My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 17: Nyicil Mati


__ADS_3

Sinar mentari menyusup di celah tirai yang masih belum terbuka. Sepasang mata mulai mengerjap pelan dan merasakan pusing di kepala. Rachel terbangun sambil memijat tengkuk yang terasa pegal, dia melihat jam di atas meja kecil di sampingnya. Sial, dia bangun kesiangan.


“Apa-apaan ini. Aku tidur atau nyicil mati?” gerutu Rachel seorang diri, setelah menyadari dia bangun terlalu siang hari ini. Padahal semalam dia sudah berniat untuk bangun lebih pagi dari biasa. Apa alarmnya rusak lagi?


Dengan segera Rachel melangkah keluar kamar, kedua tangannya mengikat rambut yang seperti singa betina ke atas. Aroma makanan lezat seketika menyerbak, menyapa indera penciuman, di kala dia membuka pintu kamar. "Enak sekali," batinnya.


Dia keluar dan melihat ke arah dapur. Seorang pria dengan celemek di tubuh dan lengan pakaian yang terlipat sampai siku, terlihat begitu indah menyambut pagi Rachel hari ini.


Meskipun hanya terlihat bagian belakangnya, untuk sejenak Rachel cukup terpesona akan pemandangan tersebut. Hingga pria itu pun berbalik membawa dua piring berisikan makanan di tangannya.


“Kau sudah bangun?” tanya Rich sambil meletakkan dua piring nasi goreng di meja makan.


“Ah, iya. Maaf. Seharusnya aku yang menyiapkan sarapan untukmu. Tapi, malah sebaliknya. Padahal kau sendiri sedang terluka,” ucap Rachel sedikit menyesal sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Jelas-jelas semalam dia sudah memasang alarm, tetapi sepertinya tidurnya sungguh terlalu nyenyak sampai-sampai tidak mendengar dering alarmnya. Bahkan badannya terasa begitu pegal-pegal ketika bangun tadi. Sungguh memalukan kalah rajin dengan pria yang sedang terluka.


“Kalau aku menunggumu bangun tidur. Sepertinya aku akan kelaparan saat berangkat kerja nanti. Nah, ayo makan! Setidaknya kau memiliki beberapa bahan makanan di sini. Jadi aku tidak perlu repot-repot mengeluarkan uang untuk sarapan pagi ini. Lagi pula kau sudah berbaik hati menampungku. Aku bukanlah pria yang tidak tahu malu. Tenang saja," ucap Rich sambil menuangkan dia gelas susu.


Rich mampu bertingkah biasa, seolah dia yang semalam bukanlah apa-apa sungguh terlihat begitu berbeda. Entah apa yang sesungguhnya dia pikirkan saat ini. Mungkinkah Rich memiliki kepribadian ganda?


Mata elang Rich terlihat penuh teka-teki melihat Rachel yang dengan lahap mencicipi masakannya.


Rasanya memang cukup lezat karena Rich terbiasa memasak dengan sang kakek. Dia pun tidak menaruh racun atau sejenisnya di sana. Jadi, Rachel tidak perlu terlalu khawatir. Hanya orang bodoh yang berniat membunuh secara terang-terangan.


Bukan tanpa alasan Rachel terlambat bangun hari ini, tetapi memang karena obat tidur yang diberikan anak buah Rich terlalu kuat bagi wanita itu. Jika tidak begitu, tentu saja Rich akan ketahuan jika dia keluar malam tadi.


“Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa sekarang kau terpesona dengan artis cantik ini,” tanya Rachel genit sambil menopang dagu dengan tangan dan berkedip beberapa kali.


“Tidak.” Rich menyuap satu sendok makanan ke dalam mulut. Lalu kembali menatap Rachel dengan sendok di udara. "Hanya saja ada belek di sudut matamu,” katanya lagi.


Malu, itulah yang Rachel rasakan saat ini. Ingin sekali dia memukul pria dihadapannya saat ini. Namun, terlalu kasihan karena Rich tengah terluka.


"Bukan yang kanan, tapi kiri," ucap Rich lagi ketika melihat Rachel berusaha membersihkan matanya, sedangkan dia masih tetap menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Aku kenyang. Kalau begitu aku mau mandi dulu.” ucap Rachel pada akhirnya memilih beranjak. Selera makannya tiba-tiba saja hilang, mengingat dia bahkan belum gosok gigi tadi. Bisa-bisa aroma mulutnya mengacaukan sarapan pagi ini nanti. Lebih baik segera melarikan diri, sebelum semua rahasia jeleknya sebagai seorang wanita terbongkar di hadapan Richard.


