My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 13: Psikopat


__ADS_3

Richard kembali menghela napas panjang setelah memasuki mobil. Dia tidak menyangka jika Rachel akan menjemput dirinya di hari pertama bekerja. Entah keberuntungan atau kesialan bagi Rich, sehingga harus berurusan dengan orang-orang asing yang baru dikenalnya itu. Sungguh sangat melelahkan.


“Kenapa kau kemari?’’ tanya Rich dengan wajah datar.


“Seratus kali pria tua itu mendatangi lokasi syuting. Menggangguku saja. Aku butuh bantuanmu untuk mengusirnya dariku.” Sekilas Rachel menggeleng kecil sambil menatap pakaian yang dikenakan Rich. Sekilas bibirnya mencebik, ternyata benar Rich hanyalah seorang Office Boy di Dday Holdings. Dia lantas mengambil sebuah paper bag di belakang dan menyerahkannya. “Pakai ini! Untung saja ukuranmu tak jauh berbeda dengan aktor.”


“Aku memang tampan. Hanya saja tidak seberuntung para aktor itu yang bisa dengan bebas tampil di layar kaca.”


Tanpa malu-malu, Richard mengganti pakaian di dalam mobil. Dia bahkan tidak menganggap Rachel ada saat itu, sedangkan sang wanita sendiri malah pipinya bersemu malu karena keberanian Rich.


"Oh ****, kenapa banyak sekali roti sobek yang siap di panggang di tubuhnya," batin Rachel lantas mengalihkan pandangan ke luar.


Tidak butuh waktu lama, mereka tiba di sebuah restoran ternama. Keduanya lantas menuju ruangan pribadi di mana Bram sudah menunggu Rachel di sana.


“Kau sudah datang. Silakan duduk!’’ ucap pria tua itu genit sambil memundurkan kursi Rachel dan menghiraukan adanya Rich di sana.

__ADS_1


Namun, dengan tanpa tahu malu, Rich duduk terlebih dahulu di kursi yang telah dipersiapkan oleh Bram. “Terima kasih,” ucapnya datar membuat Rachel sedikit menahan tawa.


“Lancang,” gerutu Bram.


“Maaf, Tuan. Perkenalkan dia calon suamiku,” ucap Rachel mencoba ramah.


Entah apa yang membuat Tuan Bram begitu ingin mempersunting dirinya. Dia sendiri pun tidak mengerti akan hal itu.


“Bukankah Anda terlalu percaya diri untuk menganggapnya calon suami, Nona? Ku dengar dia hanya seorang pegawai rendahan.” Dengan Arogan Bram mulai duduk, sedangkan Rich hanya mengamati pria di depannya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


“Nona, coba pikirkan baik-baik sekali lagi. Kau ini artis. Calon bintang besar. Apa kata para penggemarmu nanti jika kau hanya memiliki suami rendahan. Apalagi biaya hidupmu yang besar selama ini. Bagaimana dia bisa memenuhi segala kebutuhanmu nanti? Jika untuk memenuhi kebutuhannya sendiri saja pastinya sangat sulit. Lebih baik kau bersamaku. Aku jamin kau tidak akan kekurangan apapun dan kau tetap mendapatkan kehidupan mewah melebihi apa yang ayahmu berikan."


Rich yang sudah lelah dengan pekerjaan hari ini, merasa setiap kata yang keluar dari mulut Bram membuat seisi kepalanya semakin mendidih saja.


Nyatanya tidak cukup Roy yang mengganggunya hari ini, ternyata Bram juga sangat menjengkelkan. “Sayang, ponselku tertinggal di mobil. Bisakah kau mengambilkannya untukku?” pinta Rich pada Rachel.

__ADS_1


Isyarat yang diberikan Rich, tentu saja Rachel sangat memahaminya. Wanita itu mengangguk patuh dan berdiri dari posisinya. “Maaf, permisi sebentar.’’


“Cih, kau pasti sudah merasa seperti raja di saat wanita cantik dan kaya patuh padamu,” sindir Bram sambil membuang wajah.


Richard berdiri dari posisinya, secepat kilat pria itu mengambil pisau yang seharusnya digunakan untuk makan dan menancapkannya tepat di punggung tangan Bram yang terletak di atas meja.


Suara teriakan kesakitan seketika menggema memenuhi ruangan. Namun, karena memang ruang pribadi, jadi tempat itu kedap suara hingga tidak ada orang lain yang mendengarnya.


“Kau gila?” Bram merintih kesakitan, tetapi pria di hadapannya sama sekali tidak berkedip sedikit pun dan terus menatap dengan sorot tajam.


“Teruslah berteriak dan meronta. Maka akan aku pastikan nyawamu berakhir malam ini juga.”


Ancaman Rich sontak membuat Bram berusaha menutup mulut dengan satu tangan. Tubuhnya bergetar hebat seiring dengan ketakutan yang melanda.


“Akankah Rachel menikah seorang psikopat?” batinnya.

__ADS_1


__ADS_2