
Berbeda dengan mereka yang berniat jahat. Richard yang tengah berada di ruangan meeting kali ini membanting berkas yang kini di berikan padanya. “Apa otak kalian setumpul itu, hah? Haruskah aku sendiri yang mengasahnya?”
Suasana di dalam ruangan rapat terasa begitu mencekam. Sosok Richard yang ternyata lebih mengerikan dibandingkan dengan Reymond, membuat para karyawan hanya bisa menunduk menahan napas, di saat mereka menjadi sasaran amukannya.
Bukan tanpa alasan Richard sampai semarah itu. Akan tetapi, dari banyaknya desain yang diberikan tidak ada satu pun yang mampu memuaskan hatinya. Semua di buat biasa saja, tidak bermakna, dan hanya memberikan kesan mewah pada penggunanya, sedangkan untuk memenangkan tender ini, Richard memahami karakter Putri Lady yang cukup sulit di tangani.
“Kalau hanya ini yang bisa kalian berikan! Kumpulkan surat pengunduran diri kalian besok! Aku tidak memerlukan karyawan yang berotak dangkal yang hanya suka makan gaji buta dan bergosip ria. Percuma saja melakukan rapat, semua ini hanya membuang-buang waktuku.”
Setelah mengatakan ancamannya, Richard melangkah meninggalkan ruangan begitu saja, diikuti oleh asisten serta sekretarisnya. Dia membanting pintu ruangan dengan sangat kuat, hingga beberapa orang yang ada di dalamnya tampak terhenyak akan apa yang dilakukan oleh Richard.
“Berikan pengumuman pada seluruh staf perusahaan. Bagi siapa pun yang bisa mendesain dengan baik, dan sesuai, unik juga bermakna, aku kan memberikan penghargaan dan hadiah secara langsung. Semua orang boleh berpartisipasi. Entah dari divisi mana pun, atau pekerjaan cleaning service sekalipun. Aku hanya ingin desain terbaik. Cih, tidak ku sangka perusahaan sebesar ini tidak memiliki desainer yang bertalenta.” ucap Richard sambil melangkahkan kaki menuju ruangannya.
Selain mengurus tentang perusahaan, kali ini Richard juga harus memikirkan rencana pembalasan untuk memaksa dalang utamanya keluar. Satu-satunya kunci yang dimiliki saat ini adalah Ben, karena hanya dialah salah satu anak buah mereka yang Rich ingat.
Richard yang kini tengah mengunjungi pamannya kini duduk bersama seorang wanita yang lebih dulu pulih. “Apa rencanamu selanjutnya?” tanya Regina.
“Aku akan menikahinya secara resmi setelah mendapatkan tender itu," jawab Rich santai.
“Kau yakin? Bukankah itu terlalu berisiko?”
“Selama ini aku membuatnya selalu berada di dekatku hanya untuk memancing mereka keluar dari sarang. Ben tidak mungkin membiarkan putrinya berada dalam bahaya, sehingga mereka akan kembali berkomunikasi. Mereka akan mencari tahu apa kelemahanku melalui orang-orang yang ku cinta. Dia mengira jika istriku adalah suatu kelemahan bagiku. Sayangnya, mereka salah. Tidak ada lagi cinta yang bisa tumbuh dalam diriku.”
__ADS_1
Ya, sejauh yang Richard tahu. Ben merupakan salah satu anak buah dari orang itu. Namun, entah karena alasan apa, Ben memilih memulai bisnis tanpa campur tangan orang tersebut. Meskipun perusahaan yang dikembangkan tidak sebesar Dday Holdings.
"Cih, kau pikir dirimu terlahir dari batu belah? Jangan sok tidak bisa mencintai wanita. Bisa jadi kau lebih menyayanginya sekarang di bandingkan mantan calon istrimu terdahulu."
"Jangan membahas kebodohanku di masa lalu!"
Wanita di samping Rich hanya mengangguk kecil. “Terserah kau saja. Hanya saja, jangan sampai kau salah langkah dan berakhir dengan penyesalan. Meskipun aku tahu kau tidak berniat bermain perasaan padanya sejak awal. Tapi rasa itu terkadang datang karena terbiasa, dan kau tidak bisa mengendalikannya sesuai dengan rencanamu.”