Rachel beranjak dari posisinya, sedangkan Rich hanya mengangguk kecil.


“Tunggu! Kau akan bekerja hari ini?” tanya Rachel menghentikan langkah.


“Tentu saja. Itu bukan perusahaanku. Jadi aku tidak bisa mengajukan libur seenaknya saja.”


“Baiklah. Aku akan mengantarmu hari ini. Tunggu sebentar aku akan bersiap-siap.” Rachel segera berlari ke kamarnya, sedangkan Richard hanya mengangguk kecil.


Dia yang tadinya berwajah biasa, kini berubah ekspresi dingin menatap punggung Rachel yang menghilang di balik pintu. Entah rencana apa yang Rich miliki pada wanita itu. Akan tetapi, satu hal yang pasti, Rich akan membuat Rachel benar-benar jatuh hati padanya terlebih dahulu sebelum bertindak. Dia akan memastikan semua rencana berjalan sesuai dengan seharusnya, tanpa seorang pun akan curiga nantinya.


Sebagai seorang pria, dia tidak bisa terlalu terang-terangan melakukan pendekatan terhadap Rachel. Tentu saja harus menggunakan trik yang tidak mudah dan natural. Perlahan, tapi pasti. Dia pasti bisa menaklukkan hati Rachel. Namun, bukan hubungan romansa yang Rich inginkan, melainkan lebih ke cara memanfaatkan wanita itu untuk kepentingannya sendiri ke depannya. Hanya dengan begitu, tujuan yang sesungguhnya akan berjalan dengan sempurna.


Tuhan seperti sedang mempermainkan takdir, dengan kebetulan mempertemukan dia Rachel di waktu yang sangat tepat. Meskipun awalnya, Rich tidak memiliki niat apapun, tetapi semuanya berubah setelah dia mendapati kenyataan sesungguhnya siapa Rachel sebetulnya.


Di sisi lain, di sebuah gedung perusahaan besar, seorang pria paruh baya berdiri tegak, dengan salah satu tangan di dalam saku celana. Dia memandang beberapa gedung di seberang dengan tatapan tidak biasa. Bukan hal yang mudah baginya untuk sampai di posisi seperti sekarang.


Asam garam kehidupan bisnis dan gelap terangnya apa yang dia lakukan sudah tergambar dengan begitu jelas.


Kini, pikiran pria itu melayang entah ke mana, tetapi firasatnya berkata buruk kali ini. Akankah kehidupannya yang tenang dan damai kini akan berubah menjadi petaka. Tidak perlu waktu lama, seorang dari luar terdengar mengetuk pintu.


“Masuk!" Dia berbalik, pintu terbuka menampakkan sosok sang asisten pribadi dengan usia yang tidak kalah jauh dengannya. Bekerja sama puluhan tahun lamanya membuat keduanya begitu akrab dan rapat. Seperti halnya tubuh dan bayangan. Saking melengkapi di segala hal.


“Bagaimana?”


“Mereka gagal membunuhnya, Tuan. Tapi mereka berhasil membuatnya terluka,” lapor pria itu.


Ben perlahan melangkah menuju kursi kebesarannya. Selama ini orang yang dia sewa tidak pernah gagal dalam menjalankan tugas, tetapi baru kali ini mereka bekerja dengan tidak memuaskan. Itu artinya hanya ada dua kemungkinan. Kinerja mereka yang menurun dan memerlukan lebih banyak suntikan dana, atau memang pria yang mereka hadapi bukanlah orang sembarangan.


Sambil berpikir Ben memutar-mutar kursi itu. Kedua tangan dia satukan, sepertinya Rich bukanlah orang sembarangan yang mudah untuk disentuh.


“Bagaimana dengan Rachel?” tanya Ben lagi.

__ADS_1


“Nona Besar sekarang tinggal di apartemen yang disewa bersama pria itu. Haruskah saya memintanya kembali ke kediaman?”


Ben menggeleng kecil, selama ini dia berusaha melindungi Rachel dengan caranya sendiri. Hanya saja sang putri tidak menyadarinya dan mengira jika kasih sayangnya pada Rose lebih besar. Padahal kenyataan malah sebaliknya. “Semakin kita menentangnya, dia akan semakin memberontak.”


