My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 42: Tikus Busuk


__ADS_3

Rachel yang kala itu selesai membereskan apartemen, memilih memesan makanan dari luar. Dia tidak mungkin menunggu pelayan rumah datang besok hanya untuk menanggung masalah yang dia buat. Bisa-bisa hancur harga dirinya sebagai wanita yang tidak tahu urusan dapur. Setelah itu dia menunggu kedatangan Richard sedari tadi, tetapi pria tersebut tidak kunjung menampakkan batang hidungnya.


"Ke mana mereka pergi," gumam Rachel.


Satu tangan Rachel menopang kepala, kelopak matanya sejenak perlahan terpejam karena hari semakin larut malam dan dia sudah terlalu lelah hari ini. Tiba-tiba saja sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel, membuat Rachel seketika tersadar dari alam mimpi. Awalnya dia tersenyum, mengira itu kabar dari Richard, sayang semua tidak seperti yang dia harapkan. Hingga lengkung kebahagiaan di wajah, kembali berubah menjadi guratan kecewa.


Rachel mencebik melihat nama sang adik yang tertera di layar, tetapi rasa penasaran menyebabkan dia segera membuka pesan tersebut. “Kenapa dia mengirim pesan malam-malam begini?”


Kedua bola mata Rachel seketika terbelalak, melihat gambar di mana orang yang dia tunggu tengah berduaan romantis dengan seorang wanita yang usianya tampak lebih tua dirinya. Mungkin wanita yang tadi menjemput Richard . “Hei! Beraninya dia melakukan ini secara terang-terangan.”


Tidak tahu fakta sesungguhnya yang terjadi, Rachel berdiri dari kursi sambil meletakkan kedua tangan di pinggang. Sesekali kembali di liriknya gambar itu, tetapi malah hatinya semakin panas saja. “Kenapa dia selalu menyukai wanita senior? Cih, mereka terlalu berpengalaman. Sia-sia saja aku menunggunya sejak tadi. Ternyata dia masih bersama wanita itu,” geram Rachel. "Tapi, di mana mereka? Jangan-jangan di hotel."


Rachel mencoba memperbesar gambar di layar, tetapi sama saja. Lokasi tokoh dalam foto tersebut tidak pernah di kenalnya. Hingga dia pun hanya bisa menghela napas panjang.


Kekesalan membuat wanita tersebut lantas memasukkan beberapa menu makanan yang dia pesan ke dalam mulut. Tidak peduli bibirnya yang monyong penuh dengan makanan, dia tetap menyuapkan terus menerus begitu saja sampai mulutnya benar-benar penuh.


Amarah, serta rasa sedikit cemburu membuat Rachel menggerutu tidak karuan seorang diri. “Bukankah aku sudah memperingatkannya untuk tidak lagi menjadi gigolo selama perjanjian kami. Cih apa dia sedang begitu membutuhkan uang sampai-sampai melanggar janjinya sendiri," kesal Rachel sampai-sampai beberapa kunyahan makanan melayang-layang dari mulutnya.


Akan tetapi, lagi-lagi dia memasukkan makanan masuk ke mulut. Meskipun menggerutu sendirian, sambil mengunyah makanan, tetapi kekesalan karena penantiannya yang ternyata tidak berbuah manis masih terus mengganjal di hatinya.


“Sialan!” umpat Rachel membanting sendok yang dipegangnya.


Kesal serta rasa cemburu yang melanda, menyebabkan Rachel lantas berdiri dari posisinya dan bergerak menuju kamar. Lebih baik dia tidur, daripada mengkhawatirkan orang yang mungkin tengah bercumbu dengan wanita lain di luar sana. “Tenang saja. Aku bukanlah istri bodoh yang mau menunggu pria sialan sepertimu!” gerutu Rachel sambil membanting pintu kamarnya sendiri dengan sangat kuat.

