
Setelah selesai menemani Ramon yang tengah berduka, Richard lantas memilih pulang ke apartemen Rachel. Dia tidak mungkin mengajak Ramon untuk tinggal bersamanya, sedangkan dia sendiri masih menumpang pada Rachel karena hukuman yang tidak kunjung usai.
Jika Richard pulang ke markas emosinya akan semakin buruk nanti. Apalagi dia masih belum memutuskan akan membebaskan Hanna, atau membunuhnya saja sekalian.
Dengan wajah lesu dan jas hitam yang di sampirkan di pundak, Richard melangkah ke dalam apartemen. Aroma gosong serta kemepul asap yang menyebar menyambut kedatangannya dengan begitu pekat, sontak membuat Richard panik.
Mungkinkah dia lupa mematikan kompor ketika pergi semalam?
Richard pun bergegas menuju dapur, sayangnya ternyata semua tidak seperti yang dia bayangkan. Hal pertama yang dilihatnya bukanlah kobaran api akibat korsleting listrik atau lupa mematikan kompor, melainkan sosok Rachel dengan celemek di tubuh tengah terbatuk akibat asap tebal di atas panci yang di buatnya.
“Rachel.” Panggilan dari Richard sontak membuat Rachel menoleh ke belakang. Wanita tersebut menutup hidung dan terbatuk-batuk karena tebalnya asap yang di timbulkan.
Hingga tidak berselang lama, sensor pengendalian asap menyalakan bunyi alarm, mulai terdengar begitu keras, dan sprinkler yang berfungsi untuk memadamkan api secara otomatis mengeluarkan debit air dari pipa karena mendeteksi adanya api.
“Apa yang kau lakukan?” Richard sontak melangkah ke arah Rachel. Dia mematikan kompor yang menyala begitu besar hingga membuat panci yang digunakan Rachel saat ini berubah warna menjadi hitam pekat. Richard meletakkan kedua tangan di pinggang dan menatap tajam wanita yang kini berbalut noda hitam di seluruh tubuh serta wajahnya.
Niat hati ingin memasak daging, apalah daya ternyata semua itu tidak semudah yang Rachel bayangkan. Semuanya berakhir dengan sia-sia karena tidak ada satu pun bahan pangan yang terselamatkan. Semuanya menjadi terlalu matang, bahkan semakin parah setelah beberapa kali percobaan dan hanya berakhir di tempat sampah. Rachel hanya bisa tertawa kecil, menyadari kebodohannya kali ini.
“Tadinya aku berniat membuatkanmu makanan. Tapi, sepertinya aku tidak berbakat di dapur,” ucap Rachel tersenyum layaknya anak kecil yang berusaha membujuk agar orang tuanya tidak memarahinya.
__ADS_1
Gemercik air kini membasahi tubuh keduanya. Tidak lama berselang, pihak pengurus apartemen mendatangi tempat mereka. Rachel hanya bisa terduduk di kursi dapur dengan handuk yang menyelimutinya, sedangkan Richard berusaha meminta maaf dan bertanggung jawab atas keributan yang terjadi saat itu.
Setelah semua masalah di selesaikan dengan baik, Richard lantas menutup pintu. Dia kembali melihat Rachel yang masih duduk di posisinya dengan wajah tidak bersalah. Hal itu tentu saja membuat Richard memijat pelipisnya sendiri. Di saat dia ingin beristirahat dengan tenang, kini malah kembali di hadapkan dengan kondisi hunian yang berantakan.
“Pergi bersihkan tubuhmu dulu! Setelah itu baru bantu aku membersihkan tempat ini. Baru sehari kau aku tinggal seorang diri, tapi kau sudah berhasil mengubah tempat ini menjadi kapal flying dutchman.”
Rachel sontak memonyongkan bibir ke depan dengan kesal. Mana dia tahu jika akan jadi seperti ini tadi. Ternyata memasak tidak semudah yang dia perankan sebelumnya dalam drama. Lagian kenapa selama ini ayahnya terlalu memanjakannya, hingga dia benar-benar bodoh dalam hal di dapur.
