
Setibanya di apartemen, Rachel membuka pintu dengan begitu malas. Entah mengapa sial sekali nasibnya hari ini hingga harus dipermalukan di depan umum. Dia terlebih dulu menyalakan lampu. Tampak sosok pria duduk di kursi dengan ekspresi tidak menyenangkan menatapnya tajam.
“Astaga, Rich. Kau ingin membuatku mati jantungan?” teriak Rachel sambil memegang dada yang sontak berdebar tak karuan.
“Jadi, hanya dengan melihat aku sudah bisa membuatmu mati? Hebat sekali diriku, ya,” ucap Rich dengan nada sinis yang membuat Rachel mengernyitkan dahi. Tanpa sadar Rich bertingkah seolah cemburu, layaknya seorang suami yang mendapati istrinya berkencan dengan pria lain.
Namun, sedetik kemudian barulah Rachel menyadari ada yang salah dengan sikap Rich kali ini.
“Kau ini kenapa sih? Seperti anak kecil yang merajuk karena tidak dibelikan lolipop saja. Dasar aneh.” Rachel yang memilih tidak peduli akan sikap Rich hari ini, perlahan melangkah pergi begitu saja. Dia masuk ke kamar dan meletakkan jas milik Reymond di keranjang pakaian kotor. Apa yang terjadi hari ini sungguh membuatnya merasakan lelah. Ingin sekali rasanya dia berendam di air hangat untuk waktu yang lama sambil menenangkan pikiran. Mungkin ditambah lilin beraroma bunga akan membuatnya kembali segar bugar nantinya.
Cukup lama Rachel berendam dengan berbagai aroma terapi yang menenangkan hati, hingga tidak lama kemudian, dering ponsel di sampingnya pun merusak suasana hatinya saat ini.
“Siska?” gumam Rachel melihat nama si penghubung di layar ponselnya.
Perlahan Rachel menggeser bulatan hijau ke atas. Suara nyaring melengking khas perempuan bermulut dua terdengar begitu jelas di telinga Rachel.
“Rachel, kau tidak melupakan acara hari ini kan?” teriakan Siska membuat Rachel menjauhkan ponsel dari telinga untuk sesaat.
“Memangnya malam ini ada acara apa?” tanya Rachel bingung. Tangannya masih dengan santai memainkan busa yang mengambang di air menutup tubuhnya.
“Sudah ku duga kau pasti akan lupa. Apa yang sedang kau lakukan saat ini, hah? Cepat datang kemari, aku sudah menunggumu sejak satu jam yang lalu. Malam ini kita ada undangan untuk menghadiri acara penghargaan.”
Sontak Rachel terhenyak panik. “Astaga, bodohnya aku bisa melupakan acara sepenting itu. Baiklah aku akan segera ke sana.” Malam ini Rachel harus menghadiri sebuah acara penghargaan untuk pertama kalinya. Meskipun baru masuk nominasi, tetapi dia berharap dengan ini karirnya akan semakin berkembang nanti. Namun, ingatannya akan hari penting ini hilang begitu saja karena konflik yang terjadi antara dia dan Hanna tadi.
Sebagai seorang artis, Rachel memang tidak ingin sang asisten pribadi terlalu mengganggu privasinya. Keduanya hanya akan bertemu di lokasi syuting atau tempat-tempat lainnya yang sudah di tentukan. Meskipun sebenarnya Siska selalu siap sedia, tetapi Rachel tidak ingin terlalu merepotkan wanita itu.
__ADS_1
Siska juga berhak memiliki kehidupannya sendiri. Lagi pula jam terbangnya sebagai artis pendatang baru belum begitu padat hingga mengharuskannya untuk selalu diikuti sang asisten setiap waktu. Setelah selesai membersihkan diri, Rachel bergegas keluar dengan terburu-buru.
“Kau akan pergi lagi?” tanya Rich yang sedang duduk di sofa saat itu.
“Aku ada acara penghargaan malam ini. Gara-gara masalah dengan Hanna di perusahaan tadi, aku jadi melupakannya. Doakan aku pulang membawa piala, dan jangan lupa melihatku di televisi nanti!” Dengan tergesa-gesa Rachel keluar dari apartemennya menuju tempat di mana dia akan di make over nanti.
Sementara itu, Rich yang ditinggalkan seorang diri tidak mungkin hanya diam dan menonton televisi. Ekspresinya lagi-lagi berubah. Dia menghubungi seseorang untuk memerintahkan sesuatu.
Waktu berlalu begitu cepat, saat yang dinantikan banyak orang tiba tanpa diduga. Banyak lensa kamera para wartawan serta reporter yang menyorot setiap mobil mewah yang datang.
Mobil-mobil tersebut, tidak hanya mengeluarkan para selebritis tanah air yang sudah sangat terkenal, melainkan pendatang-pendatang baru yang juga menggebrak publik dengan kehadirannya di layar kaca.