__ADS_1


Keesokan harinya, Rachel yang tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan Richard, memilih memulai hari dengan bekerja. Dia hendak berangkat ke Ddays Holdings, sayangnya malah dikejutkan dengan kehadiran Roy di depan pintu apartemennya. “Apa yang kamu lakukan di sini?”


“Rachel, dengarkan aku dulu! Aku meminta maaf atas apa yang terjadi di masa lalu. Tapi bisakah kita kembali bersama,” ucap Roy berusaha meraih tangan Rachel.


Dengan segera wanita tersebut menepisnya, salah satu sudut bibirnya terangkat mengeluarkan ekspresi jijik akan tindakan yang dilakukan oleh pria di depannya saat ini. “Kau tidak berhak meminta maaf dariku. Lagi pula kalian saling mencintai. Jadi untuk apa kau di sini. Ah, apa kau lupa, aku sudah bahagia dengan calon suamiku,” sinis Rachel berusaha melangkah menjauh dan menghiraukan kehadiran Roy.


Akan tetapi, tampaknya Roy tidak ingin berhenti di situ saja. Dia yang awalnya mengira Rose akan menjadi penerus selanjutnya Sunday Group, kini mulai berpikir ulang, karena tidak sengaja mendengar Ben memberikan sahamnya atas nama Rachel, meskipun wanita tersebut tidak pernah menginjakkan kakinya di perusahaan. Artinya masa depan Rachel akan lebih terjamin di bandingkan Rose.


“Aku tahu kau belum bisa melupakan aku. Kau bersamanya pasti hanya sebuah sandiwara. Bukan hal yang mudah bagimu untuk berpaling dari kisah kita yang sudah berjalan lima tahun lamanya.”


“Itu hanyalah angan-anganmu. Faktanya aku tidak peduli sama sekali dengan tikus busuk yang sudah mengotori hidupku. Ya, kisah kita mungkin terlalu lama terjalin, tapi semua itu tidak ada artinya apa-apa bagiku, karena kau hanyalah seekor tikus busuk yang harus segera ku buang sebelum menggerogoti apa yang ada dalam diriku lalu membunuhku perlahan dengan virus- virus kotormu.” Setelah memberikan kata-kata menyakitkan, lift pun terbuka. Rachel memilih segera melangkah pergi.


Roy hendak mengikutinya, tetapi dengan cepat wanita tersebut malah menendang perutnya, hingga Roy terjengkang ke belakang.


“Apa yang kau lakukan?” teriak Roy marah sambil terduduk di lantai.


Tidak mengira jika wanita yang manja yang sebelumnya hanya bisa merepotkan saja, kini berubah menjadi kucing liar yang begitu sulit untuk di taklukkan. “Lihat saja nanti, aku pasti akan mendapatkanmu kembali!” gumamnya dengan sorot tajam.


Bukan cinta yang Roy inginkan dari Rachel, melainkan posisi menggantikan Ben yang jelas hanya akan di tempati oleh Rachel, atau suaminya, dan Roy tidak akan membiarkan Richard mengambil kesempatan itu.


Rachel yang tiba di Dday Holdings lantas menghampiri resepsionis seperti biasa. Namun, beberapa pria dan wanita yang tampaknya merupakan petinggi perusahaan tersebut, terlihat bergerak dengan begitu tergesa-gesa memasuki perusahaan.


“Apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Rachel di saat menuliskan sesuatu di meja resepsionis itu.

__ADS_1


Resepsionis tersebut lantas mendekatkan kepalanya sedikit dan berbisik pada wanita di hadapannya. “Tuan Reymond mengalami kecelakaan hebat, entah bagaimana kondisinya sekarang. Tapi yang jelas perusahaan akan mengalami krisis tanpa adanya pemimpin,” bisiknya.


