali ini bukan hanya satu dokter yang menangani, melainkan beberapa tenaga medis sekaligus.


Beberapa jam berlalu, akhirnya ayah Ramon pun dipindahkan ke ruang VIP. Sontak Ramon tidak dapat membendung lagi rasa penasarannya akan semua yang dia terima kali ini. Dia menahan pergelangan tangan Rich yang hendak masuk ke dalam ruangan.


"Rich, bukankah ini berlebihan? Bagaimana aku akan membayar biaya rumah sakit ini nanti?" tanya Ramon cemas. Uang tabungannya tentu tidak akan cukup untuk membayar fasilitas yang dia terima hari ini. Sudah beruntung ayahnya bisa cepat di tangani, tidak perlu sampai di berikan kamar mewah bak hotel berbintang itu.


Bukannya risau, Richard malah tersenyum kecil. Dia melepaskan tangan Ramon perlahan. "Sudah jangan dipikirkan! Biar aku yang mengurus semuanya."

__ADS_1


Sontak kedua alis Ramon saling bertautan. Uang dari mana Si Richard bisa membiayai semua ini. Belum lagi menaklukkan para dokter tadi, hingga bisa seperti bawahannya. Di tambah, siapa yang sebenarnya Rich hubungi tadi. Tampaknya bukanlah orang sembarangan. "Tapi—"


Belum sempat Ramon mengeluarkan keberatan, Rich sudah terlebih dulu menyela. "Lebih baik kau segera istirahat. Aku masih ada urusan lainnya saat. Maaf tidak bisa menemanimu malam ini. Kabari aku jika terjadi sesuatu dengan ayahmu. Aku pergi dulu." Richard menepuk bahu Ramon sebelum melangkah menjauh. Dia melihat jam di pergelangan tangannya. Karena sibuk menemani Ramon, dia hampir saja lupa harus kembali ke kediaman sang kakek.


Sebelum pergi, Richard meminta tagihan biaya rumah sakit dan membawanya kembali. Tanpa terasa, ternyata hari sudah cukup gelap ketika dia keluar.


Dia menghela napas panjang sejenak, sebelum akhirnya melanjutkan langkah untuk mencari taksi.


Dalam perjalanan menuju kediaman sang kakek, Richard tampak bermuram durja. Sudah lama dia tidak membelikan hadiah di hari ulang tahun kakeknya. Namun, uang yang dia miliki sudah digunakan untuk menebus biaya rumah sakit tadi.


Benar-benar menyebalkan, Reymond bersedia membantunya menghubungi pihak rumah sakit, sayangnya tidak dengan tagihannya.


Alhasil Richard menggunakan sisa uang pribadinya yang berasal dari bayaran menjadi calon suami bayaran Rachel untuk melunasi tagihan. Dia tidak bisa menggunakan uang pribadi hitam yang disembunyikan, bisa-bisa pamannya akan menyadari apa yang ingin dia lakukan ke depannya.


Tidak butuh waktu lama, taksi yang ditumpangi Rich mulai bergerak memasuki area pelataran rumah kakeknya. Bersamaan dengan datangnya Richard , Reymond juga tampak turun dari kendaraannya.

__ADS_1


"Kau! Bayarkan tagihan taksiku," ucap Richard berlalu pergi ke dalam kediaman, meninggalkan Reymond yang masih tercengang akan tindakan keponakannya itu.


__ADS_2