My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 56: Mata-mata


__ADS_3

Richard memang dengan sengaja membiarkan Dante berada di atas awan terlebih dahulu. Namun, sebelum hari di mana tender akan dilaksanakan, Rich sudah mengamati siapa saja yang harus dia basmi saat ini, dan hasilnya yang paling utama adalah sekretaris sang paman. Meskipun sudah bekerja selama sepuluh tahun lamanya di Dday Holdings, tetapi wanita tersebut bukan benar-benar membantu kemajuan perusahaan, melainkan melaporkan apa saja yang terjadi di Dday Holdings di bawah kepemimpinan Reymond


Beruntungnya, Richard memang sejak awal tidak pernah menginjakkan kaki di perusahaan itu, sehingga jati dirinya sebagai keponakan Reymond tidak pernah ada yang tahu sebelumnya. Dia pun selalu waspada terhadap orang-orang di sekitarnya. Mengingat sang paman saja sudah kecolongan dengan pergerakan mereka.


Richard duduk di ruangannya setelah kembali dari tempat di mana tender berlangsung. Dua wanita kini berdiri di hadapannya dengan wajah menunduk takut. Bukan hanya sang sekretaris, tetapi juga desainer senior yang sudah mencuri serta mengakui desain karyawan magang sebagai miliknya.


“Kalian hanya punya dua pilihan saat ini. Akui apa yang kalian lakukan, atau aku akan bertindak lain dengan memberikan kejutan,” ucap Richard santai.


“Saya tidak melakukan kesalahan apa pun, Tuan,” ucap sang desainer membela diri.


“Benarkah?” tanya Rich dengan sebuah seringai di wajahnya. “Bagaimana denganmu?” tanya Rich beralih menatap sekretarisnya.


“Saya hanya membawakannya, Tuan. Bahkan melihatnya pun tidak,” jawab sang sekretaris yakin.


Richard hanya mengangguk kecil, dia lantas membuka sebuah tablet di tangannya dan menyerahkan benda tersebut pada kedua karyawan itu. “Lihat ini!”

__ADS_1


Sang desainer tampak terbelalak melihat gambar mahkota yang berikan oleh Richard. Akan tetapi, sebagai desainer asli, dia jelas tahu sedikit perbedaan dari benda tersebut dan desain miliknya. “Tidak mungkin. Saya sendiri yang membuatnya saat itu, Tuan dan ini,” tunjuknya pada salah satu sisi. “Meskipun memiliki bentuk dan warna yang sama, tetapi mereka jelas dua barang yang berbeda, desain lebih halus karena memang memiliki maksud lain sesuai dengan keinginan Anda.”


Richard mengangguk kecil mendengar penuturan desainernya. "Kau benar."


Rich memang sengaja sejak awal memilih dua desain yang berbeda dari desainer yang berbeda pula. Hanya saja, dalam tahap pembuatannya salah satunya bersifat rahasia dan hanya segelintir orang yang mengetahuinya, sedangkan satunya lagi, tentu saja diketahui oleh banyak pihak. Hal itu dia lakukan, demi mengecoh lawan dan memberikan sedikit perubahan kecil pada desain mahkota yang digadang-gadang akan dia bawa dalam acara itu, seperti keinginannya. Sungguh suatu hal yang tidak akan di duga oleh mereka para pencuri data.


Setidaknya sang desainer tidak sebodoh itu mau membocorkan rahasia dagang pada perusahaan lainnya, yang tentunya akan sangat merugikan dirinya sendiri juga perusahaan. Akan tetapi, sasaran Richard saat ini memanglah si sekretaris, di mana gerak geriknya sudah mencurigakan sejak awal.


"Bagaimana denganmu?" Rich beralih bertanya pada sekretaris di hadapannya yang kini tampak lebih pucat dari sebelumnya. Namun, tampaknya dia masih belum berniat mengaku dan memilih menyerang balik Richard.


