
“Bagaimana kondisinya?” Richard bertanya pada pada Ramon yang meletakkan tubuh Rachel di atas ranjang sebuah kabin kapal.
“Dia seperti orang mati, Bos. Sama sekali tak berkutik,” jawab Ramon.
“Sembarangan kalau bicara! Kau boleh keluar. Jalankan rencana kedua!”
“Siap.”
Sejak awal Ramon berusaha membangunkan Rachel, tetapi tampaknya wanita tersebut memang sengaja diberi obat tidur oleh pihak Dason. Licik memang, karena jika Dason berada di villa tentu akan ada alat transportasi yang tersedia jika ingin melarikan diri. Sayang, tampaknya pria tersebut cukup waspada dan tidak ingin kecolongan, sehingga Rachel selalu di berikan obat tidur tanpa disadari setelah makan malam.
Richard dan anak buah yang lainnya memang bergerak menuju pulau tersebut menggunakan kapal pribadi. Meskipun lebih lambat dari pada jalur udara, tetapi dengan cara ini para penghuni pulau itu, tidak akan menyadari kehadiran mereka, sedangkan jalur udara terlalu mencolok dengan deru bising suara mesin tentunya. Hanya menyebabkan Dason bersiap menyambut kedatangannya nanti.
Entah berapa lama Rachel terlelap akibat efek obat tidur yang kuat. Kelopak mata wanita tersebut perlahan mulai terbuka. Lagi-lagi dia harus merasakan pegal yang luar biasa di tubuhnya. Dia memijat tengkuknya sendiri yang terasa pegal, sambil sesekali mengucek mata. Namun, kedua bola matanya seketika terbelalak dengan sempurna setelah menyadari ruangan yang dia tempati saat ini bukanlah kamar yang ditinggali sebelumnya di villa. Di mana lagi dia sekarang.
“Apa yang terjadi padaku?” Rachel yang terkejut, langsung mengubah posisinya menjadi duduk setelah tersadar sepenuhnya.
“Kau sudah bangun.” Suara bariton seorang pria yang dikenal Rachel, duduk di sebuah sofa tidak jauh dari posisinya saat ini dengan wajah yang tertutup majalah, membuat Rachel sedikit memiringkan kepala dengan heran.
“Richard?” gumam Rachel sambil menggelengkan kepala dengan cepat karena merasa semua ini hanyalah mimpi. Mustahil bukan dia berada di tempat yang sama dengan Richard, tanpa menyadari kapan keduanya bertemu.
__ADS_1
“Sepertinya kau sangat menikmati liburanmu.” Richard melipat majalah yang sebelumnya dia baca dan menatap lurus perempuan di depannya. Lebih dari enam jam lamanya dia menunggu Rachel tersadar. Namun, tidak kunjung menampakkan tanda-tanda kehidupan. Hingga membuatnya khawatir sejak tadi.
“Liburan kau bilang!” Dengan kesal Rachel melemparkan bantal yang tersedia di sampingnya ke arah Richard. “Mereka menculikku tanpa aku tahu apa salahku, dan kau masih bisa bilang itu liburan, hah!”
Kesal, tentu saja Rachel kesal. Berhari-hari dia menahan bara api cemburu yang disulut oleh Celine. Kini dia bisa tertemu dengan tersangka utamanya, tentu saja Rachel tidak akan melewatkan kesempatan untuk melampiaskan kekesalan pada pria di hadapannya saat ini. Dia bahkan tidak lagi bisa berpikir jernih dan berteiak dengan sangat keras setelah sekian lama tidak bertemu Richard. Jangankan untuk menyelamatkan di pulau terisolasi itu, mampir ke mimpinya saja tidak.
Akan tetapi, Richard dengan mudah menangkap bantal yang mengarah padanya tersebut. Dalam hatinya tersenyum bahagia melihat Rachel yang tampak baik-baiknya. Setelah sebelumnya dia khawatir setengah mati, karena wanita yang tanpa sadar sudah memasuki hatinya itu tidak bergerak sama sekali. Rachel bahkan tidak terbangun di saat para pelayan membantunya untuk bersiap.
“Tidak ku sangka. Setelah lama tidak berjumpa tenagamu lebih kuat dari sebelumnya. Sepertinya pria itu tidak memberimu banyak makanan, sekarang kau berubah menjadi liar.” ucap Richard dingin. Namun, dalam hatinya siapa yang tahu.
Rachel sontak semakin melototkan matanya. Dia berdiri dari posisinya saat ini dan hendak memukul Richard. Kenapa semakin lama mulut Richard semakin mirip dengan Celine. Selalu saja membuatnya marah tidak henti-henti.
Namun, dengan mudahnya pergelangan tangan wanita tersebut di tahan oleh Rich. Tanpa membuang waktu, tangan Rachel yang awalnya melayang tersebut kembali ke posisinya. “Nanti malam saja marah-marahnya. Sekarang ada urusan lain lebih penting yang harus kita selesaikan.” Perlahan Richard menundukkan tubuh untuk memakaikan sepatu hak tinggi berwarna putih di kaki jenjang Rachel.
Rachel yang masih belum memahami situasi hanya terdiam, bak kerbau yang bersiap di arak keliling lapangan. Senyum yang Richard berikan tadi berhasil menghipnotis wanita tersebut seketika tanpa dia bisa menyangka. Jika pria sedingin Rich mampu tersenyum selebar itu dan sangat mempesona tentunya.
