My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 78


__ADS_3

Sebuah mobil hitam melaju dengan sangat cepat menuju sebuah villa. Dante yang kini semakin gelisah dengan persoalan Richard yang berani bergerak cepat, menyebabkan dia segera mengambil tindakan pada Diana juga.


Melihat tidak adanya lagi peluang untuk bernegosiasi, Dante memilih membawa Diana ke tempat di mana tambang yang mereka rebutkan selama ini berada. Dia juga sudah mengirimkan anak buah untuk mengirim sinyal guna memancing Richard keluar menemuinya. Tentu saja semua itu hanyalah sebuah jebakan yang dibuat oleh Dante. Jika hanya dengan adanya Diana tidak mampu membuatnya menguasai tambang itu. Maka dia akan membuat sepasang ibu dan anak tersebut memberikan secara suka rela padanya.


“Di mana dia?” tanya Dante pada anak buahnya ketika mereka tiba di lokasi.


“Di sana, Tuan,” ucap sang anak buah menunjuk ke arah langit. Di mana tampak Diana sudah terikat dan bergelantungan di sebuah crane dengan cukup tinggi.


“Bagus. Pastikan dia datang sendirian ke mari!” Setelah memberikan pesan pada anak buahnya, Dante melangkah pergi. Senyum puas tergambar dengan jelas di wajahnya. Dia sudah menyiapkan berbagai macam rencana agar Richard tidak bisa lagi berkutik.


Benar saja, tidak perlu menunggu lama meskipun perjalanan cukup jauh pastinya. Sebuah mobil melesat tanpa permisi memasuki kawasan tambang.


Richard yang tiba di sana bersama dengan Ramond dan juga Jack, saling mengedarkan pandangan ke segala arah. Suasana masih sangat sepi karena matahari juga belum menampakkan sinarnya.


Semburat cahaya mentari yang mulai naik, membuat bayangan sosok yang bergelantung di kejauhan terlihat begitu jelas di mata mereka. “Apa itu?” tanya Ramond dengan tangan yang menunjuk ke atas.


“Mama.” Tanpa basa-basi Richard segera mencari jalan untuk sampai ke tempat di mana ibunya kini berada.


Kedua anak buahnya hanya bisa mengikuti dari belakang. Namun, anak buah Dante langsung saja keluar dari kendaraan alat berat dan menyergap mereka saat itu juga.

__ADS_1


“Mau ke mana kalian?” ucap salah seorang pria yang menjadi anak buah Dante.


Ketiganya lantas salaing berpandangan, lalu Jack pun berkata. “Biar kami yang menyelesaikan mereka! Kau segeralah pergi.”


Richard mengangguk, dia pun melangkah terlebih dahulu mencoba untuk melewati kelima musuh yang menghadangnya. Tentu saja itu bukanlah hal yang mudah. Mereka jelas-jelas sudah kalah jumlah. Dengan terpaksa Richard melawan salah satu musuh, sedangkan Jack dan Ramon diserang oleh dua orang sekaligus.


“Astaga, aku bahkan baru belajar bela diri beberapa bulan yang lalu. Kenapa kalian malah suka sekali padaku,” gerutuan Ramond sambil menghindari serangan lawan membuat Richard sedikit memperhatikannya.


Richard tidak ingin membuang waktu, jadi dia mengeluarkan segala pukulan mematikan yang dia miliki. Akan tetapi, musuhnya pun bukan penjahat kelas biasa. Meskipun sulit untuk mengalahkan Richard dan pertarungan mereka cukup seimbang. Hingga akhirnya, melihat lawannya yang sudah mulai kewalahan. Richard langsung mengeluarkan pukulan bertubi-tubi dengan kedua tangannya tepat di dada sang lawan. Dan di saat lawannya mulai terlihat lemas serta semakin terhuyung ke belakang. Dia pun mengayunkan tendangan dengan memutar tubuhnya dan mendaratkan tendangan tepat di leher musuh.


Setelah berhasil mengalahkan salah satu musuhnya. Richard menoleh ke belakang. Di mana Ramond tampak masih mencoba melemparkan apa pun yang dia dapatkan kepada musuh, dan berusaha berlari agar tidak terluka bak bermain kucing dan tikus.


“Jangan hiraukan kami! Cepat pergilah!” Jack yang melihat Kebimbangan dalam diri Richard di sela pertarungannya lantas meyakinkan sang majikan.


