My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 31: Penculikan


__ADS_3

Di sisi lain, perasaan syok, terkejut sekaligus malu membuat Rachel mengusap kasar wajahnya. Dia tidak menyangka ada orang yang begitu kejam menjebaknya di acara sepenting ini.


“Rachel.” Siska berusaha menenangkan Rachel dengan mengusap lembut punggung wanita itu.


Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Rachel, semua beban seakan bertumpu padanya saat ini juga. Hanya butiran hangat yang tidak berhenti mengalir sejak tadi yang kini membanjiri pipinya.


Kali ini dia sungguh bingung harus berbuat apa.


Dering di ponsel miliknya dan Siska terus saja bergetar sejak tadi. Baik dari nomor tidak di kenal, atau dari pihak agensi yang tampak hendak meminta penjelasan.


“Aku sungguh tidak tahu kenapa bisa jadi seperti ini, Sis. Aku harus bagaimana?” Rachel merasa sangat frustrasi.


Bagaimana bisa masalah sebesar ini muncul di ajang bergengsi pertamanya. Bukan hanya karirnya yang akan terhempas begitu saja, tetapi hidupnya pun terasa membalik hanya dalam sekejap mata. Bagaimana dia bisa membuktikan pada sang ayah, jika jalan yang dia pilih adalah benar.


Hancur, hanya itu yang saat ini Rachel rasakan sebagai seorang manusia.


“Sudahlah. Kau yang sabar. Tapi, apa kau mengenal pria yang bersamamu di sana? Kita bisa saja meminta bantuannya kali ini.”

__ADS_1


“Dia calon suamiku," jawab Rachel sambil sesekali menghirup ingus di hidungnya.


“Apa?” Siska sontak terkejut dengan pengakuan Rachel . Akan tetapi, hanya dalam hitungan detik sang sopir di bagian depan menginjak pedal remnya hingga Rachel dan Siska yang berada di dalam pun terkejut karena.


“Apa yang terjadi?” tanya Siska panik mengusap dahi yang hampir saja terluka.


Apa yang terjadi pada Rachel nyatanya tidak cukup berhenti di sana. Beberapa orang berpakaian serba hitam tiba-tiba saja menyerang dan menerobos memaksa masuk ke mobil.


“Hei! Kalian siapa?” Siska berteriak dengan cukup keras, tetapi mereka yang hanya bertiga dengan sopir tentu saja tidak dapat menghalangi para penyerang yang hendak menculik Rachel itu. Ditambah jalanan yang mereka lalui cukup sunyi, hingga tidak ada siapa pun yang bisa membantu mereka melarikan diri.


“Tolong. Tolong! Lepaskan.” Siska yang terus berteriak sambil mencoba melindungi Rachel, tidak luput dari serangan. Dia tetap memegang Rachel dengan erat tanpa berniat melepaskan.


“Tidak!” Penolakan dari Siska sontak membuat penyerang itu murka. Dia ditikam di perut hingga wanita tersebut terluka.


“Siska!” teriak Rachel dengan kedua mata yang membulat sempurna, sedangkan Siska hanya bisa memegang perut yang kini mengeluarkan darah segar.


“Sebaiknya kau ikut kami jika tidak ingin dia mati.” Suara bariton di balik topeng mengancam Rachel dengan begitu tegas.

__ADS_1


“Jangan!” ucap Siska dengan susah payah sambil memegang luka di perutnya saat itu.


“Baiklah aku akan ikut kalian. Tapi jangan sakiti dia!” Tidak ingin melihat Siska semakin terluka, Rachel pun menurut.


Sebuah karung hitam mereka letakkan di kepala Rachel. Setelah itu, dia pun digiring agar berjalan ke sebuah mobil lain milik mereka dan kendaraan mulai bergerak pergi entah ke mana. "Ya Tuhan, apalagi yang akan terjadi padaku kali ini," batin Rachel dengan tubuh bergetar hebat menahan tangisnya.


Di sisi lain, Richard mengemudikan kendaraan dengan kecepatan tinggi meninggalkan markasnya. Perasaan khawatir sekaligus marah untuk pertama kalinya merasuk dalam dirinya.


Dia menghubungi Pamannya tanpa banyak berpikir. untuk sesaat tidak ada sahutan yang menjawab panggilannya. Namun, kali kedua dia mencoba, suara bariton sang paman di seberang sana terdengar sudah.


"Hallo."


"Cari tahu di mana Rachel sekarang!" ucap Rich dengan nada datar setelah panggilan tersebut terhubung.


"Jangan konyol, Rich. Bagaimana aku bisa tahu di mana Rachel, aku bukan suaminya?" Meskipun Reymond berkilah dan menyindir secara bersamaan, tetapi Richard juga bukan sosok yang mudah untuk di tipu begitu saja.


"Jangan kau pikir aku tidak tahu jika kalian mengikutiku selama ini, Paman!" Meskipun Reymond memberikan hukuman kepada Rich dengan hidup di luar, pria tersebut tetap mengawasi tanpa orang lain ketahui.

__ADS_1


Sayangnya, sang keponakan juga bukanlah pria bodoh yang tidak menyadari hal itu. Walaupun mereka berbaur layaknya orang biasa, tetap saja Richard mengetahui keberadaan orang-orang itu, dan bukan hanya Richard yang selalu di awasi, melainkan Rachel juga.


Suara gelak tawa terdengar begitu jelas di telinga Richard, bukannya langsung menjawab. Reymond malah kembali mengejeknya. "Apa sekarang kau sudah tergila-gila dengan wanita lagi?"


__ADS_2