My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 73


__ADS_3

Richard yang berhasil membawa Rachel kembali ke kediamannya, lantas memperlakukan wanita tersebut bak ratu. Mungkin ini adalah sesuatu yang sangat sulit bagi Richard, tetapi dia berusaha sebaik mungkin untuk membuat Rachel nyaman di sampingnya.


Keduanya tidur dalam satu ranjang king size yang sama. Bak pengantin baru pada umumnya. Akan tetapi, karena belum terbiasa, mereka hanya bisa saling memunggungi satu sama lain, sedangkan Rachel tampak mencengkeram kuat selimut yang kini membalut tubuhnya. Tidak ada malam pertama yang penuh dengan gairah. Toh keduanya juga sudah mencicil malam pertama beberapa bulan yang lalu.


“Rich,” panggil Rachel lirih. Gugup,serta bingung, mungkin itulah yang kini Rachel rasakan. Hanya dalam hitungan jam, semuanya berubah begitu saja tanpa dia bisa menebaknya. Bukan hanya berstatus istri pria yang dikagumi, tetapi juga mengalami beberapa peristiwa menegangkan bak perjalanan di ruang waktu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.


Hanya sebuah dehaman yang keluar dari bibir Richard sebagai jawaban. Pria itu lantas membalikkan tubuhnya dan mendekap punggung Rachel sambil menghirup aroma segar di lekuk leher sang istri.


“Kenapa? Kau tidak bisa tidur?” tanya Richard lembut. Dia yang biasanya dingin dan kasar, kini berusaha membuat wanita yang di cintai nyaman dengan caranya sendiri.


Rachel hanya mengangguk kecil. “Aku masih belum menyangka jika sekarang kita adalah suami istri yang sah.”


Richard semakin mengeratkan kedua tangannya yang melingkar di tubuh sang istri. “Mungkin ini adalah takdir. Takdir yang membawaku untuk bisa memilikimu.”


Rachel segera membalikkan tubuhnya hingga keduanya pun kini saling berhadapan dan wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Meskipun jantung keduanya terasa begitu berdebar, tetapi Rachel tetap menatap dengan lekat mata indah Richard. Sepasang mata indah yang pastinya mampu menghipnotis setiap kaum wanita, hanya dengan lirikannya saja.


“Rich, benarkah kali ini kau sungguh mencintaiku?” tanya Rachel dengan lembut.

__ADS_1


Secara tidak langsung, Rachel belum bisa sepenuhnya percaya, jika pria di hadapannya saat ini memiliki perasaan yang tulus sebagai mana dirinya. Mengingat awal hubungan mereka hanyalah berdasarkan sebuah kontrak yang saling menguntungkan satu sama lain, meskipun sesungguhnya ternyata Richard memiliki maksud terselubung yang lainnya. Selain itu, Rachel terlalu trauma akan yang namanya cinta dengan berakhir pengkhianatan.


Perlahan salah satu tangan Richard melepaskan pelukannya. Dengan lembut, ibu jarinya mengusap alis tebal tidak bersulam milik sang istri. “Kau tahu, mungkin terlalu cepat jika aku mengatakan cinta padamu.” Tangan Richard lantas beralih menggenggam salah satu tangan Rachel dan meletakkan tepat di dadanya. “Tapi, berikanlah aku kesempatan untuk membuktikan perasaan ini secara perlahan. Dan jangan pernah berniat berpaling dariku, jika nantinya kau tahu seperti apa diriku yang sesungguhnya. Bahkan jika itu hanya terbesit dalam pikiranmu.”


Jangan tanyakan perasaan Rachel saat ini. Tentu saja dia sangat gugup dengan tatapan tajam sekaligus tegas dari Richard. Ingin rasanya Rachel berjingkrak saat ini juga mendengar jawaban memuaskan dari mulut Richard. Namun, mata itu tidaklah membohonginya sama sekali. Ada perasaan hangat yang Richard salurkan pada Rachel hanya dari kedua bola matanya yang cerah. Entah ini adalah pilihan yang tepat atau tidak, tetapi Rachel bersyukur kini Richard sudah bergelar suaminya.


“Memangnya seperti apa dirimu, sampai-sampai aku harus berpaling? Apa kau begitu buruk hingga aku tidak bisa mentoleransinya? Lalu, apa kau bersedia bercerita ke padaku? Mungkin akan lebih baik aku mendengarkan secara langsung dari bibirmu daripada mulut orang lain,” ucap Rachel penuh harap.