Rachel yang terkejut hingga ternganga menutup mulut tidak percaya, tetapi sang resepsionis meletakkan jemarinya di bibir sebagai tanda jika dia harus diam. Tentu saja Rachel mengangguk paham. Sejauh yang dia tahu, Reymond merupakan anak tunggal yang sampai sekarang belum juga menikah, sedangkan ayahnya sudah berusia lanjut. Tanpa adanya saudara dan penerus, lalu siapa yang akan mengarahkan jalannya perusahaan ini.


Mungkin bisa saja mereka akan mengangkat CEO lain sementara, tetapi tentu keputusan tidak bisa di ambil secepat itu. Mereka harus benar-benar menimbang dengan baik, siapa yang bisa mengemban tanggung jawab akan proyek yang sudah dan akan terjalin, juga memikirkan nasib para karyawan di perusahaan sebesar itu, sehingga para petinggi perusahaan tentunya akan sedikit kerepotan kali ini.


Rachel yang hanya tahu jika hari ini pemotretannya masih seperti yang dijadwalkan segera pergi ke bagian yang di tentukan. Masalah di Dday Holdings tidak ada kaitannya dengan dia, jadi untuk apa repot-repot memikirkannya, lagi pula bukan urusannya juga. Hanya saja, dia tidak mengira jika pria yang mengantarnya beberapa hari yang lalu akan memiliki nasib semalang itu.


Di rumah sakit, seorang wanita tengah menyamar sebagai perawat. Dia mengenakan pakaian salah satu pekerja yang dia ambil tadi, dan mengenakan masker layaknya seorang perawat pada umumnya. Wanita tersebut berjalan sambil mendorong sebuah troli berisikan alat medis, dua penjaga di depan pintu terlihat menahannya sebelum masuk.


“Apa ini waktunya pengecekan?” tanya seorang penjaga kekar di depan pintu.


Wanita tersebut mengangguk, sedangkan sang penjaga memastikan terlebih dahulu jika alat yang dibawa wanita tersebut tidak ada yang mencurigakan. Setelah dirasa aman, barulah keduanya mempersilakan sang wanita untuk memasuki ruangan.


Tidak ada satu pun orang yang menunggu Reymond di dalam. Day saat ini tengah berada di perusahaan untuk memberikan sedikit arahan karena terjadi kekosongan pemimpin, sedangkan Richard tengah berada di ruangan dokter untuk mengurus surat-surat yang perlu ditandatangani sebelum melakukan operasi hari ini. Mengingat dia harus mengalihkan perhatian sang kakek terlebih dahulu agar tidak semakin syok nantinya.


Di balik masker yang dikenakan, wanita tersebut tersenyum puas melihat kondisi pria di hadapannya yang kini terbaring tidak berdaya dengan segala alat penopang kehidupan. Tangannya bergerak menyentuh tubuh itu secara perlahan karena merasa aman dan tidak ada satu pun orang di sana. “Malangnya nasibmu Reymond. Tapi tenang saja, aku akan memberikan dirimu tempat yang layak setelah ini.”


Tanpa ragu, wanita tersebut membuka sedikit maskernya. Dia menunduk, sedikit membungkuk dan mengecup pipi Reymond cukup lama. “Apa kau merindukan aku? Aku sangat merindumu?” bisiknya di telinga pria itu.


Di luar ruangan, seorang perawat asli yang seharusnya mengecek kondisi Reymond hari itu tiba, tetapi kedua penjaga di luar malah saling berpandangan karena bingung dengan situasi yang terjadi. Hingga sedetik kemudian, wanita yang selama ini selalu mengikuti Richard datang karena merasakan firasat buruk.


“Apa yang terjadi?” tanya wanita itu.

__ADS_1


“Dia mengaku sebagai perawat yang mengecek kondisi Tuan Reymond. Tapi di dalam-”


Dengan perasaan khawatir wanita tersebut langsung membuka pintu ruangan. Dia melihat seorang perawat lainnya yang menyentuh Reymond seketika membelalakkan mata. “Siapa kau?”


__ADS_2