Hingga sesaat kemudian, setelah keduanya berjalan menyusuri koridor berdekorasi indah dengan nuansa bunga putih. Barulah Rachel menyadari akan adanya keanehan di sini.
“Tunggu. Tunggu!” Rachel menghentikan langkahnya, melihat penampilan Rich saat ini. Sebuah setelan hitam dengan tuksedo dan dasi kupu-kupu tampak tersemat dengan indah di tubuh pria tersebut. Tidak lupa pula, hiasan bunga tertempel di bagian saku kiri, menambahkan kesan karismatik bak seorang pengantin pria yang tidak pernah Rachel lihat sebelumnya, kecuali di acara drama.
__ADS_1
Sementara itu, dia melihat dirinya sendiri sudah berbalut gaun putih tulang yang indah, impian semua wanita di hari bahagia. Rachel mengedarkan pandangan ke segala arah untuk bercermin. Dari sebuah kaca, penampilan dirinya saat ini sangat cantik lengkap dengan make up dan rambut yang sudah tertata, menyebabkan Rachel semakin tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
“Tidak mungkin. Ini pasti tidak mungkin. Ini pasti mimpi! Tidak! Dason pasti sudah membunuh dan mengirimku ke surga.” Rachel yang belum menyadari situasi saat ini, mengurai tangannya di lengan Richard ambil menggeleng kecil. “Ini hanya mimpi. Hei Dason sialan! Aku tidak boleh mati sekarang!” Dia hendak melangkah pergi dan menjauh dari apa yang dia alami saat ini. Otaknya yang kecil belum sanggup menghadapi kenyataan jika dirinya benar-benar sudah meninggal.
Menikahi Richard dengan resmi, tentu merupakan hal yang membahagiakan bagi Rachel. Namun, hal itu hanya seperti sebuah mimpi yang tidak akan mungkin terjadi padanya, karena Rachel menyadari dirinya sedang diculik dan Richard pun juga tidak menyelamatkannya. Jadi, hanya satu fakta yang dipercaya pikiran Rachel saat ini. Dason sudah membunuh dan mengirimnya ke alam baka. Hingga dia jadi memimpikan hal yang paling ingin dia lakukan dalam kehidupan ini.
Akan tetapi, pergelangan tangan Rachel yang hendak melangkah, lagi-lagi dihentikan oleh Richard. Pria tersebut menarik calon pengantinnya, hingga tubuh Rachel pun melekat di dada Richard. Hanya tersisa beberapa inchi jarak antara kedua bola mata mereka. Bahkan hangatnya embusan napas Richard, bisa Rachel rasakan saat ini.
Kedua tangan Richard langsung di letakkan ke pipi Rachel dengan tatapan yang berbeda dari biasanya. “Ini bukanlah mimpi. Ini adalah kenyataan.”
Baik Richard maupun Rachel, sama-sama terdiam untuk sejenak. Hingga sesaat kemudian, Richard mengikis jarak di antara keduanya dengan mendekatkan wajahnya. Mata Richard melirik bibir ranum Rachel, lalu mencium dengan lembut sambil memejamkan mata. Untuk sesaat Rachel berulang kali mengedipkan mata. Kalau pun ini semua adalah mimpi, biarlah sejenak dia merasakan bahagia dan menikmati semua ini terlebih dahulu.
Rachel memilih ikut memejamkan matanya, dan menikmati sensasi kerinduan serta kasih yang terpendam di antara keduanya. Perasaan di mana jantung Rachel terasa berdetak begitu kencang seakan bersiap meledak kapan saja, menyebabkan dia masih bingung. Akankah ini semua adalah kenyataan atau memang hanya mimpi seperti yang diduganya. Jika ini hanyalah sebuah khayalan menuju surga semata, maka Rachel ingin memilih untuk tidak bangun saja pada akhirnya. Dari pada harus kembali pada kenyataan jika nyawanya sedang dalam bahaya.
Semakin lama, pertukaran saliva antara keduanya pun terhenti dengan lembut. Richard menempelkan kedua dahi mereka dengan tangan masih memegang wajah Rachel, setelah bibir saling terlepas. “Maafkan aku yang tidak bisa melanggar perjanjian kita dan jatuh cinta begitu saja padamu tanpa bisa aku menahannya.”
Sebuah ungkapan romantis tiba-tiba saja keluar dari mulut Richard. Bak sambaran petir yang menggelegar di hati Rachel, hingga membuatnya semakin tidak ingin bangun dari mimpi ini. Akan tetapi, sesaat kemudian, suara langkah kaki seseorang di kejauhan yang menghampiri keduanya pun seolah menyadarkan Rachel jika ini semua bukanlah mimpi, melainkan kenyataan.
“Astaga, Bos. Aku pikir kalian masih di kamar dan pengantinmu belum sadarkan juga. Ternyata malah asyik bermain lidah di sini. Ayo cepat semuanya sudah menunggu sejak tadi! Makanannya keburu habis kalau kalian menundanya lebih lama lagi,” ucap seorang pria yang tidak lain adalah Ramon.
__ADS_1
“Ayo!” ajak Richard dengan senyum mengembang lebar di wajahnya dan kembali menautkan tangan Rachel di lengannya.
“Ke mana?” tanya Rachel bingung.