“Tadinya aku ingin membuatkanmu makanan. Mengingat tadi pagi kau bilang kelaparan, aku segera datang kemari." Sejenak Rachel berdeham menyadari kesalahan pada kalimatnya. "Tapi jangan percaya diri dulu, bukan karena aku perhatian. Aku hanya tidak ingin nantinya ada berita yang meliput seorang pria tewas karena kelaparan di sebuah apartemen. Kan itu sangat tidak keren. Tapi ternyata kau sedang mengunjungi pemakaman rekan kerjamu.”
Richard spontan melirik tajam ke arah Rachel, tatapan berbeda dan sangat mengerikan itu membuat Rachel sedikit bergidik karenanya. Mungkinkah alasan yang dia berikan terdengar begitu tidak masuk akal? Kenapa ekspresi Richard menakutkan sekali.
Rachel memang mengetahui berita duka yang menimpa salah satu karyawan Ddays Holding. Meskipun posisinya rendah, tetapi mereka tetap memberikan pengumuman di grup para karyawan, dan secara kebetulan Rachel baru saja bergabung dengan grup tersebut.
Richard yang di tinggalkan seorang diri lantas mengedarkan pandangan ke segala arah. Dia melihat kondisi dapur saat ini hanya bisa menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa seorang wanita menghancurkan dapur dengan begitu parahnya hanya dalam sekejap mata.
Richard kembali memijit pelipisnya saat itu juga, sepertinya dia harus benar-benar menghubungi sang paman untuk mengajaknya minum bersama dan menghilangkan stres akibat kejadian hari ini. Ternyata pulang ke apartemen ini bukanlah pilihan yang tepat baginya.
“Sebaiknya aku mandi dulu sajalah!” Merasa badannya sudah terlalu basah, Richard memilih membersihkan diri terlebih dahulu.
__ADS_1
Setelah beberapa saat tubuhnya kembali segar, Rich mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi sang paman sambil mengusap rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil.
Sekali panggilan tidak ada jawaban, panggilan kedua juga masih tidak ada jawaban, hingga panggilan ketiga juga masih sama saja. “Ke mana perginya Paman minggu-minggu begini,” gumam Rich meletakkan kembali ponselnya di atas meja dan meraih sebuah pengering sambut sambil bercermin.
Di saat Richard selesai mengeringkan rambutnya, kini ponselnya malah berdering. Nama sang paman tertera di layar ponsel tersebut. Dengan segera Richard menggeser bulatan hijau di layar ke atas dan meletakkan benda pipih tersebut ke samping telinganya.
“Ha-.’’
Belum sempat Richard menyapa pamannya, suara seseorang di seberang panggilan yang tidak dia kenal menginformasikan kondisi pamannya saat ini, bak sambaran petir yang menggelegar tepat di telinga Richard saat ini. Dia terdiam membeku, dengan kedua mata yang melebar sempurna.
“Tidak mungkin,” gumamnya lirih.
Richard lantas berpegangan pada meja di sampingnya, dia merasakan kakinya seolah tidak bertulang saat itu juga. Sekuat tenaga Richard berusaha menguatkan diri. Dia meletakkan ponsel yang sambungannya sudah terputus itu dengan tubuh bergetar hebat. Pandangan Rich sekarang seakan buram dan kosong. Dia segera menyambar kembali ponselnya dan bergegas melangkah keluar dari kamar.
“Kau mau pergi lagi?” Rachel yang juga baru selesai membersihkan diri mencoba untuk bertanya, tetapi tidak mendapatkan respons sama sekali dari Richard. Pria tersebut malah berjalan dengan tergesa-gesa tanpa mengindahkan kehadiran Rachel. Sehingga menyebabkan wanita tersebut merasa penasaran dengan apa yang sedang terjadi pada Richard.
Sementara itu, Rich yang bergerak ke tempat parkir tampak seperti orang linglung. Namun, dengan cepat sebuah mobil berisikan seorang wanita berhenti tepat di sampingnya. “Ayo masuk!” ucap wanita tersebut.
Keduanya lantas melesat meninggalkan kawasan apartemen, tanpa di duga Rachel yang merasa penasaran melihat keduanya dari balkon. “Cih, siapa yang baru saja menjemputnya? Apa dia masih berhubungan dengan para tante-tante girang yang kurang belaian di luaran sana? Lihat saja nanti! Aku akan memberikanmu pelajaran"
__ADS_1