
Setelah kembali dari kediaman Ben, Richard benar-benar menunggu Rachel di lokasi syuting. Pria itu melambai lembut di kala melihat wanitanya selesai bekerja, sembari tersenyum manis bak pasangan kasmaran pada umumnya. “Sudah selesai?” tanya Richard ramah.
Rachel hanya mengangguk kecil, lagi-lagi Richard menyapa dengan hal yang tidak pernah Rachel duga sebelumnya. Pria itu mengecup dahi Rachel sejenak, sebelum melangkah membukakan pintu untuk Rachel.
“Ayo ikut aku!” ucap Richard.
Rachel tidak bisa, untuk tidak heran dengan perlakuan Richard saat ini. Biasanya dia yang selalu berinisiatif melakukan sesuatu. Namun, kenapa semenjak mengakui dirinya sebgai pewaris, Richard malah berlaku manis. Di sisi lain, para wanita yang melihat tingkah keduna tentu saja tidak bisa membiarkan momen berlalu begitu saja. Mereka bukan hanya mengambil gambar, tetapi juga memposting kemesraan pasangan tersebut di media sosial masing-masing.
”Kita akan ke mana?” tanya Rachel heran. Jalan yang kini mereka lalui bukanlah suatu tempat menuju apartmennya, melainkan lebih seperti ke pusat kota. Lagi-lagi bukan jawaban yang Rachel terima, melainkan sebuah senyum manis yang tidak pernah Richard berikan padanya sebelumnya.
“Nanti kau juga akan tahu.”
Tidak lama kemudiaan, keduanya tiba di tempat parkir sebuah restoran mewah. “Kau lapar?” tanya Rachel mengerutkan dahi.
Sayangnya, lagi-lagi pria itu hanya diam. Dengan santai Richard keluar dari kendaraan dan berbalik membukakan pintu mobil untuk Rachel. Tangannya terulur menyambut wanita yang kini berekspresi bingung tersebut. “Tunggu apa lagi, ayo!”
Mau tidak mau, Rachel hanya bisa menurut. Keduanya melangkah menuju restoran tersebut. Namun, Rachel harus dibuat bingung karena tempat itu sangatlah sepi dan gelap. “Sepertinya mereka sedang tutup,” bisik Rachel.
Akan tetapi, sedetik kemudian, lampu menyala dengan sangat terang, menampakkan pemandangan romantis bak sebuah kejutan spesial. Bahkan jalan yang keduanya lalui bertabur kelopak bunga putih, bukan bunga setaman tentunya. Di sela keterkejutan, Rachel menutup mulutnya yang ternganga dengan kedua tangan. Meskipun kaya dan cantik, tetapi baru kali ini Rachel mendapatkan kejutan seindah ini dari orang lain, selain para penggemar yang suka memberikan hadiah tentunya.
__ADS_1
Bahkan Roy selama lima tahun menjalin hubungan tidak pernah memberikan dia kejutan sama sekali. Kecuali kejutan perselingkuhan.
Perlahan keduanya melangkah menuju sebuah meja yang sudah dipersiapkan. Hanya ada satu di tempat tersebut seolah Richard memang sengaja menyiapkannya untuk acara malam ini. Iringan musik klasik mulai terdengar, membuat suasanya semakin indah untuk di kenang.
Tanpa ragu Richard memundurkan kursi dan mempersilakan Rachel untuk duduk. “Apa kau sengaja melakukan ini untuk memamerkan kekayaanmu?”
Pertanyaan absurd yang keluar dari mulut Rachel, hanya di tanggapi gelengan kepala dan tawa kecil begitu saja oleh Richard. Wanita di hadapannya saat ini memang suka sekali menilai sesuatu dari sisi negatifnya, di bandingkan dengan yang lainnya.
Tak lama setelahnya, sebuah troli terdengar mulai mendekati keduanya. Sebuah kue ulang tahun yang sangat indah berwarna merah hati lengkap dengan lilin yang menyala bertengger di atasnya. Alunan lagu berubah menjadi ucapan selamat tahun untuk Rachel, lagi-lagi dia tidak bisa membendung keterkejutannya kali ini.
“Bagaimana kau bisa tahu hari ulang tahunku?” tanya Rachel seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dapatkan.
“Tiup saja lilinnya, dan buatlah permintaan. Aku tidak bisa memberikan kata-kata yang romantis untukmu, jika kau menunggu itu. Hanya ini yang bisa aku lakukan.”
