My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 67


__ADS_3

Tanpa membuang waktu, Richard menarik tangan Rachel, menggenggamnya dengan erat menuju tempat yang seharusnya. Sesekali dia menoleh ke belakang di mata sang wanita masih tampak tercengang dengan apa yang di alami, sedangkan Rich hanya bisa memberikan senyum termanis yang dimiliki.


Rachel dan Richard bergegas menuju gereja tempat di mana acara pengucapan janji suci mereka akan diadakan. Sebelumnya, Richard sudah memerintahkan pada Ramon, dan Jack agar datang terlebih dulu serta menambahkan sedikit pengaturan di dalamnya, sedangkan dia menunggu sang wanita sadarkan diri. Meskipun terkesan kilat, tetapi Richard juga ingin memberi yang terbaik dan tidak terlalu sederhana, agar tidak menyesal di kemudian hari.


Hingga beberapa saat kemudian, keduanya pun berhenti ketika tiba di depan pintu aula gereja yang masih tertutup tersebut. “Apa kau lelah?” tanya Richard melihat Rachel yang membungkuk sambil terengah-engah mengatur napasnya. Dengan jantung yang berdegup kencang, Richard melingkarkan lengannya agar tangan Rachel kembali terpaut di sana.


Sementara itu, setelah napasnya kembali terkontrol, Rachel menegakkan tubuh dan melihat dengan seksama wajah tersenyum pria yang kini berada di hadapannya. “Benarkah ini bukan mimpi,” batin Rachel.


Richard mengangguk sekali untuk menatap kegugupan Rachel dalam jangka waktu yang lumayan lama itu guna meyakinkannya. Kehilangan wanita tersebut selama berhari-hari dan mengetahui ternyata pria lain juga menginginkan Rachel, tentu saja menyulutkan kobaran api cemburu dalam diri Richard. Kini Rich sadar, tanpa diminta, perasaan cinta itu benar-benar hadir dengan sendirinya dan pada akhirnya, dia terjebak dengan rencananya sendiri. Dia tidak ingin kecolongan setelah memastikan jika perasaan yang selama ini di tahannya adalah nyata.


Meskipun, berulang kali Richard menyangkal dan memaksakan dirinya kalau semua ini hanyalah sebuah permainan belaka. Nyatanya Rich tidak bisa menapik, jika dirinya sudah terjebak dalam permainan yang dia ciptakan sendiri dan tanpa sadar jatuh cinta pada Rachel.


Jika sebelumnya mereka menjadi pasangan hanya dengan sebuah perjanjian di atas kertas. Maka kali ini Richard akan meresmikannya, baik secara hukum maupun agama. Sehingga tidak memberikan sedikit pun kesempatan pada pria lain untuk merebut wanita miliknya. Dia juga sudah memikirkan rencana masa depannya terhadap musuh ke depannya, sehingga Rachel tidak akan lagi menjadi korban dan akan selalu dalam pengawasannya.


"Apa kau sudah siap?" tanya Rich membuyarkan lamunan Rachel kala itu.


Rachel pun menghela napas panjang untuk sejenak sambil tersenyum gugup. Dia lantas menarik bibir ke belakang hingga membentuk sebuah lengkung senyuman yang indah, lalu menautkan tangan di lengan calon suaminya sambil mengangguk kecil.

__ADS_1


“Aku siap.” Tentu dia masih tidak menyangka jika ini semua adalah kenyataan. Namun, benar-benar berhasil membuat Rachel melambung tinggi di awan. Biarlah Richard tidak pernah mengatakan kata-kata cinta yang manis layaknya mantan kekasihnya terdahulu. Bagian terpentingnya adalah, Richard membuktikan perasaan dengan tindakan nyata yang bahkan untuk memimpikannya saja, awalnya Rachel tidak akan sanggup.


Keduanya melangkah menuju pintu gereja dengan perasaan sama-sama tidak karuan, antara bahagia, haru, puas, dan juga lega karena bisa segera bersama, seketika merasuki diri keduanya. Mereka membuka pintu tersebut bersamaan. Terlihat aula utama gereja itu sudah bukan lagi tempat untuk beribadah, tetapi sudah layaknya lokasi pernikahan mewah nan megah. Bukan hanya karena terdapat beberapa bunga yang menghiasi ruangan. Namun, juga adanya para tamu undangan yang mulai berdiri dan bertepuk tangan menyambut kehadiran keduanya, menambahkan kesan nyata dalam suasana bahagia hari itu.


Rachel terpaku menatap indahnya dekorasi. Dia menatap Richard di sampingnya untuk sesaat, tetapi pria itu hanya tersenyum. Tanpa sadar buliran hangat menggenang di pelupuk mata sang wanita begitu saja. Benarkah kali ini dia adalah seorang pengantin? Dan bukan berperan sebagai pengantin pengganti seperti syuting film yang selalu dia perankan.


"Jangan menangis! Nanti riasanmu luntur," bisik Richard di telinga Rachel hingga membuat wanita tersebut seketika kembali mengulas senyum.


“Aku yakin, kau sudah menggunakan make over terbaik untukku. Jadi tidak mungkin mudah luntur begitu saja,” bisik Rachel. Rasa haru menyeruak menghangatkan hati Rachel yang beku. Dia sungguh dibuat bahagia dengan perlakuan Richard, meskipun ini adalah pernikahan dadakan, tetapi pria itu menyiapkan segalanya dengan sangat baik. Dia masih belum bisa menyangka jika akan membuka mata dengan disambut sebuah impian terbesar dalam hidupnya, yaitu menikah dengan orang yang dicinta.