Meskipun baru pertama kali, Rachel dengan anggun nan cantik mulai melangkah melewati karpet merah. Dia tersenyum begitu cantik sambil melambai manis. Akan tetapi sayang ketika dia sedang berpose di hadapan para wartawan, sosok yang hampir saja membuatnya lupa akan kegiatan malam ini kembali hadir di waktu yang bersamaan. "Sial, kenapa dia tidak datang setengah jam lagi saja," batin Rachel.
Acara berlangsung dengan sangat baik. Beberapa jam berlalu, dan beberapa nominasi serta kategori penghargaan sudah mendapatkan gilirannya. Hingga tibalah saat di mana kategori artis pendatang baru mulai dibacakan dan nominasi potongan film yang dibintangi peserta juga dikeluarkan.
Saat itulah, sebuah video yang tidak seharusnya ada, kini malah tampil di hadapan publik dalam acara bergengsi.
“Apa yang terjadi?” gumam Rachel membulatkan matanya dengan sempurna melihat di mana video yang di putar bukanlah film yang dia bintangi, melainkan saat di mana dia dan Rich bercumbu panas bersama untuk pertama kalinya malam itu.
Lampu utama sontak menyoroti sosok Rachel yang masih tercengang di kursi, semua mata tertuju padanya saat itu juga. Bukan karena dia yang memenangkan penghargaan, melainkan video syur yang saat itu di tayangkan.
“Kenapa jadi seperti ini?”
“Benarkah itu dia?’’
__ADS_1
Banyaknya bisik-bisik sesama rekan artis dan wartawan yang seketika berusaha mendekatinya membuat beberapa penjaga sontak berkumpul untuk menjaga Rachel. Dengan tubuh yang lemas dan otak buntu, Rachel di bawa keluar acara oleh para tim keamanan.
Pertanyaan-pertanyaan memojokkan tidak berperikemanusiaan dari para wartawan seolah hanya menjadi komat-kamit bibir tidak bersuara di mata Rachel. Pandangan terasa kosong, semua yang ada di sekitarnya seolah tuli di telinganya saat itu juga. Silau cahaya kamera seolah menyerbunya begitu saja.
Desakan demi desakan mendorong tubuh Rachel hingga hampir jatuh. Banyak botol minuman langsung melayang dan di lemparkan kepadanya saat itu juga.
"Dasar wanita jaalang!" Teriak salah seorang wanita yang ada di tengah kerumunan itu. Entah dari mana datangnya. Seolah mereka memang sudah berencana untuk mempermalukan Rachel malam ini.
Hingga tidak lama kemudian, dia pun tiba di van besar bersama Siska di dalamnya.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Siska langsung mengunci pintu mobil rapat-rapat dan kendaraan pun segera bergerak meninggalkan lokasi acara.
Hanya gelengan kepala yang bisa Rachel berikan sebagai jawaban. Dia sendiri tidak mengerti bagaimana bisa ada video malam tidak terduga tersebut di sana. Meskipun dia sudah mengingat siapa pria yang bersamanya kala itu, tetapi mustahil Richard menjebaknya hanya demi acara malam ini.
Sementara itu, di sudut tempat duduk lokasi berjalannya acara sejak tadi. Sosok pria dengan mengenakan setelan serba hitam masih bergeming di tempatnya dengan sangat santai. Acara berlangsung cukup kacau, pandangan matanya tertuju pada sosok wanita bergaun merah di kursi bagian bawah yang tidak jauh dari tempatnya.
Wanita itu menyeringai puas. Bersorak ria di dalam hatinya karena sudah berhasil mengalahkan satu-satunya pesaing malam ini. Dengan begini Hanna yakin, bukan hanya karir Rachel yang akan hancur, melainkan seluruh hidup wanita itu juga.
Bahkan Rachel bisa saja mendekam di penjara karena tuntutan yang ada, atau langsung bunuh diri karena malu. “Siapa suruh bermain-main dengan Hanna,” batinnya.
Di sudut kursi itu, Rich yang duduk memakan sebuah pil dengan wajah datar. Seolah mendapatkan target selanjutnya, dia langsung berdiri dari posisinya saat itu juga. Sementara kondisi tengah kacau, dia hanya berlalu begitu saja melewati sisi jalan yang sepi lainnya.
Setelah puas menyaksikan semua kericuhan di acara penghargaan itu, Rich melangkah menuju sebuah mobil di basement parkir. Dia melemparkan jas yang dikenakan ke tempat sampah, dan hanya menyisakan kaos hitam polos di tubuhnya. Dia bergerak sambil mengenakan sarung tangan, masker, serta sebuah topi hitam senada.
"Sudah kuduga aku akan mendapatkan kejutan hari ini," gumam Rich dengan sebuah seringai di wajahnya.
__ADS_1