My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 74


__ADS_3

Setelah menghadapi kemarahan Dante akibat kegagalan dalam menjaga tawanan mereka, Dason kembali ke villa dengan keadaan murka. Dia memerintahkan anak buahnya untuk mencari tahu apa yang dilakukan Richard setelah membawa Rachel pergi dari tempatnya dan apa hubungan mereka.


"Sialan! Beraninya pria itu mengambil dengan wanitaku!" Dason meracau, suaranya terdengar melambai tidak karuan. Entah berapa banyak alkohol yang sudah diminumnya hingga saat ini.


"Sial!" Dia membalikkan botol yang telah kosong itu, lalu berdiri dengan sempoyongan untuk mengambil lagi minuman keras di lemari. Dason memilih sambil menyipitkan mata karena penglihatan yang mulai kabur. Diambilnya sebuah brandy ternama dan kembali duduk di posisi semula.


Dason melampiaskan kekesalan setelah mendengar pasangan itu menikah di sebuah gereja dan memilih untuk menutup diri, dengan menenggak alkohol sepanjang hari di kamarnya. Senyum Rachel bersama pria lain terus-menerus terbayang dalam benaknya. Hal tersebut tentu membuat aliran darah Dason seakan mendidih di sekujur tubuh, hingga berharap minuman keras di genggaman mampu membuat pikirannya lupa atas apa yang dia lihat.


Perasaan terluka akibat rasa yang tidak berbalas, terasa lebih menyakitkan di bandingkan dengan menjadi samsak kemarahan yang Dante lakukan. Apa lagi senyum Rachel terus terngiang di dalam benak kecil Dason. Meskipun hanya berlangsung singkat, tetapi wanita tersebut sudah semakin jauh menguasai hatinya yang sebenarnya memang sudah terobsesi pada Rachel sejak awal. Sayangnya, terlalu sulit untuk merebut kembali wanita yang dia inginkan itu.


Tidak lama kemudian, seorang pria mendatangi kamarnya yang gelap gulita karena tirai yang tidak dibuka, lampu pun tidak menyala, dan aroma busuk menguar memenuhi seluruh ruangan.


"Tuan." Seorang pria menghadap untuk melaporkan apa yang dia dapatkan setelah beberapa hari mencari informasi.


Hanya sebuah deheman yang keluar dari mulut Dason. Dia menatap anak buahnya dengan wajah mengerikan, kantung matanya menghitam, wajah kusam tidak terawat, dan bau mulut belum disikat.


Berhari-hari sudah dia tidak keluar kamar. Hanya beranjak dari posisinya untuk panggilan alam, atau mengambil lagi botol alkohol lain jika yang berada di tangannya sudah habis.


Dengan irama jantung berdegup kencang dan napas yang tercekat, pria tersebut mulai berbicara. "Tuan, ada orang yang mengacau bisnis pengiriman kita."


Suasana di dalam ruangan saat ini tidak lagi seperti kamar, melainkan lebih mirip dengan kandang singa. Cukup lama Dason tidak mencukur rambut dan juga bulu halus di wajahnya, sehingga menyebabkan pria tersebut tampak seperti sang raja rimba sungguhan.

__ADS_1


"Lalu." Dason menatap dengan mata yang sipit akibat banyaknya alkohol yang diminum. Suaranya pun terlihat berbeda dari biasanya, begitu aneh dan mengerikan. Efek dari minuman keras terlihat begitu jelas di wajah dan tingkah lakunya saat ini.


"Tuan Dante meminta agar Anda segera bertindak."


Mendengar perkataan orang suruhannya tersebut Dason seketika terbangun dari duduknya, dengan sempoyongan dia berdiri dan langsung mencengkeram kuat leher pria itu dengan kuat.


"Kenapa pria tua sialan itu selalu saja menyuruhku seenaknya, hah! Apa dia pikir, aku ini terlihat seperti anjing peliharaan yang bisa diatur seenaknya?" " Suara baritonnya kini berubah lagi, terdengar begitu dingin dan berbeda dari sebelumnya. Hawa iblis seketika menguar ke permukaan, hingga menyebabkan anak buahnya berwajah merah padam dan kehabisan napas akibat kuatnya cekikan tangan Dason di leher.


Pria tersebut hanya terdiam untuk waktu yang cukup lama, hingga dia merasakan malaikat maut seakan sudah berada di depannya, guna menagih nyawa. Sesaat kemudian, Dason melepaskan cengkramannya begitu saja, hingga membuat pria tersebut luruh terduduk di lantai.


