My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 38: Kecelakaan


__ADS_3

Setelah meninggalkan pesan pada anak buahnya, Richard  lantas bergerak menuju tempat di mana ayah Ramon akan dimakamkan. Karena mereka tergolong orang miskin, upacara pemakaman pun di laksanakan secara sederhana, bahkan hanya beberapa orang yang hadir di sana.


Rich melihat bagaimana Ramon tertunduk lesu sambil memegang pigura berisikan foto sang ayah. Richard mengepalkan kedua tangan dengan sangat kuat, mencoba memendam amarah yang kini mulai merasuk dalam dirinya.


Syukurlah, acara pemakaman berlangsung dengan khidmat tanpa halangan suatu apa pun. Richard  lantas mengantarkan Ramon ke rumah yang di tempati rekannya itu. Hanya sebuah bangunan kecil yang bahkan lebih sempit dari apa yang diberikan sang paman padanya.


Richard  tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun pada Ramon. Dia sendiri lupa bagaimana caranya menghibur orang yang sedang berduka.


“Rich, apa kau pernah kehilangan orang yang kau sayangi?”


Pertanyaan Ramon akhirnya memecah keheningan kala itu. Tentu saja Richard  pernah merasakannya, hanya saja usianya masih terlalu muda saat itu, jika di bandingkan dengan Ramon saat ini.


Richard  pun akhirnya hanya mengangguk kecil, membiarkan Ramon menumpahkan segala keluh kesah padanya.


“Dia adalah sosok yang menyebalkan bagiku." Sejenak Ramon tertawa kecil mengingat kembali bagaimana sikap sang ayah selama ini. "Dari luar dia terlihat begitu membenciku. Ayah, setiap kalimat yang dia ucapkan selalu saja berlawanan dengan hatinya. Aku tahu dia sangat peduli padaku, tapi tetap saja lain di mulut lain di hati. Dia selalu saja membuatku jengkel setiap hari."


Lagi-lagi Ramon menghentikan kalimatnya. Kali ini buliran hangat mengalir begitu saja di pipi tanpa dia minta. Tubuhnya bergetar hebat, deru napas serta ingus mulai menghambat hidungnya yang pesek. "Tapi kenapa kepergiannya begitu membuatku sesak Rich? Rasanya sakit sekali."


Richard  tentu saja tidak mampu menjawab. Dia hanya mengusap punggung Ramon perlahan dan menyalurkan segala ketegaran yang di miliki pada rekannya itu.


Apa yang diceritakan Ramon, Richard  dapat mendengarnya dengan seksama. Entah mengapa bayangan sang paman seketika hadir dalam ingatannya. Pamannya tidak pernah mengatakan hal baik tentangnya. Apa yang Richard  inginkan selalu salah di mata sang paman. Tidak jarang, Richard  bahkan harus menerima pukulan, sebagai tanggung jawab atas kesalahan yang sudah dia lakukan. Namun, Richard  menyadari, semua itu adalah bentuk kasih sayang yang bisa pamannya berikan padanya.


Rich menghela napas panjang, sepertinya dia harus mengajak sang paman untuk minum bersama malam ini. “Kau tidak boleh larut dalam kesedihanmu. Mereka yang pergi, memiliki kehidupan baru di alam lain, sedangkan kita yang ditinggalkan seorang diri. Harus tetap bertahan menghadapi kejamnya dunia yang fana ini."


Entah dari mana Richard  dapat berkata sebijak itu. Mungkin karena terlalu banyak berkonsultasi dengan psikiater dulu membuat setiap kalimat yang mereka ucapkan secara tidak sadar tersimpan begitu saja dalam ingatan Richard.

__ADS_1


_____________


Di sisi lain, Reymond  menghabiskan hari minggunya untuk berkelana. Entah apa yang pria itu cari, tetapi informasi dari anak buahnya mengatakan jika orang yang dia cari, lagi-lagi berada di suatu tempat yang jauh dari lokasinya saat ini.