Selama ini, dia tidak tahu seperti apa sosok Richard yang sesungguhnya. Jangankan sikap dan kepribadian pria tersebut. Bahkan kebiasaan dan makanan favoritnya saja Rachel belum terlalu paham. Rachel harap, Richard bersedia bercerita padanya tentang banyak hal. Sangat sakit jika mendengar apa yang tidak kita inginkan dari mulut orang lain. Apalagi kalau sampai tahu, ternyata orang itu adalah bagian dari masa lalu pria yang kita cintai.


Untuk sejenak Richard terdiam, kali ini dia sudah memilih Rachel sebagai istrinya. Namun, perasaan waspada dikecewakan di masa lalu meninggalkan bekas tersendiri di hati Richard.mungkinkah wanita di hadapannya saat ini akan mengkhianatinya seperti Celine sebelumnya.


“Apa yang ingin kau ketahui?” tanyanya sambil mengusap pucuk kepala Rachel dan menyibakkan anak rambut ke belakang telinga wanita tersebut.


“Semuamnya. Tentang dirimu, ah kecuali kekayaan. Aku pasti akan sangat pusing kalau sampai kau menyuruhku untuk menghabiskannya. Jadi tidak perlu menceritakan seberapa kaya dirimu dan juga saet-asetmu.”


Mau tidak mau, Richard akhirnya menceritakan tentang sesuatu yang patut untuk diketahui Rachel. Namun, Richard masih bisa berpikiran jernih dan tidak membocorkan apa yang memang seharusnya tidak boleh di dengar oleh orang lain. Dia hanya menceritakan tentang perjalanan masa kecilnya, hingga sekarang. Sementara itu, sang istri tampak begitu antusias mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Richard, layaknya seorang anak yang mendengarkan dongeng dari orang tua mereka sebelum tidur.

__ADS_1


Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, dan Richard menghentikan dongeng masa kecilnya ketika sang istri mulai menguap. “Apa ceritaku begitu membosankan?” tanya Rich.


“Tidak. Kau benar-benar pendongeng yang baik.”


“Baiklah. Dongeng sudah selesai, sekarang waktunya untukmu tidur.” Richard menurunkan dirinya hingga dia yang awalnya memangku sang istri, kini berubah menjadi memeluk wanita tersebut dengan begitu erat dan menaikkan selimut mereka sampai ke atas dada.


Rachel hanya bisa tersenyum kecil menerima perlakuan Richard. Keduanya hanyalah dua orang yang sama-sama kehilangan kasih sayang sebuah keluarga karena keadaan. Namun, tampaknya takdir berkehendak lain, dengan menyatukan dua sejoli yang saling meraskan sepi tersebut.


“Ngomong-ngomong, apa Dason melakukan sesuatu yang buruk padamu?” tanya Richard.


Setelah sekian lama, akhirnya pertanyaan tersebut lolos begitu saja dari bibirnya. Cemburu, tentu saja Richard cemburu, tetapi lebih juga pada khawatir akan keselamatan Sasmine selama di pulau itu. Beruntungnya mereka menemukan Rachel dalam kondisi baik-baik saja. Jika saja saat itu Rachel terluka atau di siksa sedikit pun, sudah pasti Richard akan sangat murka ketika membalas Dason dan bukan hanya berakhir dengan sebuah tembakan peringatan di kaki, melainkan mengambil nyawa pria tersebut seketika itu juga.


Akan tetapi, dengan cepat Rachel menggeleng. “Dia bahkan memperlakukan aku lebih baik di bandingkan dengan Daddyku sendiri, hanya mantanmu saja yang membuatku muak karena terus-terusan membahas masa lalu kalian.”


“Benarkah?” Richard tersenyum kecil. Nada kesal yang Rachel utarakan membuatnya terlihat begitu menggemaskan di mata Richard, sedangkan sang istri tampak mengangguk kecil.


“Ah, aku hampir lupa. Tapi ada seorang perempuan lainnya yang mereka sekap dan diperlakukan dengan sangat buruk. Aku sampai mengira dia adalah hantu pada awalnya.” Rachel membalikkan tubuh dan menatap Richard dengan seksama. “Setelah melihat wanita itu, aku sangat takut akan bernasib sama. Tapi beruntung kau datang menjemputku tepat waktu. Sehingga aku tidak perlu menunggu dua puluh tahun kemudian untuk kau selamatkan.”

__ADS_1


“Apa maksudmu dua puluh tahun kemudian?”


“Aku dengar, wanita itu disekap selama dua puluh tahun lamanya. Aku tidak bisa membayangkan kalau sampai mengalami nasib yang sama. Kau tahu? Penampilannya sangat mengerikan. Sepertinya dia terlalu lama disiksa. Aku mungkin akan memilih mati daripada harus mengalami nasib yang sama seperti itu,” kata Rachel bergindik ngeri.


__ADS_2