Semakin jauh Rich melangkah, tetapi tiba-tiba saja sebuah suara bariton menggema, terdengar di seluruh tempat tersebut, bak peringatan jam pulang kerja. “Ternyata nyalimu cukup bagus juga.” Suara tawa yang sedikit mengejek terdengar jelas di telinga rich.


Rich yang terkejut sontak menghentikan langkah. Kedua tangan Rich terkepal dengan kuat, seiring dengan iris mata yang mencoba mencari tahu dari mana sumber suara itu berasal. Namun, karena hanya ada pengeras suara, dia cukup kesulitan mencari tahu posisi orang tersebut. Apalagi lokasi tambang sesungguhnya sudah cukup terbuka, kecuali galian yang berupa terowongan tentunya.


“Apa maumu?” tanya Rich dingin. Dia yakin, Dante sudah mengawasinya dari suatu tempat. Benar-benar pria tua yang sangat merepotkan saja.

__ADS_1


“Benar-benar tidak suka berbasa-basi. Kau sungguh mengingatkan aku pada seseorang. Bagaimana kalau kita bermain sebentar? Sepertinya akan sangat seru.”


Tidak butuh waktu lama, sebuah ledakan ringan terdengar cukup jelas sekitar lima puluh meter dari posisi Rich saat ini. Sontak hal itu membuat Rich semakin berdebar dan sedikit terkejut, apa yang hendak dilakukan Dante padanya kali ini.


“Itu hanyalah pembukaan dari permainan kita. Aku yakin kau sudah melihat di mana posisi ibumu saat ini. Mari kita lihat! Apa yang bisa kau lakukan sebagai seorang anak?”


Tidak butuh waktu lama, tali yang mengikat tubuh ibunya Richard langsung terlepas begitu saja tanpa aba-aba.


Rich yang melihat di kejauhan tentu saja sangat terkejut. “Tidak!” teriaknya sambil berlari secepat mungkin. Tatapannya tidak pernah beralih dari sosok yang kini terjun bebas dari ketinggian dalam kondisi terikat itu.


Namun, ternyata Dante lagi-lagi sudah menyiapkan kejutan berupa ranjau darat kecil yang sesekali meledak di saat langkah Rich tidak sengaja menginjaknya. Rich yang hanya fokus pada keselamatan ibunya saat ini, tidak peduli bagaimana dia terpental, dan seperti apa tubuhnya terluka. Dia jatuh bangun berulang kali. Terlatih-tatih pria itu melangkah demi menyelamatkan sang ibu, derasnya darah yang mengalir di sekujur tubuh seolah sama sekali tidak dia rasakan. Sayangnya, tetap saja kecepatannya tidak sebanding dengan seseorang yang terjun bebas tanpa hambatan.


“Mama!” teriak Richard yang kembali terjatuh, dengan tangan terulur hanya mampu melihat dan tidak mampu menggapainya.


Sekuat tenaga Rich mencoba bangkit, sampai saat dia tiba di mana sosok tersebut terjatuh dan membalikkan tubuh untuk memeluknya, wajah sendu Richard berubah menjadi merah padam yang tidak lagi terkendali. “Kalian!”


Suara tawa menggelegar memenuhi tempat pertambangan itu. Kondisi Richard sekarang seolah menjadi hiburan tersendiri bagi Dante dan para anak buahnya. Sosok yang mereka gantung sebelumnya awalnya memanglah Diana. Namun, Dante mengubah rencana karena ingin bermain lebih jauh bersama Richard. Rasanya terlalu mudah jika Diana terluka begitu saja. Sia-sia saja pembalasannya selama ini. Akhirnya orang yang mereka gantung pun ditukar, bukan lagi Diana, melainkan hanya seorang mayat hidup lain yang telah mereka persiapkan sedemikian rupa, sehingga orang yang melihatnya akan salah sangka.


“Bukankah menyenangkan rasanya bermain-main, hahaha.” Suara tawa yang terdengar begitu lepas, membuat darah dalam diri Richard semakin mendidih. Dia mengepalkan tangan dengan sangat kuat seolah bersiap menerkam kapan saja.

__ADS_1


“Beraninya kalian!”


“Eits, tunggu dulu. Kejutanku baru saja di mulai. Kau pasti akan semakin menyukai hadiah yang sudah aku persiapkan.”


__ADS_2