Richard sontak tertawa lebar, sungguh akting sangat memukau. Kenapa para wanita mudah sekali bersandiwara, padahal fakta mengatakan sebaliknya. “Aku tidak pernah mengatakan hal itu sebelumnya. Tapi, sepertinya sekarang kau terlalu gugup jika topengmu bisa terbongkar olehku.” Perlahan Rich berdiri dari posisinya, dan melangkah ke depan. Kedua tangan dia letakkan di dalam saku, dan bokongnya bersandar pada meja kerja. “Apa kau tahu hukuman apa yang bisa kuberikan pada seorang pengkhianat?”


Pandangan mata Rich yang hanya melirik sekilas, menyebabkan sang wanita bergindik ngeri karenanya. Entah mengapa kini dia merasa pria di hadapannya sangat tidak mudah untuk dibohongi. Dia menelan salivanya sendiri dengan susah payah dan tidak mampu menjawab sepatah kata pun.


Hanya ada sunyi dan senyap yang kini menambahkan kesan menegangkan di ruangan tersebut. Tiba-tiba saja, Richard memutar sebuah rekaman dari black box yang berisikan pembicaraan serta transaksi di mana sang sekretaris tengah menghubungi orang suruhan Dante dan berbicara mengenai desain yang kan digunakan oleh Dday Holdings. Tidak cukup di sana, sekretaris itu bahkan berniat menjebak desainer di sampingnya, agar menjadi tersangka utama. Sayangnya, yang mereka lawan saat ini adalah Richard, seorang yang bergerak dengan sangat hati-hati dan teliti dalam menjalankan setiap pekerjaan.

__ADS_1


“Ba-bagimana bisa?” gumam sekretaris itu dengan kedua bola mata yang membulat sempurna. Dia tidak menyangka, jika Richard benar-benar sangat sulit untuk di kecoh. Bahkan rekaman yang sudah dia hapus sebelumnya, kini malah bisa sampai ke tangan Rich.


“Kau bisa menjelaskan semua itu nanti pada Pengawas Internal.”


Tidak perlu waktu lama, beberapa orang pria tampak memasuki ruangan Richard. Mereka membungkuk hormat terlebih dahulu, dan meminta izin untuk membawa sang sekretaris bersama mereka.


Richard hanya bisa mengangguk mempersilakan, sedangkan wanita itu tampak meronta-ronta tidak karuan. “Lepaskan! Lepaskan kau saya tidak bersalah di sini,” teriaknya sambil di seret pergi meninggalkan ruang.


“Kau boleh pergi dan ambil bonusmu,” ucap Rich pada sang desainer yang masih berdiri di hadapannya.


Wanita itu pun mengangguk paham, sedangkan Richard tampak merogoh ponsel di sakunya yang berdering. Dia menggeser bulatan hijau di layar ke atas, dan meletakkan benda pipih tersebut ke samping telinganya. Hanya sebuah dehaman yang awalnya Rich berikan, tetapi sedetik kemudian, di berdiri dengan tegak dan menyambar kunci mobil di atas mejanya. “Aku akan segera ke sana,” ucap Rich sebelum mematikan sambungan telepon.


Melihat Rich yang tampak tergesa-gesa melangkah ke luar ryangan, asisten di luar yang hendak melaporkan sesuatu lantas mengundurkan niatnya. “Tuan.”


“Apa pun itu. Kita bicarakan besok saja, atau kau boleh menghubungi Jack dan Ramon jika memang membutuhkan bantuan. Dan katakan pada mereka, urus wanita itu diam-diam setelah semuanya selesai. Tidak perlu ada kata maaf untuk para pengkhianat. Meskipun dia adalah karyawan wanita yang sudah berabad-abad bekerja di sini." Richard lalu melangkah dengan tergesa-gesa pergi begitu saja setelah meninggalkan pesan.

__ADS_1


Banyak karyawan yang kini membungkuk hormat jika Rich lewat, padahal sebelumnya dia hanyalah ibarat sampah yang tidak pernah di anggap kehadirannya. Tidak terkecuali sang manajer pemasaran yang dulu menjadi atasan pria tersebut. “Untung dulu aku tidak menyinggungnya terlalu parah,” gumamnya melihat wajah serius Rich setelah pria itu melewatinya sambil mengusap dadanya yang rata.


__ADS_2