Sang asisten mengangguk paham. Begitulah Rachel. Dahulu Ben memaksa Rachel mengambil sekolah bisnis agar bisa meneruskan perusahaan, tetapi wanita itu malah melarikan diri dan melanjutkan pendidikan sesuai keinginannya sendiri. Bukan hanya itu, tetapi Rachel juga malah menjadi publik figur yang jelas-jelas Ben benci. Mau tak mau, posisi yang seharusnya Ben berikan kepada Rachel, sementara Ben berikan kepada Rose.


Bagi orang lain, mungkin dia terlihat mengabaikan anaknya sendiri. Namun, pada kenyataannya semakin bertambahnya usia, semakin banyak musuh yang berdatangan berniat menjatuhkannya. Entah berasal dari masa lalu maupun masa depan, sehingga Ben tidak ingin Rachel terluka oleh mereka yang mengincar bisnis maupun kehidupannya.


"Biarkan saja dia bermain-main sebentar. Nanti dia juga akan mengerti, tidak ada untungnya menikahi pria miskin. Apa kau berhasil menutup skandal itu?" tanya Ben lagi.


"Sebelum saya berusaha menutupnya. Berita tersebut sudah menghilang dari peredaran, Tuan. Hanya menjadi trending topik satu hari, lalu berubah menjadi berita skandal pembunuhan berencana aparat negara."


"Apa?" Lagi-lagi Ben terkejut dengan penuturan asistennya. "Mungkinkah Tuan Bram sudah bergerak cepat?" gumam Ben lirik, tetapi masih bisa di dengar asistennya.


"Kemungkinan bukan Tuan Bram, Tuan. Tiga hari setelah kejadian malam itu, Tuan Bram menghentikan seluruh kerjasamanya dengan kita. Dia bahkan menolak segala penawaran yang sudah saya berikan sebelumnya—" Belum sempat asisten itu melanjutkan kalimatnya, tatapan tajam dari Ben terlihat sudah begitu mengerikan. Namun, dia berusaha tetap tenang dan masih memberikan laporan. "Dan dia juga menutup akses bisnisnya yang berhubungan dengan kita, Tuan."


Suara gebrakan meja menggelegar memenuhi ruang. Siapakah orang yang kira-kira berani bermain-main dengan Ben?


"Terus awasi Rachel dan cari tahu siapa sebenarnya calon suaminya itu. Orang biasa tidak mungkin menolak penawaran yang aku berikan sebelumnya dengan begitu yakin. Kecuali, jika memang memiliki maksud lain dengan tujuan yang lebih besar. Pasti terjadi sesuatu dengan Bram hingga dia berani menolak penawaran kita. Awas saja kalau sampai aku mendapati dia bekerja sama dengan musuh kita."


“Maksud Anda, Tuan.”


Sejenak Ben terdiam memikirkan segala kemungkinan yang terjadi. “Sudahlah. Urusan Bram nanti saja. Rachel lebih penting. Ada baiknya jika memang mereka saling mencintai dan keduanya sudah menikah serta putriku benar-benar hamil. Setidaknya kita bisa menilai dia benar-benar tulus atau hanya tipuan belaka. Kita awasi Rachel dan pria dari dekat saja nanti. Kita akan tahu apa tujuannya yang sebenarnya mendekati Rachel. Akankah dia benar-benar mencintai putriku, atau dia sama saja seperti Roy yang hanya berambisi untuk mengambil alih perusahaan ini.”


Bukan tanpa alasan Ben menyetujui hubungan antara Rose dan Roy. Semua itu tidak lain karena dia paham betul bagaimana sikap pria tersebut. Roy tidak pantas bersanding dengan Rachelnya yang berharga. Karena itulah, Ben membiarkannya bersama anak tirinya—Rose.


"Saya mengerti, Tuan."


"Kalau begitu, cari investor baru untuk proyek kita nanti. Aku tidak mau semuanya batal hanya karena Bram."


"Sebenarnya ada lagi investor yang cocok dengan proyek kita, Tuan. Tapi, kemungkinan sulit untuk mendapatkannya. Mengingat tim pemasaran yang berusaha bekerja sama dengan mereka saja sudah ditolak."


"Perusahaan mana?"

__ADS_1


"Dday Holdings."


__ADS_2