Awalnya Reymond  mengemudi dengan kecepatan tinggi sambil sesekali berdoa, semoga saja apa yang dia cari selama ini benar-benar ada di tempat itu. Sudah bertahun-tahun Reymond  mencari tahu tentang keberadaan orang tersebut, sayangnya selalu saja jalan buntu yang diterima selama ini.


Reymond mengemudi seorang diri tanpa membawa satu orang pun di sekitarnya. Entah umpan yang disengaja atau karena hal lain, sehingga Reymond  tidak memberikan pengawalan bagi dirinya sendiri. Akan tetapi, pria itu cukup sadar seseorang tengah mengincar nyawanya saat ini.


Benar saja, tidak lama kemudian, dia sudah melihat ada dua mobil lainnya yang mengikuti di belakang. “Kalian sungguh mengawasiku selama ini? Baiklah, mari kita lihat siapa yang akan menang kali ini!” Sebuah seringai kembali melengkung di wajah Reymond.


Dia dengan segera menancap gas dan bergerak melesat begitu saja, dua mobil lainnya sontak mengikutinya dari belakang. Sayangnya, kendaraan mereka juga terbuat dari kaca hitam yang tidak tembus pandang, sehingga Reymond cukup kesulitan melihat ada berapa orang yang mengincarnya saat ini.


Saat ini, posisi Reymond  berada di sebuah jalan menuju gunung. Jalanan yang dilalui pun berkelok-kelok. Tiba-tiba saja, suasana yang cerah berubah menjadi gumulan awan hitam pekat. “Sial. Apakah akan turun hujan di waktu seperti ini?” umpat Reymond  kesal.


Hal biasa terjadi curah hujan tinggi di pegunungan, tetapi Reymond sendiri tidak menyangka datangnya begitu bertepatan dengan situasinya saat ini. Kejar-kejaran pun terjadi cukup lama, hingga tibalah Reymond  di suatu jalanan yang menurun. Anehnya kedua mobil itu dengan mudah tidak lagi mengikutinya. Mereka menghilang begitu saja, seolah sudah hanya menggiringnya untuk bertindak.


Namun, ketika Reymond berusaha mengurangi kecepatan, dia pun membelalakkan mata hingga membulat sempurna. Mobil yang tadinya baik-baik saja, kini mengalami rem blong, padahal posisinya saat ini tengah berada di jalan menurun, licin, serta berkelok-kelok.


Pria itu pun menghela napas kasar.


“Sial!" Reymond  masih berusaha untuk tenang dengan mengurangi gigi yang digunakan pada mobilnya untuk menyiasati situasi saat ini. Dia berusaha menutupi kepanikan dalam dirinya dengan tetap bersikap santai.


Namun, ketiga mobil yang tadi menghilang entah ke mana, kini kembali hadir di belakangnya. "Ternyata dia masih cerdas dan sulit untuk ditaklukkan," ucap seorang wanita di salah satu dari kedua mobil itu sambil menaikkan salah satu sudut bibirnya. "Pria yang selalu menarik. Terus ikuti dan lihat apa yang bisa dia lakukan dengan kecepatan seperti itu nantinya!"


"Baik, Bos." Sang anak buah yang mengemudi hanya bisa mengikuti perintah wanita itu dan menancap gas guna mengimbangi kecepatan Reymond.

__ADS_1


"Kalau pun dia masih selamat, semuanya hanya akan terjadi jika dia memiliki keberuntungan lebih kali ini! Tapi, tidak akan ku biarkan dia bernapas dengan bebas hari ini. Sudah terlalu lama aku mengulur waktu, dan kau masih saja mencarinya. Jangan salahkan aku, Reymond! Salahkan dirimu sendiri yang tidak pernah mau membuka hati untukku," batin wanita itu menatap tajam ke depan.


Mau tidak mau kejar-kejaran di jalan pun tidak lagi terelakkan. Reymond  yang merasa nyawanya memang sudah di targetkan kali ini, memilih untuk segera mengambil ponselnya. Dia segera meninggalkan pesan berwaktu yang akan dikirim pada sang keponakan jika nanti benar-benar terjadi suatu hal yang tidak inginkan.