Kedua tangan Rachel satukan, berharap Tuhan mengabulkan permintaannya yang tulus. Kedua mata wanita tersebut terpejam untuk waktu yang cukup lama, hingga tidak lama kemudian, barulah dia mulai membuka mata dan meniup lilin yang masih menyala itu.
“Kenapa kau memohon lama sekali? Tidakkah kau kasian pada Tuhan yang nantinya akan bingung mau mengabulkan permintaanmu yang mana dulu.”
“Aku yakin, Dia akan mewujudkan semua keinginanku. Jangan banyak bertanya dan merusak kebahagiaanku dengan pertanyaan konyolmu. Ayo makan!” Keduanya lantas memulai acara makan malam dengan menu yang sudah di pesan oleh Richard tentunya.
__ADS_1
Biasanya Rachel tidak terlalu menyukai makanan mewah. Hanya saja, karena Richard yang menyiapkan semua ini. Tentu saja Rachel tidak akan menolaknya, apalagi baru kali ini hubungan keduanya benar-benar terlihat sangat romantis.
Setelah keduanya selesai makan, mereka pun kembali ke mobil. Di dalam Richard menggenggam tangan Rachel dan mengecup punggung tangannya perlahan, membuat wanita tersebut membeku karena tingkahnya. Apalagi yang ingin Richard lakukan kali ini.
“Rich.”
“Maaf aku tidak bisa berbuat selayaknya pria romantis pada umumnya untukmu.”
“Cih, aku malah jadi merinding kalau kau berbuat romantis,” ucap Rachel sambil mengusap kedua bahunya secara menyilang seolah bulu kuduknya baru saja berdiri.
Rich mengambil mantel tebal miliknya di bagian belakang mobil. Dia lantas mengenakan benda tersebut ke tubuh Rachel tanpa ragu, benar-benar terlihat seperti pasangan romantis pada umumnya. “Jangan sampai kau masuk angin!”
Bukannya terharu, Rachel malah memegang dahi Rich dengan punggung tangannya. “Tidak panas! Tapi kenapa kau bertingkah sangat aneh hari ini?”
“Anggap saja semua itu sebagai permintaan maaf dariku karena selama ini sudah memperlakukanmu dengan sangat tidak baik. Ayo pulang!” Perlahan Rich mulai menyalakan mesin, dan mengemudikan kendaraan menuju apartemen Rachel.
Bukan tanpa alasan Richard bertingkah seperti itu. Dia jelas tahu jika ada orang lain yang saat ini mencari tahu tentang dirinya dan tidak segan-segan untuk mengikutinya. Karena setelah sekian lama, dalang di balik semua itu tidak kunjung terlihat, Richard hanya bisa menjadikan Rachel sebagai umpan. Musuh yang licik selalu menyerang dari belakang. Mereka akan bertindak pada orang-orang terkasih di sekitarnya. Hanya dengan cara ini, Ben yang menjadi sebuah kunci bagi Rich pun akan bertindak nantinya dan mengakui siapa saja mereka yang harus dia waspadai.
Mengetahui hari ini merupakan hari yang spesial bagi Rachel, Richard dengan sengaja mengatur segalanya agar terlihat lebih natural. Di satu sisi, Rachel akan semakin terpikat olehnya, sedangkan di sisi lain, mereka akan diam-diam mengawasi Rachel tanpa dia duga.
__ADS_1
Meskipun terlihat kejam dengan menempatkan Rachel dalam posisi bahaya, tetapi Richard sangat tahu jika Ben hanya ingin melindungi putrinya, dengan hanya memerlihatkan kebencian dan tidak menjadikan Rachel pusat perhatian. Jangan salahkan Richard yang bertingkah jahat, dia hanya melakukan metode yang sama dengan Ben. Hanya saja, dia berpura-pura mencintai Rachel agar mereka mengira keduanya benar-benar sepasang kekasih yang harmonis, sedangkan mereka akan otomatis mengincar Rachel nanti.
Richard mengemudikan kendaraan sambil sesekali melirik kaca spion. Mobil hitam di belakang masih saja terus mengikutinya sejak tadi. Sebuah seringai miring tampak terlukis di wajah Rich, yang juga melirik sinis wanita di samping. “Akhirnya kalian mulai menunjukkan bulu hidung,” batin Richard melihat Rachel tampak tertidur lelap di sampingnya.