Dason melempar botol alkohol di tangan kiri ke dinding dengan begitu keras. Pecahan beling dan percikkan alkohol menyebar di mana-mana, aroma berbagai jenis minuman keras bercampur menjadi satu di ruangan tersebut. Gelapnya penerangan menambah kesan mengerikan, meskipun hari masih siang, tetapi kamar, jiwa, dan hati Dason begitu gelap.


Di belakang, dia hanya bisa menyaksikan kengerian serta kegilaan Dason secara langsung, tanpa berani menghentikan. Baginya masih selama di situasi seperti ini saja sudah menjadi suatu keberuntungan.


Suara barang-barang pecah, hingga hancur berkeping-keping, ditambah teriakan Dason yang menggema memenuhi seluruh ruang, menyebabkan suasana hangat di villa itu beberapa hari yg lalu kini sirna sudah dalam sekejap mata. Tidak ada cahaya menerangi ruangan Dason, sama seperti hatinya saat ini. Aroma berbagai jenis minuman menjijikkan seakan menyatu dengan segala emosi Dason saat ini.


Kini, tempatnya tidak jauh berbeda dengan sebuah ruang yang tidak layak lagi untuk disebut sebagai kamar. Tempat ini terlihat lebih seperti kebun binatang berwujud manusia.


Terlihat Dason seperti orang kerasukan iblis yang baru bangkit dari tidurnya. Tidak peduli benda apa berada di sebelahnya, semua melayang begitu saja dan berakhir dengan hancur tak tersisa.


Untuk waktu yang cukup lama akhirnya sang anak buah memilih untuk berbicara dan mencoba menenangkan sang tuan yang terlihat sangat terobsesi pada Rachel itu. Kehilangan kesempatan yang ada di depan mata dan mengetahui wanita incarannya sudah dinikahi oleh Richard, menyebabkan Dason menggila.

__ADS_1


Bertahun-tahun lamanya dia memendam rasa, tetapi harus menelan kenyataan pahit, hanya karena dalam hidup pria tersebut selalu ada Dante yang mengontrol dirinya.


"Tuan, apa Anda punya rencana. Bagaimana cara menjelaskan dengan Tuan Dante. Beliau menghubungi terus," ucapnya dengan gugup.


Susah payah pria itu mencoba berdiri tegak, meskipun tubuhnya sungguh bergetar karena takut dan tidak berani menatap tuannya.


Mendengar kalimat yang keluar dari mulut anak buah di belakangnya membuat Dason seketika menghentikan aksinya. "Kau pikir aku masih bisa melakukan apa, hah?" Pria tersebut menoleh tajam, menatap sang anak buah dengan tatapan mengerikan dan amarah di wajahnya terlihat seakan mau membunuh siapa pun juga saat ini.


"Tuan, jika Anda terus-terusan seperti ini. Bagaimana Anda bisa merebut wanita itu? Anda harus menunjukkan keunggulan dibandingkan Rich. Wanita selalu menyukai pria yang lebih berkuasa. Dengan begitu dia akan datang sendiri pada Anda."


Sang anak buah berusaha memotivasi kembali Dason. Perubahan ada dan tidaknya Rachel di villa itu bagi seorang Dason, tentu saja terlihat dengan jelas di mata anak buahnya. Jika memang atasan mereka memendam rasa pada wanita yang saat itu menjadi tawanan mereka.


Sejenak Dason memikirkan kembali usulan pria di depannya. Jika sosok Richard nantinya mengecewakan Rachel, bagaimana mana mungkin wanita itu mau kembali lagi kepadanya. Yah, Dason akan akan menghancurkan hubungan mereka dengan cara apapun.


Sorot matanya tajam dan sangat menakutkan, seakan isinya bersiap untuk keluar dari tempatnya. "Pergilah aku akan segera ke sana setelah membersihkan diri!"


"Baik. Saya undur diri dulu, Tuan." Pria tersebut memilih untuk segera pergi dari tempat mengerikan ini, meninggalkan Dason seorang diri dengan masih memegang sebuah gelas di tangan kanannya.


Dia menggenggam kuat gelas tersebut, hingga semakin lama benda itu pecah di tangannya. Seakan tidak merasakan sakit, Dason menggenggam kuat, padahal pecahan beling sudah mengoyak telapak tangannya, hingga membuat dari mengalir deras begitu saja.


"Jika kau tak bersamaku, tidak akan kubiarkan pria lain memilikimu." Matanya memerah, mengatakan hal itu. Dason sungguh seperti orang gila saat ini.

__ADS_1


__ADS_2