Setelah selesai meninggalkan wasiat, Reymond yang merasa sudah berada di titik aman dan sepi mulai mengembuskan napas panjang berulang kali sebelum memulai aksi. “Baiklah kita mulai semuanya. Jangan salahkan aku jika membasmi kalian lebih dari apa yang kalian bisa duga! Kalau aku masih hidup, aku pastikan kalian yang akan mati!” Sumpah Reymond  dengan tatapan yakin dan berusaha berdoa sebelum mulai mempertaruhkan nyawanya.


Reymond mengembuskan napas berat. “Ayo mulai!”


Dia pun memindah tuas gigi ke posisi reserve dengan segera. Mobil bergerak mundur dengan kecepatan tinggi, dan ketika dia berada di samping salah satu mobil lawan, Reymond mengeluarkan tangan kanannya yang memegang pistol dan menembak beberapa kali tepat di bagian ban mobil lawan.


Suara ledakan ban pecah pun terdengar begitu keras. Mobil yang mereka kendarai kini tidak seimbang dan bergerak tidak karuan di jalan. Namun, belum sempat mobil itu berhenti, Reymond dari belakang kini sudah bergerak maju dan mendorongnya hingga jatuh ke jurang.


Kini hanya ada kobaran api di kejauhan jurang yang terlihat mengeluarkan asap hitam pekat dan cahaya kemerahan setelah terdengar suatu ledakan yang dahsyat.


Senyum mengerikan lagi-lagi terukir di wajah wanita yang berada di mobil itu. "Mengesankan, pesonamu memang tidak pernah berubah sejak dulu, Reymond," gumamnya lirih.


Beruntung sepertinya Tuhan masih memberikan keselamatan pada Reymond, hingga dia masih bisa mengendalikan kembali kendaraannya. “Tinggal satu lagi,” ucapnya antusias.


 Akan tetapi, belum sempat Reymond kembali beraksi. Dia sudah harus kembali di hadapkan dengan situasi buruk. Tiba-tiba saja sebuah truk bermuatan berat berbelok ke kiri tepat di depannya dan kondisi jalanan sedang menikung.


Keterkejutan membuat Reymond langsung berusaha menginjak pedal rem. Namun, kondisinya saat ini tentu saja tidak memungkinkan karena mobilnya memang mengalami rem blong. Reymond  yang tidak siap dengan hal ini hanya bisa pasrah ketika berada di dalam kendaraan yang bagian belakangnya tertahan oleh pembatas jalan dan hampir jatuh itu, sedangkan bagian depan mobilnya ringsek dan terselip kendaraan bermuatan besar tersebut. Reymond  yang terbentur setir serta pecahan kaca, hanya bisa menggerakkan sedikit jemari di tengah menipisnya kesadaran dalam dirinya.


Darah mengalir di sekujur tubuh Reymond. Beberapa saat kemudian, mobil di belakang tampak berhenti dan berusaha membuka pintu mobil guna menyelamatkannya. Namun, apa yang ada di pikiran Reymond sat ini hanyalah sang keponakan. Dia melirik di mana ponselnya terjatuh di bawah. Sebuah wallpaper saat dia masih muda bersama seorang bayi mungil dalam dekapannya.


Tidak berselang lama, sosok yang dirindukan tiba-tiba menghubunginya. Sayangnya, Reymond tidak lagi mampu menggerakkan tubuhnya hanya untuk mengangkat panggilan itu.

__ADS_1


“Rich.” Reymond berkata sangat pelan. Darah mengalir di sekujur tubuh Reymond lengkap dengan rasa sakit yang luar biasa, seolah nyawanya sudah di ambang batas. Entah pada akhirnya dia akan hidup atau mati, tetapi dalam hatinya masih memikirkan sang keponakan di situasi seperti itu. “Semoga kau sudah siap dengan semua ini, Rich,” batin Reymond  sebelum akhirnya kesadaran menghilang sepenuhnya dari dalam dirinya.


Sementara itu, setelah memastikan targetnya terluka cukup parah dan bisa mati kapan saja. Sang wanita di mobil lain di kejauhan tampak tersenyum puas. "Selamat tinggal Reymond, cintaku," batin wanita itu.


__ADS_2