
Kalimat tanpa basa basi di awal pertemuan yang keluar dari mulut Reymond berhasil menghentikan gerak Rachel. Dia menatap pria di depannya dengan perasaan sedikit curiga, tetapi asisten dari Reymond segera menyerahkan sebuah berkas pada bosnya itu.
“Mohon maaf, Tuan Ben jika aku lancang. Sebenarnya aku menerima undangan makan malam ini karena ingin mengajak Nona Rachel untuk bekerja sama. Brand Ambassador produk terbaru kami memiliki attitude yang kurang baik bahkan sebelum kontrak terjalin. Karena itulah, saya ingin mengajak Nona Rachel untuk berkolaborasi. Mana tahu beliau berkenan untuk menjadi bagian dari Dday Holdings.”
Semua orang yang ada di ruangan itu sontak membelalakkan mata hingga membulat sempurna. Mimpi apa Rachel tadi malam hingga mendapatkan penawaran sebagus ini. Reymond bahkan tidak tanggung-tanggung memberikan penawaran di awal pertemuan tanpa basa-basi.
Rachel yang masih belum percaya akan nasibnya masih membolak-balikkan kertas di tangannya. Setelah di rasa cukup, Reymond mengambil kembali berkas tersebut. “Tidak baik membicarakan pekerjaan di jam makan malam. Bagaimana kalau kita lanjutkan terlebih dahulu acara ini?”
Bak kerbau yang diberi rumput oleh pemiliknya, Rachel pun menurut. Dia sendiri belum pernah mendapatkan tawaran pekerjaan yang cukup besar selama ini, selain sebagai pemeran figuran drama-drama rumah tangga. Mungkin inilah saatnya dia bisa bekerja sama dengan perusahaan besar yang akan menjadi batu loncatan untuk kesuksesannya nanti. Lagi pula siapa artis yang mau menolak tawaran menggiurkan seperti ini.
“Ah iya. Mari silakan duduk, Tuan.” kata Ben tersenyum bangga. Dia mengira gelagat yang diberikan Reymond adalah simbol dari ketertarikan terhadap putri kandungnya. Mungkin setelah bertemu dengan Reymond hari ini, Rachel akan melepaskan Richard dan hubungan mereka bisa lebih akrab nanti. Jika Reymond yang menjadi menantunya, tentu dia tidak perlu ragu untuk meminta bantuan, apalagi investasi bisnis.
Berbeda dengan Rachel dan Ben yang larut dalam pikiran masing-masing. Rose yang merasa kehadirannya diabaikan hanya bisa mengepalkan tangan dengan kuat di bawah meja makan itu. Lagi-lagi dia harus kehilangan kesempatan karena sang kakak. “Lihat saja nanti! Aku pasti akan membalasmu dengan cara yang lebih kejam.”
Acara makan malam berjalan dengan lancar, tidak ada perbincangan serius yang mereka bicarakan di sana. Padahal awalnya jelas Ben ingin mengajukan kerja sama. Namun, ketika Rose hendak berbicara Ben malah menahannya.
__ADS_1
Hal ini menyebabkan kebencian dalam diri Rose semakin bertambah pada sang kakak. Niat hati ingin menangkap ikan besar malah berubah hanya dalam sekejap mata.
“Mohon maaf, Tuan Ben. Sepertinya aku harus meninggalkan acara makan malam ini lebih awal karena masih ada urusan lain,” kata Reymond tidak enak hati setelah mendapatkan bisikan dari asistennya di saat acara makan masih berlangsung.
“Tidak apa-apa Tuan Rey. Kami tahu Anda begitu sibuk.”
“Terima kasih atas perhatian Anda, Tuan. Lain kali aku harap Anda tidak keberatan jika saya mengundang Anda makan bersama. Hanya saja saya belum pasti kapan.”
“Pasti, pasti kami akan dengan senang hati datang, Tuan.”
“Terima kasih, Tuan,” ucap Rachel sedikit membungkuk sebagai tanda hormat, sedangkan Reymond segera keluar ruangan setelah berpamitan kepada mereka.
Sementara itu, Reymond yang keluar dari restoran tersebut dengan segera bergerak menuju tempat yang lainnya. Wajah yang awalnya ramah, kini berubah menjadi dingin. “Kau yakin dengan informasi itu?” tanya Reymond.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan. Hari sudah semakin larut, tetapi tidak menyurutkan niatnya untuk menunda dan segera mendatangi tempat yang di informasikan oleh sang anak buah.
__ADS_1
Perjalanannya memakan cukup banyak waktu, hingga tak lama kemudian keduanya tiba di sebuah bangunan rumah sakit terbengkalai di pelosok daerah.
Reymond keluar dari mobil, dan mengedarkan pandangan ke segala arah. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana, hanya ada setitik lampu di kejauhan yang terlihat begitu samar. Area pemukiman warga pun tidak terlihat sepanjang beberapa kilometer yang dia lalui. Entah tempat apa ini sebenarnya, hanya menyisakan suara kicauan burung hantu dan beberapa hewan malam lainnya. Di tambah hari yang semakin pagi, membuat kesan seram semakin kental di tempat itu.
Perlahan, Rey dan asistennya melangkah menyibakkan semak belukar yang menghalangi jalan. Hanya sebuah senter kecil yang kini dibawa sang asisten untuk menerangi jalan mereka. Semakin jauh keduanya melangkah, hawa dingin seketika menyeruak menyapa wajahnya. Bisa dibilang gedung terbengkalai tersebut mungkin sudah ditinggalkan puluhan tahun lamanya, sehingga cukup kental akan penduduk tidak kasat mata.
Selangkah demi selangkah, Rey menyusuri setiap sudut bangunan tersebut. Hanya menyisakan beberapa bahan bangunan rusak yang bertebaran, serta peralatan rumah sakit yang tampak sudah tua termakan usia.
Semakin dekat Rey mendekati cahaya yang tadi dilihat, hingga tidak lama kemudian sebuah ruangan yang terkunci itu pun menjadi perhatiannya. Dia tanpa ragu menendang pintu tersebut dan terlihatlah punggung seseorang di dalamnya.
“Kakak.” Dengan perasaan tidak karuan Rey berusaha mendekati sosok itu dan langsung membalikkan kursi rodanya. Akan tetapi, semua harapan sirna dan lemas sudah tubuhnya ketika apa yang ada di depannya bukanlah manusia, melainkan sosok boneka seukuran manusia.
Luruh sudah tubuh Rey kala itu juga, deru napas tidak beraturan terdengar begitu jelas, sedangkan sang asisten yang juga tidak menyangka akan hal ini langsung berusaha menopang tuannya.
“Berani-beraninya mereka mempermainkanku!”
__ADS_1
“Sepertinya kita sudah masuk jebakan, Tuan.”