Richard mengangguk paham. Setelah memastikan jika keluarganya di rumah sakit baik-baik saja. Dia bergerak menuju lokasi tempat Rachel melaksanakan syutingnya, karena wanita tersebut sudah jarang datang ke perusahaan disebabkan pemotretan juga sudah terlaksana dengan baik.
Dengan seikat bunga segar di tangan. Richard duduk di bagian depan kap mobil, layaknya seorang kekasih yang tengah menunggu wanitanya bekerja.
Banyak pasang mata menatap pesona Richard dengan begitu kagum. Tidak jarang para kru perempuan atau fans yang berkumpul berhenti seDdaynak hanya untuk menyaksikan siapakah gerangan wanita yang tengah di tunggu oleh si tampan itu.
“Apa yang terjadi?” tanya Rachel pada Siska di sampingnya.
“Aku akan mencari tahu.”
Sesaat setelah keluar, Siska berlari dengan tergopoh-gopoh mendekati Rachel. Deru napasnya tidak lagi beraturan dan terdengar begitu ngos-ngosan. “Rachel, itu.”
“Itu apa? Bicara yang jelas?”
__ADS_1
“calon Suamimu menunggu di depan. Dia menjadi bunga yang dikerumuni lalat buah sekarang.”
“Apa?” Rachel sontak berdiri dari posisinya dan melangkah pergi.
Setelah mengetahui jika Richard adalah pewaris tunggal Dday Holdings, dia memang sengaja menghindari pria tersebut. Bukan tanpa alasan, semua karena Rachel merasa ditipu habis-habisan. Selain itu, dia sendiri tidak ingin melanjutkan sandiwaranya. Lagi pula keinginan awalnya sudah tercapai, di mana Rachel tidak lagi dijadikan salah satu kandidat pengisi harem Tuan Bram.
“Untuk apa kau ke sini?” tanya Rachel ketus, dan langsung menarik tangan Richard ke samping mobil.
“Aku hanya ingin menemuimu dan meminta maaf," ucap Rich dengan sebuah senyum manis di wajahnya.
“Tidak perlu. Lagi pula selama ini kita hanya bersandiwara," jawab Rachel ketus.
Bohong jika kebersamaan mereka tidak meninggalkan bekas sama sekali. Selama ini, Richard sudah berusaha mengeluarkan seluruh pesonanya secara alamiah, sehingga tidak mungkin Rachel dapat menolak begitu saja.
“Baiklah kalau begitu. Nah.” Rich menyerahkan buket bunga yang dibawanya ke pada Rachel. “Terimalah sebagai permintaan maafku. Aku tidak bermaksud membohongimu sama sekali, karena sejak awal kau sendiri yang menduganya. Seperti halnya dirimu, aku memiliki masalah sendiri dengan keluargaku. Tapi aku tidak bisa bercerita padamu sekarang, karena aku harus menemui klien." Terang Rich panjang lebar, lantas melihat jam di pergelangan tangannya.
Untuk sesaat Richard kembali tersenyum. Kedua telapak tangan kekarnya dia letakkan di pipi Rachel hingga bibir wanita tersebut mengerucut. "Sudah jangan marah lagi. Aku akan menjemputmu nanti, sekarang aku pergi dulu," pamit Rich sambil mengacak-acak rambut Rachel dan kembali mengeluarkan pesonanya sebelum meninggal wanita tersebut.
Tanpa memperhatikan reaksi Rachel yang masih tercengang, Richard memutar langkahnya dan masuk ke mobil begitu saja. Dia mengemudikan kendaraan dan melesat meninggalkan Rachel yang masih mematung seorang diri.
“Apa dia sedang mempermainkanku!” teriak Rachel frustrasi.
__ADS_1
Bagaimana bisa ada seorang pria yang begitu tidak peka akan kondisi wanita. Seharusnya di saat perempuan mengatakan tidak apa-apa, mereka akan membujuknya dengan berbagai cara. Akan tetapi, kini dirinya malah di tinggalkan seorang diri dengan rasa kesal di dada yang membuncah akibat perlakuan Richard. Dia bahkan bertingkah lebih manis dari sepasang kekasih sungguhan.