My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 68


__ADS_3

Di sebuah kediaman yang megah seorang pria paruh baya masih berkutat dengan berkas yang menggunung tepat di depannya. Dia yang awalnya puas karena bisa menyimpan seorang tawanan, kini mulai resah sebab tokoh utama yang dia inginkan tidak kunjung mendatanginya dan mencari sang wanita. Padahal dia berniat melakukan negosiasi dengan Richard, menggunakan Rachel yang kini berada di pulau tentunya. Hingga sesaat kemudian, suara langkah tergesa-gesa seseorang berlari dan mengetuk pintu ruang kerja dari luar membuyarkan aktivitasnya.


"Masuk!"


Seorang pengawal pria melangkah mendekat dengan keringat dingin bercucuran di wajahnya, bahkan sebelum dia mengucapkan tujuan mengganggu sang empu yang beberapa hari ini selalu menunjukkan ketidakpuasannya. Rasa takut melaporkan berita buruk kepada Dante membuatnya harus bersiap menjadi samsak manusia jika sang tuan murka dan meluapkan emosi nanti.


"Tuan." Sedikit tubuhnya dibungkukkan sebagai tanda penghormatan kepada tuannya. Berulang kali dia menelan ludah dengan susah payah dan tidak berani menatap majikan di hadapannya secara langsung.


"Katakan!" Nada tegas terdengar mengerikan ketika mulut tua Dante itu mulai mengucap kata.


Dengan jantung yang berdegup kencang dan perasaan was-was sang pengawal mulai mengutarakan maksud kedatangannya. "Tuan, beberapa orang mengacau di Pulau Dason.”

__ADS_1


"Apa?" Terkejut mendengar penuturan sang anak buah Dante langsung berdiri dari posisinya dan menegakkan tubuh, dengan wajah merah padam, dia melangkah mendekat untuk memastikan pendengarannya tidaklah salah. "Kau bilang apa tadi?"


"Be–beberapa orang mengacau di Pulau Dason dan membawa pergi Nona itu." Tubuh pria tersebut bergetar ketika mengatakan hal itu. Keringat dingin mulai membasahi dahinya yang lebar. Hingga tidak butuh waktu lama, sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiki membuat pria itu langsung jatuh tersungkur di bawah kaki tuannya.


"Apa kalian bodoh, hah?" Dante meluapkan segala amarah ke pada pria di depannya. Hawa panas langsung merambat naik ke otak hingga membuat emosi meningkat. Otot lehernya menegang, menampakkan guratan aliran darah yang tegang. Berulang kali kaki tua itu melayang, menendang tubuh yang meringkuk tepat di bawahnya. "Bagaimana hal itu bisa terjadi? Apa yang dilakukan Dason selama ini? Menjaga seorang wanita saja tidak becus."


Dante terus saja menggila dan menjadikan sang anak buah tempat meluapkan segalanya, sedangkan sang bawahan hanya bisa meringkuk menutup wajah dengan tangan. Kaki tua berbalut sepatu panthopel milik Dante, terus menerus menyakiti tubuhnya yang berisi. Luka lebam membiru mungkin akan muncul setelah ini. Namun, dia tidak bisa melawan, meskipun berpangkat sabuk hitam sebelum amarah Dante mereda. Beruntung Dante menghentikan aksinya sebelum dia mati.


Pria itu memijat pelipisnya, dengan deru napas yang terengah-engah. Tangan tua bergerak memporak-porandakan apa pun yang berada di atas meja kerjanya. Suara barang pecah, hingga kertas dokumen beterbangan menambah suasana kacau di ruangan tersebut. Hal yang pasti terjadi kalau sampai seorang Dante murka, tentu saja para pelayan harus bersiap dengan barang baru guna mengganti barang yang dirusak oleh majikan mereka.


“Benar, Tuan. Tuan Muda Dason juga mengalami luka tembak di kaki karena mereka dan beberapa pengawal yang tersedia sudah menjadi korbannya. Hanya menyisakan beberapa pelayan perempuan yang tidak mungkin bisa melawan tentunya,” lapor pria tersebut.

__ADS_1


Kedua tangan Dante terkepal dengan sangat kuat. Dia tidak menyangka, jika Richard juga memiliki sisi menyerang diam-diam layaknya seorang mafia pada umumnya. Bahkan pergerakannya sangat akurat. Melihat di mana seorang Dason saja bisa sampai kecolongan. Namun, sedetik kemudian, seolah mendapatkan kesadaran, Dante menatap serius anak buah di depannya saat ini.


“Benar-benar di luar dugaanku. Bagaimana dengan wanita itu?”


“Masih aman, Tuan. Mereka hanya menyerang villa secara diam-diam.” Seketika Dante bernapas lega, setidaknya kartu AS yang dapat meruntuhkan kekuasaan Richard masaih berada di tangannya. Dia lantas menuju sofa yang tersedia di ruangan tersebut sambil mengambil sebotol minuman keras. “Ternyata bocah tengik itu sama liciknya seperti Diana. Tidak ku sangka Day bisa mendidiknya menjadi begitu mengerikan.”


Suara benda cair yang mengalir ke dalam gelas terdengar begitu jelas. Dante meminum minumannya hingga tandas. Sepertinya dia harus kembali memikirkan rencana yang lebih matang ke depan. Kali ini, dia tidak boleh meremehkan Richard.


“Pergilah! Cari tahu siapa yang mau membantunya mengacau di tempatku sampai dapat. Mustahil mereka melakukannya seorang diri, sedangkan sudah aku pastikan Reymond tidak memiliki kelompok yang berbahaya melebihi kita! Aku ingin tahu, kelompok mana yang berani melawanku. Dan panggil Dason kemari setelah dia membaik." Dante menekankan setiap kalimat yang diucapkan dengan nada dingin.


"Baik, Tuan." Anak buah tersebut lantas membungkukkan diri, lalu melangkah mundur keluar dari ruangan sambil bernapas lega. Akhirnya laporan yang menjadikan nyawanya sebagai taruhan berhasil di sampaikan, tanpa harus dia meninggalkan nyawanya di sana.

__ADS_1


Sementara itu, Dante yang masih berada di dalam, kembali melemparkan gelas dan botol alkohol di tangannya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. "Sialan!" Pria itu murka, embusan napasnya sudah seperti singa yang bersiap menerkam mangsa. Bola mata melebar seakan bersiap keluar dari tempatnya. Dendam di hati semakin membara dan mengobarkan kemarahan besar setelah kalah dalam beberapa kali pertempuran strategi dengan anak ingusan yang dia remehkan.


"Tidak akan kubiarkan kalian menghalangi jalanku! Kau hanya akan mengikuti jejak ibumu dengan menjadi budakku." Kedua tangan Dante mengepal erat hingga membuat bukunya memutih. Cukup lama hidupnya berjalan lancar selama lebih dari dua puluh tahun ini. Kini, sudah ada lagi yang berani mengusik ketenangannya. Kini beraninya kehadiran seorang pewaris Diana mengganggu eksistensinya.


__ADS_2