Tanpa membuang waktu, mereka berjalan masuk menuju altar di depan. Alunan lagu pernikahan mengiringi langkah perlahan keduanya. Terlihat di mata Rachel, sang ayah hadir dengan masih menggunakan kursi roda. Dia menitihkan air mata melihat kebahagiaan sang putri hari ini. Mereka pantas bahagia dan beruntungnya dia bisa menyaksikan hal itu sekarang, tanpa harus waspada menyerahkan Rachel pada Richard seperti sebelumnya.


“Kau bisa mencari tahu nanti,” jawab Rich dengan suara yang juga lirih.


Rachel tidak menyangka, jika Richard akan memberikan pernikahan mengejutkan yang indah, padahal baru beberapa menit yang lalu keduanya bertemu setelah sekian lama terpisah jarak dan waktu. Namun, kondisi ayahnya memang membuat wanita tersebut sedikit heran. Rasanya baru satu minggu yang lalu dia diculik, kenapa kini ayahnya duduk di kursi roda. Pasti sudah terjadi suatu hal yang tidak diketahui, selama dia tidak ada di sini.


Tanpa terasa langkah mereka sudah sampai pada puncaknya. Setibanya di altar mereka saling berhadapan di depan pendeta untuk melakukan janji suci pernikahan. Richard menggenggam erat tangan kedua tangan Rachel sambil menatap lurus ke arah calon istrinya yang tampak sangat memukau hari ini. Setelah menyampaikan beberapa kata, dan memastikan tidak adanya keterpaksaan di antara kedua mempelai, pendeta pun mempersilakan sang pengantin untuk mengucap janji suci pernikahan.

__ADS_1


"Rachel, maafkan aku membiarkanmu menunggumu terlalu lama. Aku hanyalah pria bodoh dengan keegoisan yang tinggi. jadi aku tidak akan menerima penolakan jika engkau menolak menjadi istriku hari ini. Aku mungkin bukanlah pria sempurna yang romantis seperti harapanmu. Tapi, dengan segala hal yang ku miliki biarkan aku menjadi suamimu. Aku akan berusaha membuatmu selalu bahagia dalam keadaan sehat maupun sakit, susah maupun senang, kaya atau miskin. Dan aku akan selalu menjadikanmu satu-satunya ratu drama di hatiku seumur hidup ini dan sampai maut memisahkan kita. Inilah janji setiaku yang tulus."


Rachel hanya bisa mengangguk kecil tanpa sadar buliran hangat lolos begitu saja dari pelupuk matanya mendengar setiap kalimat yang Richard ucapkan padanya. "Richard Monday, aku mungkin bukanlah wanita sempurna yang lembut dalam bertutur kata. Tidak pula perempuan anggun dengan segala kecantikannya. Tapi, izinkan aku menjadi istrimu, dan jadilah engkau suamiku, satu-satunya pendamping yang akan menemani di kala sehat maupun sakit, susah atau senang, kaya maupun miskin, baik ataupun jahat. Dan aku akan menjadikanmu seorang raja di sisa hidupku, sampai maut memisahkan kita. Inilah janji setiaku yang tulus."


Keduanya mengakhiri janji sucinya dengan senyum yang terlukis indah di wajah mereka. Air mata Rachel menggenang bersiap lolos dari sudut mata, seakan haru menyadari statusnya sebagai seorang istri saat ini. Begitu pula Richard yang sekarang menyandang status sebagai suami dari wanita yang dicintanya tanpa sadar.


"Di hadapan Tuhan dan para saksi hari aku nyatakan engkau Richard Monday dan Rachel Sunday resmi menjadi sepasang suami istri. Mempelai pria dipersilakan menyematkan cincinnya!" ucap sang pendeta.


Richard menyematkan sebuah cincin yang cantik di jari manis tangan kanan Rachel, terbuat dari batu mulia berwarna merah darah yang sudah dia persiapkan jauh hari setelah memutuskan mengejar cintanya. Benda itu terlihat begitu serasi dengan jemari lentik berkulit putih Rachel yang kini menyandang status sebagai istrinya.


Begitu pula dengan Rachel dia menyematkan sebuah cincin di jari manis tangan kanan Richard . Hingga sesaat kemudian tanpa aba-aba pria itu langsung mencium Rachel dengan lembut sambil memejamkan mata, dengan kedua tangan yang menahan tengkuk sang wanita.


Riuh tepuk tangan mulai mengisi seluruh ruangan dengan lagu pernikahan yang mengalun memeriahkan tidak membuat keduanya melepaskan pagutan. Malah membuat Richard semakin dalam membelitkan lidahnya. Hingga mereka baru melepaskan pagutan ketika pasokan udara dalam diri telah habis.


"Ayo!" Tidak ingin berlama-lama, Richard segera menggenggam tangan Rachel dan membawa wanita tersebut berlari keluar gereja. Sontak hal itu menyebabkan Rachel lagi-lagi bingung dengan sikap Richard.


"Kita akan ke mana?" tanya Rachel di sela-sela langkah. Beruntung dia tidak mengenakan gaun besar yang menyulitkan, bisa-bisa akan sangat sulit ketika Richard mengajaknya berlari seperti ini.

__ADS_1


"Ada misi penting yang harus kita selesaikan."


Tanpa sadar, pipi Rachel bersemu begitu saja mendengar ucapan Richard. Tidak mungkin bukan mereka langsung bergumul mesra di siang bolong begini, pikir Rachel.


__ADS_2