My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 75


__ADS_3

Richard yang mengetahui jika Dason menyekap seorang wanita lainnya di pulau itu pun langsung kembali mengunjungi tempat tersebut, sedangkan Dason yang mengetahui jika Rachel baru saja dinikahi secara resmi oleh Richard hendak kembali ke kota. Namun, baru saja dia menuruni tangga seorang pelayan berlari dengan tgergopoh-gopoh ke arahnya.


“Ada apa?” tanya Dason sambil mengenakan jasnya.


“Itu, Tuan....”


Belum sempat pelayan tersebut menjawab, suara bariton seseorang tidak di harapkan sudah menyapa indera pendengaran Dason kala itu. “Sepertinya kau pria yang sangat sibuk.”


Sontak Dason menoleh ke arah ruang tamu, di mana Richard tampak tengah asyik mengeluarkan korek api guna menyalakan cerutu miliknya. Dengan kedua tangan yang terkepal kuat Dason memejamkan matanya sejenak. Dia lantas mengisyaratkan pada pelayan untuk pergi, sedangkan dia sendiri berusaha bersikap biasa saja. Dia melangkah dan duduk dengan santai di depan Richard.


“Ada perlu apa, Tuan Richard datang ke mari?”


Salah satu sudut bibir Rich terangkat, menunjukkan sebuah seringai mengerikan yang biasanya hanya di perlihatkan pada lawannya. Dia meletakkan sebuah amplop coklat ke atas meja dengan kasar tepat di hadapan Dason. “Syukurlah kau orang yang tidak suka berbasa-basi seperti ayahmu. Aku sudah muak jika harus menghadapi orang seperti dia. Di dalam amplop itu ada beberapa dokumen penting pasar gelap yang kau inginkan, sebagai gantinya, berikan wanita yang kau sekap padaku.”


Dason hendak mengambil amplop tersebut, tetapi dengan cepat Richard menaikkan salah satu kakinya ke atas meja dan menahan Dason. “Berikan wanita itu terlebih dahulu, baru kau boleh membukanya.”

__ADS_1


Dason pun mengurungkan niatnya melihat isi di dalam amplop. “Bermimpilah. Aku tidak menyekap siapa pun di sini. Dan wanita yang kau maksudkan, aku pun tidak tahu.”


“Kau pikir bisa menipuku dengan trik murahan ini?” tanya Richard.


“Silakan geledah tempat ini kalau tidak percaya!” Dengan yakin Dason mengatakan hal itu, karena memang pada dasarnya dia sudah tidak menyimpan satu pun tawanan di temapatnya.


Richard yang tidak percaya lantas memerintahkan anak buahnya untuk menelusuri tempat tersebut dari ujung ke ujung. Bahkan sampai menyisir setiap tempat yang ada di pulau tersebut tanpa tersisa satu pun.


“Bagaimana?” tanya Richard pada anak buahnya yang baru saja tiba, setelah dua jam lamanya menyusuri tempat tersebut.


Dason tersenyum kecil, dia dengan berani menatap mata Richard. “Aku akan memberitahumu di mana wanita itu. Tapi, apa kau mampu memberikan bayaran yang aku inginkan untuk hal itu.”


“Apa yang kau inginkan?”


“Rachel.”

__ADS_1


Raut wajah Richard sontak berubah menjadi merah padam. Dia berdiri dari posisinya dan meraih kerah pakaian Dason dengan kemarahan yang meluap di dalam dadanya. “Berani kau mengganggunya atau bahkan menyentuh seujung rambutnya. Aku sendiri yang akan membunuhmu.”


Richard lantas hendak melangkah pergi meninggalkan villa itu, tetapi lagi-lagi Dason memprovokasinya. “Kau sendiri tahu dan paham jika kami sudah tinggal bersama beberapa hari ini. Kau pikir aku pria polos yang hanya akan tinggal diam jika ada seorang wanita secantik Rachel di tempatku. Mustahil. Tentu aku tidak bisa menjamin dia akan melupakan malam-malam indah kami. Mungkin benih-benih kami sudah mulai tumbuh dalam perutnya. Aku harap kau merawat mereka dengan baik jika memang kau enggan mengembalikannya kepadamu.”


“Bajiingan!” Richard yang tersulut emosinya berbalik dan menghampiri Dason. Dia menghajar pria tersebut dengan membabi buta. Padahal sudah sangat jelas jika apa yang dikatakan dason tidak pernah terjadi, tetapi tetap saja berhasil membuat amarah dalam diri Richard membara.


Anak buah mereka pun berusaha melarai keduanya, karena memang tujuan awal Richard ke tempat itu bukanlah untuk bertarung dan beradu fisik. Akan tetapi, Dason malah tersenyum mengejek kepadanya. “Dia sangat cantik ketika tidak mengenakan apapun,” ucap Dason semakin gila dalam memprovokasi.


“Beraninya kau! Lepaskan aku!” Dengan amarah yang menggebu, Richard memberontak dari anak buah yang menahan tubuhnya. Mendengar celotehan Dason, tentu saja Richard sangat tidak tahan dengan hal itu. Hanya dengan membayangkannya saja kepalanya terasa sudah mau pecah. Apalagi kalau sampai hal itu benar-benar terjadi.


Akibatnya, perkelahian keduanya pun kembali terjadi. Pertumpahan darah antara anak buah tidak lagi dapat dihindarkan. Richard yang awalnya hanya berniat bernegosiasi kini benar-benar menggila karena ulah Dason. Bahkan beberapa anak buah Dason yang hendak melindungi majikannya tidak dapat menyentuh Richard meskipun hanya seujung pakaiannya.


“Kau benar-benar menguji kesabaranku!”


Hancur sudah wajah Dason saat itu. Richard memukulinya berulang kali tanpa ampun, hingga wajahnya kita penuh dengan darah. Entah berapa banyak luka yang diterima Dason, rahang pria itu mungkin sudah patah hingga tidak bisa lagi berbicara dengan jelas.

__ADS_1


“Bereskan semuanya! Dan bawa dia.” perintah Richard pada anak buahnya setelah selesai melampiaskan kekesalan.


__ADS_2