My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 8: Pria Bayaran


__ADS_3

"Rachel, apa yang kau lakukan di sini?” Suara bariton seorang pria sontak membuat Richard menoleh ke arah Rachel.


Seorang wanita lantas menepis tangan keduanya yang bergandengan, padahal jelas-jelas pria itu dulu yang memegang tangan Rachel.


Richard bertindak bak suami yang profesional. Dia lantas berdiri dan mendekat ke arah Rachel sambil mengambil tangan kanan wanita tersebut dengan lembut. “Jangan ada bekas pria lain di kulitmu, Sayang. Aku tidak suka itu,” ucap Rich sambil mengelap tangan Rachel menggunakan sapu tangan. Dia bahkan tidak segan-segan mengambil hand sanitizer yang tersedia di meja pelayanan toko tersebut. "Bakteri bisa tumbuh dan berkembang biak di sini nanti kalau tidak segera di sterilkan," ucap Rich dengan sebuah senyum di wajahnya.


Meskipun awalnya Rachel cukup kebingungan, tetapi dengan cepat dia memahami situasi saat ini. Beruntung pria bayaran yang dia sewa ternyata cukup bisa di andalkan, sedangkan Roy tampak mengepalkan kedua tangannya melihat aksi romantis sang mantan yang ternyata begitu cepat menggaet pria lain setelah berpisah darinya.


“Kakak, siapa dia?” tanya Rose sambil bergelayut manja di lengan Roy.


Rich dan Rachel enggan untuk melayani dua manusia tidak tahu diri, sehingga keduanya diam seolah mereka tidak pernah ada sebelumnya. Sampai keberuntungan masih datang pada mereka di saat seorang pelayan datang membawakan pesanan yang diminta Richard . “Tuan, Nyonya. Ini pesanan Anda. apakah ingin mencobanya terlebih dahulu?”


“Tidak perlu. Pilihan wanitaku pasti selalu yang terbaik. Padahal aku sudah memberitahunya untuk tidak membelikan aku apapun. Tapi, sepertinya dia hanya ingin melihatku tampil sempurna di hadapan keluarganya nanti.” Jawaban Richard dilengkapi dengan sebuah senyum di wajah, menyebabkan Rachel memiringkan kepala sambil terheran.


“Apa maksudnya dia menyuruhku membayar semua itu,” batin Rachel kesal. Sayangnya kehadiran Roy dan Rose membuatnya menahan segala amarah yang kini bergejolak di dalam dada.

__ADS_1


Rachel menghela napas panjang. Dia berbicara penuh dengan penekanan. Memang Richard sangat pandai memainkan situasi, membuatnya tidak mungkin menolak karena ada sang adik di depannya saat ini.


Tawa hambar yang dipaksakan keluar begitu saja dari mulut Rachel. Sambil menepuk lengan Richard dengan keras dia pun berkata, “Tentu saja aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk calon suamiku. Setidaknya dengan begitu aku bisa menunjukkan jika cintaku ini tulus dan bukan hanya sekedar mengincar kekayaan semata.”


Kedua tangan Rose terkepal dengan kuat mendengar sindiran Rachel. “Sialan. Kenapa dia cepat sekali mendapatkan pria lainnya,” batin Rose. Dia memindai Rich dari ujung kaki ke ujung kepala, memang tampan, tetapi apakah lebih kaya dari Roy?


Setelah menyelesaikan pembayaran, Rachel dan Richard hendak melangkah pergi. Namun, lagi-lagi keduanya harus dihentikan oleh Rose. “Kakak, apa lupa Daddy sudah menjodohkanmu dengan Tuan Bram. Kenapa kau malah memberinya harapan palsu?” tunjuk Rose mengarah pada Rich.


Rachel hendak menjawab provokasi sang adik, tetapi dengan segera Richard menghentikannya. “Terima kasih karena adik ipar telah mengkhawatirkanku. Tapi, sepertinya apa yang kau takutkan tidak akan terjadi, karena kami cukup yakin dengan ikatan cinta kami.” Tanpa ragu Rich mengecup punggung tangan Rachel yang masih di genggamnya lalu melangkah pergi, sedangkan Rose tentu saja tidak suka mendengar jawaban pria tadi.


Setelah meninggalkan toko pakaian, Rachel pun bernapas lega sambil mengempaskan tangan Richard . “Kau benar-benar mahir memanfaatkan situasi. Bukan hanya meminta bayaran yang begitu fantastis, tapi kau juga pandai memilih barang yang menguras habis kantongku,” protes Rachel.


“Setidaknya aku professional, dan sangat mengenal situasi. Tidakkah kau melihat ekspresi mantan kekasih dan adikmu tadi. Oh, tidak. Aku bahkan kesulitan menahan tawaku tadi," ucap Richard berbangga diri membawa tiga paper bag pakaian di bahunya dan melangkah pergi begitu saja meninggalkan Rachel, tanpa pamit.


“Benar juga, setidaknya mereka tidak lagi bisa menertawakanku," ucap Rachel bermonolog. "Hei! Jangan lupa untuk datang ke rumahku nanti malam.” teriak Rachel melihat punggung Richard yang semakin jauh.

__ADS_1


Pria itu hanya melambaikan tangan nya dengan santai, meninggalkan kawasan pusat perbelanjaan. Sementara itu, Rachel memilih untuk menghubungi sang asisten pribadi agar menjemputnya. Terlalu melelahkan menghadapi Richard hari ini. Semoga saja semua berjalan sesuai dengan rencananya, sehingga hidupnya akan bebas dari aturan para keluarga kaya.


Di sisi lain, setelah meninggalkan Rachel, Richard bergerak ke sebuah tempat makan di pinggir jalan. Tempat di mana ramai orang berlalu lalang layaknya sebuah streetfood.


Dengan santainya, Richard memakan satu cup mie instan, di depan sebuah supermarket dua puluh empat jam yang tidak jauh dari tempat tinggalnya sekarang. Rumah sewa sempit yang disiapkan oleh pamannya tentunya.


Tak lama kemudian, seorang pria lainnya duduk di samping Richard tanpa permisi sambil membuka tutup kaleng minuman bersoda.


“Kalian sudah mendapatkan apa yang aku minya?” tanya Richard sambil menyuap kembali mie miliknya.


Satu kaleng minuman bersoda pria itu berikan ke depan Richard tanpa banyak bicara. “Aku membeli satu gratis satu.”


Setelah mengatakan hal itu, pria tersebut lantas pergi meninggalkan Richard yang masih menyelesaikan acara makannya.


Dia hanya mengangguk kecil, sebelum akhirnya pria itu melangkah menjauh, dan menghilang di telan kerumunan orang.

__ADS_1


__ADS_2